Yield SUN Kokoh Meski Diterjang Net Sell Asing, Kombinasi Kebijakan Prabowo dan Moneter
Yield SUN Indonesia tetap stabil di 5,92% meski ada net sell asing, didorong kebijakan moneter akomodatif dan likuiditas domestik yang tinggi.
(Bisnis.Com) 20/10/25 18:41 10125
Bisnis.com, JAKARTA – Imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) kian mencatatkan kinerja yang impresif meskipun diterjang oleh arus keluar dana asing yang cukup deras. Sejumlah analis menilai, berbagai kebijakan dari dalam negeri mendorong kinerja positif pasar obligasi Tanah Air.
Berdasarkan data Trading Economics,yieldSUN bertenor 10 tahun telah mencapai level 5,92%. Level tersebut bahkan menjadi posisi terendah sepanjang sejarah pasar obligasi Indonesia. Sejalan dengan hal itu, kepemilikan asing terhadap surat utang Indonesia anjlok ke level 13,9%, menjadi yang terendah sejak 17 tahun belakangan.
Portfolio Manager/Analyst Batavia Prosperindo Aset Manajemen Putri Nur Astiwi menerangkan bahwa penurunanyieldyang terjadi belakangan disebabkan oleh kebijakan moneter Bank indonesia, yang dinilai lebih akomodatif terhadap pasar.
“Penurunanyieldditopang oleh kebijakan moneter yang semakin akomodatif, baik dari sisi BI maupun The Fed. Menariknya, meskipun terjadiforeign outflow, terutama di bulan Oktober ini, penurunanyieldlebih banyak dipengaruhi oleh likuiditas domestik yang tinggi,” katanya kepada Bisnis, Senin (20/10/2025).
Menurutnya, likuiditas domestik yang tinggi terutama tampak dari proyeksi likuiditas harian sebesar Rp190 triliun, dari sebelumnya Rp100 triliun pada paruh pertama 2025. Selain itu, tingginya kebutuhan reinvestasi dari obligasi jatuh tempo juga memperkuat likuiditas domestik.
Menurut Putri, penurunan yield yang terjadi belakangan, tidak hanya mengindikasikan fundamental ekonomi Tanah Air yang relatif solid, tetapi juga mencerminkan inflasi yang terkendali, ruang pelonggaran moneter yang masih terbuka, hingga disiplin fiskal yang masih dijaga oleh pemerintah.
“Di saat yang sama, kondisi likuiditas domestik melimpah dan kebutuhan aset berisiko rendah, obligasi pemerintah tetap menjadi pilihan utama. Terlebih alternatif lain seperti ekuitas atau kredit korporasi dinilai memiliki risiko lebih tinggi di tengah ketidakpastian global,” katanya.
Senada, Fixed Income Analyst Pefindo Ahmad Nasrudin, menilai salah satu sentimen positif pendorong lajuyieldSUN datang dari likuiditas perekonomian nasional yang kian solid, yang disebabkan oleh kombinasi pemangkasan suku bunga oleh Bank Indonesia dan suntikan dana oleh Kementerian Keuangan (Kemenkeu) ke sejumlah bank milik negara.
Kombinasi dari dua kebijakan tersebut dinilai memberikan daya dorong terhadap pasar SBN Tanah Air untuk kian positif.
Namun, dia memprediksi bahwa penerbitan obligasi pemerintah di sisa 2025 tidak akan lebih masif dibandingkan penerbitan obligasi pada kuartal sebelumnya di tahun ini. Hal itu sejalan dengan target DJPPR terhadap lelang SUN sebesar Rp180 triliun pada kuartal IV/2025, yang lebih rendah dibandingkan target dana terhimpun sebelumnya pada tahun yang sama.
“Lebih ke arah likuiditas perekonomian. Ini kan suku bunga turun kan sebenarnya implikasinya ke likuiditas perekonomian juga ya. Kalau suku bunga turun maka likuiditas ekonominya juga akan meningkat,” katanya, Senin (20/10/2025).
Di sisa 2025, Ahmad memproyeksikanyieldSUN akan terparkir di level 5,9%–6%. Menurutnya, proyeksi tersebut menjadi posisi paling logis bagi imbal hasil SUN setelah mempertimbangkan pemangkasan suku bunga di depan danyield spreaddengan India.
Menurutnya, jika yield SUN melaju lebih rendah dari posisi saat ini, hal itu dapat menjadi tantangan tersendiri bagi pasar SUN Tanah Air. Pasalnya,spreadyang begitu lebar dengan India, bakal menarik dana asing untuk pergi ke negara tersebut.
Adapun untuk diketahui, India saat ini memilikiyieldobligasi negara sebesar 6,51%. Hal itu mencerminkanspreadsebesar 0,59% denganyieldSUN Tanah Air. India menjadi salah satubenchmarkyieldSUN lantaran memilikiratingyang sama dengan Indonesia, yaitu BBB.
“Kalau dari eksternalnyaspread yieldIndonesia dengan India. Itu kanspread-nya, kalau beberapa bulan sebelumnya asing masuk ke Indonesia karenaspreadkita lebih tinggi daripada India. Nah tapi kondisi sekarang agak berbeda, kondisiyieldIndia lebih tinggi daripada Indonesia. Makanya kemungkinan tekanan arus modal asing masih cukup tinggi dan larinya ke India,” kata dia.
Selain itu, dari sisi eksternal, perang dagang dan ketidakstabilan geopolitik dinilai bakal menjadi tantangan lainnya bagi pasar SUN ke depan.
Senada, Putri turut menilai bahwasannya risiko volatilitas di pasar SUN masih terbuka ke depan lantaran faktor eskalasi geopolitik. Namun, penguatanyieldmasih terbuka hingga akhir 2025.
“Dalam jangka pendek, kondisiyieldrendah ini masih memiliki ruang untuk berlanjut seiring pelonggaran moneter yang masih terjadi dan percepatan belanja fiskal yang menambah likuiditas. Walaupun risiko volatilitas masih tetap ada seperti karena adanya eskalasi geopolitik,” katanya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
#yield-sun #imbal-hasil-sun #kebijakan-moneter #likuiditas-domestik #pasar-obligasi #penurunan-yield #suku-bunga #obligasi-pemerintah #pasar-sun #inflasi-terkendali #risiko-volatilitas #spread-yield #d