Ukuran Celana Naik? Hati-hati Tanda Awal Obesitas Sentral
Ukuran celana naik bisa jadi tanda awal obesitas sentral, yang meningkatkan risiko penyakit serius. Pantau kesehatan dengan cek IMT dan lingkar pinggang.
(Bisnis.Com) 04/03/26 14:45 154812
Bisnis.com, JAKARTA - Ukuran celana yang tiba-tiba terasa sempit sering kali dianggap hal sepele oleh sebagian orang. Padahal, kenaikan nomor celana bisa menjadi sinyal awal terjadinya penumpukan lemak di area perut atau lebih dikenal sebagai obesitas sentral.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi mengatakan berbeda dengan kenaikan berat biasa, obesitas sentral berfokus pada penumpukan lemak di sekitar rongga perut atau lemak visceral. Lemak jenis ini lebih berbahaya karena berkaitan erat dengan peningkatan risiko penyakit tidak menular lainnya.
"Obesitas sentral itu paling gampang dilihat dari ukuran celana. Makanya waktu itu Pak Menteri (Budi Gunadi Sadikin, Red) bilang ukurannya disuruh di bawah 34 kan," katanya dalam Media Briefing Nutrifood bertajuk Cermat Memilih Pangan Olahan untuk Mencegah Obesitas di Jakarta Pusat, Selasa, (4/3/2026).
Siti Nadia menyebut angka prevalensi obesitas dan obesitas sentral di Indonesia tergolong tinggi. Gambaran tersebut merujuk pada hasil Program Cek Kesehatan Gratis yang berlangsung sepanjang Februari hingga Desember 2026.
Dari total 33.706.219 orang yang menjalani skrining Indeks Massa Tubuh (IMT), tercatat 24.801.301 orang berada dalam kategori normal. Sementara itu, 4.001.095 orang masuk kategori obesitas, 3.531.887 orang overweight, dan 1.371.936 orang tergolong underweight.
"Obesitas ini mengambil porsi 11,87 persen," jelasnya.
Sementara itu, dari total 34.169.548 peserta yang menjalani skrining lingkar perut, tercatat 11.585.251 orang berada dalam kategori normal. Sisanya, ada 8.150.419 orang teridentifikasi mengalami obesitas sentral atau setara dengan proporsi mencapai 23,85 persen.
Melihat angka tersebut, pihaknya mengimbau masyarakat untuk lebih rutin memantau kondisi kesehatan tubuh. Salah satu cara paling sederhana yang bisa dilakukan, menurutnya, adalah memperhatikan perubahan ukuran celana sebagai indikator awal potensi risiko obesitas sentral.
Selain memantau lingkar pinggang atau ukuran celana, masyarakat juga dapat mengecek Indeks Massa Tubuh (IMT). Dia menambahkan, pemerintah saat ini juga telah menyediakan program Cek Kesehatan Gratis yang dapat dimanfaatkan setiap tahun sebagai langkah deteksi dini dan pemantauan kondisi kesehatan secara berkala.
Siti Nadia menyarankan agar masyarakat yang telah mengetahui dirinya terindikasi obesitas segera melakukan intervensi, sehingga berat badan dapat kembali berada dalam rentang normal. Namun, dengan cara-cara yang sehat.
Dia mengingatkan, jika kondisi ini dibiarkan terlalu lama, obesitas berpotensi memicu berbagai komplikasi serius. Sebab, obesitas dapat meningkatkan kerentanan terhadap beragam penyakit, mulai dari stroke, gagal jantung kongestif, dan penyakit jantung iskemik, hingga PCOS, depresi berat, diabetes, perlemakan hati, gangguan tidur, hipertensi, serta osteoartritis lutut.
"Obesitas sering disebut sebagai “mother of disease” karena menjadi pintu masuk berbagai penyakit," imbuhnya.
#ukuran-celana #obesitas-sentral #lemak-perut #risiko-penyakit #pencegahan-obesitas #lingkar-pinggang #indeks-massa-tubuh #cek-kesehatan-gratis #komplikasi-obesitas #penyakit-tidak-menular #lemak-visce