Industri Cokelat Artisan Terkendala Krisis Pasokan Biji Kakao Fermentasi

Industri Cokelat Artisan Terkendala Krisis Pasokan Biji Kakao Fermentasi

Industri cokelat artisan Indonesia terkendala pasokan biji kakao fermentasi, kesulitan mendapatkan bahan baku berkualitas dengan harga kompetitif.

(Bisnis.Com) 19/02/26 19:25 141281

Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Chocolate Bean to Bar Indonesia (ACBI) menyoroti keterbatasan bahan baku kakao fermentasi yang menjadi tantangan utama bagi pelaku industri cokelat artisan di dalam negeri. Alhasil, para artisan sulit mendapatkan bahan baku berkualitas dengan harga yang kompetitif.

Ketua Umum ACBI Olivia Putri Prawiro mengatakan, keterbatasan pasokan tersebut memang dirasakan langsung oleh para anggota asosiasi. Terlebih, segmen bean to bar mengutamakan kualitas biji kakao fermentasi sebagai bahan utama produksi.

“Terkait keterbatasan bahan baku untuk artisan chocolate memang betul terbatas sehingga chocolate makers kesulitan mencari bahan baku dengan kualitas baik dan harga yang bersaing,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (19/2/2026)

Olivia menegaskan pihaknya tetap berkomitmen menggunakan biji kakao fermentasi asal Indonesia. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk dukungan terhadap petani lokal sekaligus menjaga karakter rasa khas kakao Nusantara.

Namun, untuk meningkatkan daya saing cokelat artisan Indonesia, masih banyak aspek yang perlu dibenahi. Mulai dari perbaikan kualitas dan kuantitas bahan baku, stabilitas harga, hingga sistem logistik pengiriman yang efisien di negara kepulauan seperti Indonesia.

“Untuk meningkatkan daya saing, masih banyak yang harus dibenahi, dari bahan baku, kualitas, harga, kuantitas, logistik pengiriman yang seringkali sulit karena Indonesia negara kepulauan,” tuturnya.

Selain persoalan teknis, dia menilai pemahaman terkait pengolahan kebun kakao juga perlu ditingkatkan. Edukasi kepada petani mengenai praktik fermentasi yang baik menjadi kunci agar kualitas biji kakao dapat memenuhi standar industri artisan.

Di sisi lain, edukasi kepada masyarakat juga dinilai penting agar konsumen lebih mengenal dan menghargai cokelat lokal. Selama ini, banyak masyarakat yang belum memahami perbedaan antara cokelat artisan berbasis bean to bar dengan produk cokelat massal.

“Untuk prospek pertumbuhan chocolate artisan masih potensial. Namun, memang butuh support, terutama untuk edukasi dan pemasaran agar masyarakat Indonesia lebih paham, familiar, dan bangga dengan cokelat lokal," terangnya.

ACBI optimistis dengan dukungan kebijakan, penguatan sektor hulu, serta kampanye edukasi yang masif, industri cokelat artisan Indonesia dapat tumbuh lebih kuat dan berdaya saing, sekaligus mengangkat citra kakao Indonesia di pasar domestik maupun global.

Sebelumnya, Direktur Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika mengatakan, keterbatasan pasokan bijih kakao menjadi salah satu tantangan yang masih dihadapi pelaku usaha beberapa tahun ke belakang.

Padahal, industri ini memiliki potensi pengembangan yang signifikan. Kendati demikian, dengan kondisi rantai pasok bahan baku yang tersendat ini menyebabkan industri berkurang.

"Di 2011 kita mempunyai 19 industri pengolahan kakao, nah karena bahan bakunya menurun, sampai sekarang sebagian kita impor bahan bakunya itu sekarang tinggal 11 industri jadi tidak bisa beroperasi lagi sebagian itu," jelasnya.

#cokelat-artisan #kakao #cokelat

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260219/257/1954001/industri-cokelat-artisan-terkendala-krisis-pasokan-biji-kakao-fermentasi