Was-was Defisit Fiskal Bisa Tekan Rupiah ke Rekor Terendah Rp17.000

Was-was Defisit Fiskal Bisa Tekan Rupiah ke Rekor Terendah Rp17.000

Kekhawatiran defisit fiskal dapat menekan rupiah hingga Rp17.000 per dolar AS, meski Bank Indonesia berupaya menahan pelemahan dengan berbagai intervensi.

(Bisnis.Com) 19/01/26 11:40 106999

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah diperkirakan akan melemah hingga melampaui rekor terendah sepanjang masa imbas kekhawatiran terhadap defisit fiskal nasional.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka melemah 0,12% atau 20 poin menuju level Rp16.907 per dolar AS pukul 09.05 WIB. Pada saat yang sama, indeks dolar juga melemah 0,25% ke posisi 99,15.

Analis melihat intervensi bank sentral juga kecil kemungkinannya untuk menghentikan pelemahan tersebut di tengah berlanjutnya kekhawatiran terhadap kondisi fiskal.

Menurut MUFG Bank Ltd., rupiah berpotensi terdepresiasi hingga Rp17.000 per dolar AS dalam tiga bulan pertama tahun ini. Analis Barclays Plc bahkan melihat kemungkinan rupiah diperdagangkan serendah Rp17.300 per dolar AS sepanjang tahun ini. Mata uang Garuda terpantau sudah melemah untuk minggu kedua berturut-turut.

Kekhawatiran terhadap kesehatan fiskal Indonesia kembali mencuat setelah terungkap pada 8 Januari 2026 bahwa defisit anggaran tahun lalu mendekati batas hukum, sementara penerimaan negara masih lemah. Kondisi ini menambah tekanan terhadap rupiah, yang kini hanya 0,4% lagi dari rekor terendah sepanjang masa yang tercatat pada April lalu.

“Investor masih sangat khawatir terhadap prospek fiskal tahun ini,” ujar Lloyd Chan, analis strategi mata uang di MUFG, dikutip Bloomberg pada Senin (19/1/2026).

Meskipun Bank Indonesia melakukan intervensi untuk mengendalikan volatilitas, dia menilai bahwa terdapat cukup banyak keterbatasan dari sisi kebijakan.

Adapun, Bank Indonesia secara rutin melakukan pembelaan terhadap rupiah. Namun, para analis menilai toleransi Bank Indonesia terhadap pelemahan rupiah yang moderat dapat membatasi efektivitas intervensi tersebut.

Sepanjang bulan ini, rupiah telah melemah lebih dari 1%, menjadikannya mata uang dengan kinerja terburuk di Asia setelah won Korea Selatan.

Lebih lanjut, BI diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan saat rapat kebijakan pada Rabu, guna menopang nilai tukar. Bank Indonesia juga telah mengerahkan berbagai instrumen untuk menahan pelemahan rupiah, termasuk penyesuaian penerbitan surat berharga bank sentral, intervensi di pasar valuta asing, serta pembelian obligasi pemerintah di pasar sekunder.

Shier Lee Lim, Kepala Strategi Mata Uang dan Makro di Convera Singapura, mengatakan rencana pemerintah untuk memperketat pengelolaan devisa hasil ekspor dinilai dapat memberikan bantalan bagi rupiah.

Meski demikian, para analis tetap menyuarakan kekhawatiran bahwa defisit fiskal tahun ini berpotensi melebar melampaui batas hukum 3%, seiring upaya pemerintah meningkatkan belanja di tengah lemahnya penerimaan pajak.

Kecenderungan BI untuk menurunkan suku bunga pada paruh kedua tahun ini demi mendukung agenda pertumbuhan Presiden Prabowo Subianto juga diperkirakan akan memberi tekanan tambahan terhadap rupiah.

“Kami melihat adanya risiko jangka menengah yang lebih besar bahwa pemerintah akan mencoba menerapkan kebijakan yang relatif tidak lazim, yang dapat memicu sentimen negatif lebih lanjut terhadap rupiah,” tulis analis Barclays, termasuk Themistoklis Fiotakis, dalam sebuah catatan pekan lalu, merujuk pada batas defisit fiskal hukum sebesar 3%.

#nilai-tukar-rupiah #defisit-fiskal #rupiah-melemah #intervensi-bank-sentral #rupiah-terdepresiasi #kesehatan-fiskal-indonesia #investor-khawatir #prospek-fiskal #bank-indonesia-intervensi #suku-bunga

https://market.bisnis.com/read/20260119/93/1945125/was-was-defisit-fiskal-bisa-tekan-rupiah-ke-rekor-terendah-rp17000