Alokasi Investasi Dana Pensiun Geser dari Saham ke SBN-Deposito, Begini Respons OJK
OJK menyatakan alokasi investasi dana pensiun bergeser dari saham ke SBN dan deposito karena volatilitas pasar. Perubahan ini bertujuan menjaga stabilitas dana.
(Bisnis.Com) 23/10/25 15:05 13383
Bisnis.com, JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengatakan alokasi investasi di industri dana pensiun merupakan kewenangan masing-masing perusahaan asalkan sesuai ketentuan yang telah diterbitkan OJK.
Hal tersebut disampaikan Kepala Eksekutif Pengawasan Perasuransian, Penjaminan dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono kala menanggapi alokasi investasi di industri dana pensiun per Juli 2025 mengalami pergeseran.
Ogi menyebut misalnya BPJS Ketenagakerjaan, PT Asabri (Persero), dan PT Taspen (Persero) punya aturan lebih baku yakni minimal harus sekitar 50% mengalokasikan dana di Surat Berharga Negara (SBN). Namun, sisanya dikembalikan ke tiap-tiap perusahaan.
“Jadi memang betul bahwa sebagian besar itu masih di SBN dan juga di deposito, sementara yang lainnya itu sedikit,” ungkapnya seusai acara Indonesia Pension Fund Summit (IPFS) 2025, di Tangerang Selatan, Kamis (23/10/2025).
Dia meneruskan memang bila dana pensiun ingin menyimpan asetnya dalam instrumen di luar SBN dan deposito, itu benar-benar harus penuh dengan kehati-hatian.
Sebelumnya, dia sempat merincikan proporsi investasi asuransi yang terdiversifikasi pada berbagai instrumen dengan SBN menjadi penempatan paling dominan sebesar 50,38%, deposito sebesar 25,8%, dan saham sebesar 15,8%.
“Perubahan variabel ekonomi utama termasuk suku bunga menjadi bagian pengelolaan investasi oleh berbagai pilar tata kelola di perusahaan baik manajemen, dewan komisaris maupun komite-komite sehingga dapat memengaruhi perubahan/peralihan jenis investasi,” ucapnya dalam lembar jawaban RDK Agustus 2025, (17/9/2025).
Sementara itu, Ketua Asosiasi Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) Tondy Suradiredja berpendapat volatilitas pasar saham yang cenderung tinggi menjadi faktor utama dana pensiun menggeser alokasi investasinya.
“Bila dibandingkan deposito ataupun SBN yang menawarkan tingkat stabilitas dan risiko yang lebih rendah. Prioritas dana pensiun adalah menjamin ketersediaan dana pada masa pensiun,” ujarnya kepadaBisnis, Rabu (22/10/2025) malam.
Tondy menilai strategi tersebut bersifat sementara dalam konteks merespons terhadap volatilitas tahun ini. Namun, kurang lebih dalam tiga tahun ke depan bisa terintegrasi sebagai arah jangka menengah untuk menjaga keseimbangan risiko imbal hasil selama kondisi pasar dan ekonomi belum sepenuhnya stabil.
“Strategi ini dilakukan untuk mengelola risiko secara hati-hati (prudent) untuk kembali meningkatkan alokasi pada aset pertumbuhan,” tutupnya.
Sebagai informasi, berdasarkan data OJK per Juli 2025 portofolio saham industri dana pensiun turun 9,82% (year on year/YoY) menjadi Rp23,2 triliun.
Sebaliknya, penempatan aset di deposito berjangka justru melonjak 20,24% (YoY) menjadi Rp101,64 triliun. Adapun, penempatan di surat berharga negara (SBN) naik 2,76% menjadi Rp138 triliun.
#investasi-dana-pensiun #alokasi-investasi #ojk-dana-pensiun #sbn-deposito #investasi-saham #bpjs-ketenagakerjaan #pt-asabri #pt-taspen #indonesia-pension-fund-summit #volatilitas-pasar-saham #strategi