Industri Petrokimia Tangguhkan Penjualan Imbas Konflik Timur Tengah

Industri Petrokimia Tangguhkan Penjualan Imbas Konflik Timur Tengah

Industri petrokimia Indonesia menangguhkan penjualan akibat konflik Timur Tengah yang mengganggu pasokan bahan baku. Chandra Asri umumkan force majeure.

(Bisnis.Com) 05/03/26 10:25 155753

Bisnis.com, JAKARTA - Eskalasi konflik di Timur Tengah memicu gangguan pasokan bahan baku untuk industri petrokimia. Para pelaku usaha dalam negeri pun mengambil langkah mitigasi dengan melakukan penyesuaian produksi hingga menangguhkan penjualan.

Serangan Amerika Serikat (AS)-Israel terhadap Iran pada akhir pekan lalu, dilaporkan telah mengganggu arus kapal tanker di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dan gas alam cair dunia. Sejumlah pengiriman bahan baku petrokimia, termasuk nafta, terdampak akibat meningkatnya risiko keamanan.

Imbas situasi tersebut, Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) mengungkapkan bahwa pelaku industri memutuskan untuk menghentikan sementara aktivitas penjualan sambil menghitung ulang risiko pasokan dan logistik. Penangguhan penjualan ini juga untuk menghindari gejolak harga dan spekulasi pasar.

“Kita setop jualan dulu sambil menghitung ulang dampak logistiknya,” ujar Sekretaris Jenderal Inaplas Fajar Budiyono kepada Bisnis, Rabu (4/3/2026).

Fajar mengatakan, sekitar 70% pasokan nafta untuk kebutuhan industri petrokimia dalam negeri berasal dari kawasan Timur Tengah. Ketergantungan tinggi ini membuat industri Tanah Air rentan ketika terjadi gangguan geopolitik maupun hambatan logistik di jalur pelayaran utama.

Fajar mengakui dampak konflik terhadap pasokan bahan baku tidak bisa dihindari dan kini industri sedang menghitung ulang ketahanan stok yang tersedia.

“Kalau ini kelamaan, feedstock kita bisa tipis dan itu berpengaruh ke kelangsungan produksi,” katanya.

Di sisi lain, upaya substitusi pasokan bahan baku tidak sepenuhnya mudah karena spesifikasi light naphtha dari Timur Tengah sulit tergantikan oleh kilang lain, khususnya di kawasan Asia yang ketersediaannya terbatas.

Situasi ini membuat pelaku industri mulai memetakan potensi bahan baku alternatif dalam negeri, termasuk kondensat yang sesuai spesifikasi untuk diolah menjadi produk petrokimia.

Dalam hal ini, kondensat dapat menjadi alternatif dengan diolah di kilang (condensate splitter) untuk menghasilkan nafta, yang kemudian menjadi bahan baku utama di unit steam cracker.

Namun, langkah tersebut masih memerlukan koordinasi intensif dengan pemerintah.

“Kita coba minta pemerintah duduk bareng untuk pengamanan feedstock dalam negeri, kondensat yang sesuai spek kita manfaatkan semaksimal mungkin,” kata Fajar.

Chandra Asri Umumkan Kondisi Kahar

Produsen petrokimia terintegrasi terbesar di Indonesia, PT Chandra Asri Pacific Tbk., bahkan telah menyampaikan pemberitahuan force majeure atau keadaan kahar kepada mitra usahanya imbas gangguan pasokan bahan baku.

Industri Petrokimia Tangguhkan Penjualan Imbas Konflik Timur Tengah

Direktur Sumber Daya Manusia & Urusan Korporat Chandra Asri Group Suryandi mengatakan, pihaknya telah mengumumkan terkait kondisi kahar atau keadaan darurat kepada mitra usaha

“Sehubungan dengan konflik militer di kawasan Selat Hormuz, Timur Tengah, yang berdampak pada kelancaran distribusi bahan baku dalam rantai pasok, Perusahaan telah menyampaikan pemberitahuan force majeure kepada mitra usaha sesuai ketentuan kontraktual yang berlaku,” kata Suryandi dalam keterangan yang diterima Bisnis, Rabu (4/3/2026).

Pemberitahuan force majeure, lanjutnya, merupakan langkah administratif yang dilakukan secara terukur. Keputusan itu diambil setelah perusahaan melakukan kajian menyeluruh atas potensi implikasi terhadap pemenuhan kewajiban kepada pelanggan, sekaligus bentuk transparansi perusahaan.

Chandra Asri mengandalkan pasokan feedstock impor untuk mendukung operasionalnya. Gangguan distribusi global berpotensi memengaruhi stabilitas produksi dalam negeri.

“Kami secara aktif memantau perkembangan situasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang terus berkembang dan mengambil langkah antisipatif untuk memastikan ketahanan operasional di seluruh unit bisnis kami,” tuturnya.

Sebagai bagian dari mitigasi, perusahaan akan menyesuaikan tingkat operasional atau run rates di sejumlah pabriknya. Penyesuaian ini dilakukan untuk menjaga keseimbangan antara pasokan bahan baku dan kebutuhan produksi.

Selain itu, koordinasi dengan pelanggan terus dilakukan guna meminimalkan dampak terhadap pengiriman produk. Perusahaan berupaya menjaga kelancaran distribusi di tengah dinamika pasar global.

“Dalam kondisi global yang dinamis ini, kami berkomitmen menjaga kesinambungan operasional, ketahanan bisnis serta terus mengevaluasi potensi dampak terhadap kegiatan usaha kami,” ujar Suryandi.

Chandra Asri mengoperasikan kompleks petrokimia terintegrasi yang memproduksi olefin dan poliolefin, bahan baku penting bagi industri manufaktur dan plastik. Perusahaan juga memiliki aset kilang serta fasilitas kimia hilir di Singapura melalui skema joint venture.

Asetnya mencakup kilang berkapasitas sekitar 237.000 barel per hari dan fasilitas naphtha cracker 0,9 juta metrik ton per tahun. Skala operasi ini membuat perusahaan sensitif terhadap gangguan rantai pasok global.

#timur-tengah #konflik-timur-tengah #industri-petrokimia #gangguan-pasokan #bahan-baku-petrokimia #selat-hormuz #nafta #inaplas #penangguhan-penjualan #feedstock #chandra-asri #force-majeure #distribus

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260305/257/1957960/industri-petrokimia-tangguhkan-penjualan-imbas-konflik-timur-tengah