Sinyal Positif Fitch Ratings, Peringkat Investasi INA Tetap Stabil di BBB
Fitch Ratings mempertahankan peringkat BBB INA, mencerminkan dukungan kuat pemerintah dan kinerja keuangan positif.
(Bisnis.Com) 06/02/26 09:07 127793
Bisnis.com, JAKARTA – Lembaga pemeringkat Fitch Ratings kembali mempertahankan peringkat mata uang asing jangka panjang dan Lokal Issuer Default Ratings (IDR) Indonesia Investment Authority (INA) pada level ‘BBB’. Sementara itu, Fitch Ratings memberikan peringkat ‘F2’ pada pemeringkatan mata uang asing jangka pendek lembaga tersebut.
Hal itu disampaikan oleh Fitch Ratings pada Selasa (3/2/2026). Pemeringkatan itu mencerminkan penilaian Fitch yang tidak berubah berdasarkan kriteria pemeringkatangovernment-related entity(GRE).
INA dinilai memiliki keterkaitan kredit dengan pemerintah Indonesia dan memiliki posisi strategis untuk dapat membangun kekayaan masyarakat dan mendukung pembangunan ekonomi nasional melalui investasi sebagaisovereign wealth fund(SWF).
“Hal ini menghasilkan kemungkinan dukungan negara yang hampir pasti bagi entitas tersebut jika diperlukan, sehingga mendorong penyetaraan peringkat INA dengan peringkat pemerintah,” katanya, dikutip Jumat (6/2/2026).
Dalam penilaian Fitch berdasarkan kriteria GRE, INA disebut mendapatkan skor 45/60 yang menunjukkan bahwa dukungan pemerintah Indonesia terhadap INA cukup besar. Skor tersebut mencerminkan penilaian Fitch atas kombinasi faktor tanggung jawab dan insentif untuk mendukung kepada INA. Skor ini terlepas daristandalone credit profileINA.
Selain itu, penilaian tersebut juga mencerminkan keselarasan strategis mandat investasi INA dengan agenda pemerintah, yang menargetkan sektor-sektor prioritas yang selaras dengan prioritas pembangunan nasional. Penilaian itu sekaligus mempertahankan fleksibilitas INA untuk merespons peluang pasar dan kondisi makroekonomi yang tengah berkembang.
Secara fundamental, kinerja keuangan INA sepanjang 9 bulan 2025 juga telah mencapai Rp7,6 triliun, tumbuh dari Rp5,9 triliun sebagai pendapatannya pada 2024. Kenaikan itu didorong oleh keuntungan atas investasi dan sebagian besar pendapatan INA masih berasal dari dividen Bank Mandiri dan BRI. Kontribusi dividen perbankan terhadap pendapatan INA bahkan mencerminkan 61% dari total pendapatannya.
“Arus dividen yang stabil ini tetap menjadi sumber utama pendapatan berulang bagi INA, mendukung kebutuhan operasional dan kapasitasnya untuk investasi lebih lanjut. INA terus bergantung terutama pada ekuitas dan dana investor untuk memperluas portofolio investasinya, bukan pembiayaan utang,” katanya.
INA juga dinilai memiliki kemitraan dengan institusi internasional ternama yang telah berkomitmen untuk berinvestasi senilai US$25 miliar di Indonesia. Hanya saja, INA bukan tanpa risiko.
Fitch menilai bahwa gagal bayar oleh INA, kendati utangnya masih terbatas, dapat melemahkan akses pendanaan bagi pemerintah pusat dan GRE lainnya. Visibilitas INA dan keterlibatannya yang erat dengan investor global dapat membuat aksi gagal bayar meluas dan melemahkan sentimen kepercayaan investor terhadap lingkungan investasi di Tanah Air.
Selain itu, pelemahan skor INA dapat terjadi jika penilaian faktor pengambilan keputusan, pengawasan, dan keberlanjutan peran pemerintah berkurang. Hal itu disebut akan menyebabkan tindakan pemeringkatan negatif bagi INA.
Fitch Ratings juga mempertahankan peringkat nasional jangka panjang INA di level ‘AAA(idn)’ dan peringkat nasional jangka pendek di ‘F1+(idn)’.
#fitch-ratings #peringkat-investasi #ina-bbb #mata-uang-asing #sovereign-wealth-fund #dukungan-pemerintah #investasi-nasional #dividen-bank-mandiri #dividen-bri #kemitraan-internasional #risiko-gagal-b