Apindo: Penurunan Biaya Produksi Kunci Dongkrak Manufaktur Tumbuh 8%

Apindo: Penurunan Biaya Produksi Kunci Dongkrak Manufaktur Tumbuh 8%

Apindo menilai penurunan biaya produksi dan reformasi struktural penting untuk mencapai target pertumbuhan manufaktur 8% dan kontribusi 20,56% terhadap PDB pada 2029.

(Bisnis.Com) 12/01/26 13:35 100692

Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai target pemerintah untuk meningkatkan kontribusi industri pengolahan nonmigas terhadap produk domestik bruto (PDB) sekaligus mendorong pertumbuhan manufaktur hingga di atas 8% membutuhkan langkah kebijakan yang kuat dan terobosan struktural.

Dalam Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Perindustrian 2025-2029 disebutkan bahwa pemerintah menargetkan kontribusi industri pengolahan nonmigas sebesar 20,56% terhadap PDB dan pertumbuhan manufaktur 8,14% pada 2029.

Ketua Umum Apindo Shinta W. Kamdani mengatakan, sasaran tersebut mencerminkan komitmen pemerintah untuk mengembalikan sektor manufaktur sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi nasional dalam jangka menengah.

“Kami memandang target tersebut sebagai target yang aspiratif dan harus didukung, sekaligus mencerminkan keinginan kuat pemerintah untuk mengembalikan manufaktur sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi,” kata Shinta kepada Bisnis, dikutip Senin (12/1/2025).

Dari sudut pandang dunia usaha, target tersebut tidak dapat diperlakukan sebagai kelanjutan dari pola bisnis yang selama ini berjalan. Dalam beberapa tahun terakhir, kontribusi manufaktur terhadap PDB cenderung stagnan di kisaran 18–19%, dengan laju pertumbuhan yang relatif moderat.

Kondisi ini juga tecermin dari kinerja industri manufaktur nonmigas pada 2024 yang sempat mengalami kontraksi sekitar –0,86 poin persentase. Selain itu, dalam 10 tahun terakhir, sembilan dari 15 subsektor manufaktur tercatat mengalami penyusutan kontribusi terhadap perekonomian nasional.

“Dengan demikian, kami melihat pencapaian target Renstra memerlukan perubahan struktural yang signifikan, bukan sekadar perbaikan inkremental. Artinya, target tersebut realistis secara arah, tetapi menantang dari sisi implementasi,” ujarnya.

Apindo menilai Rencana Strategis Kementerian Perindustrian lebih tepat diposisikan sebagai peta jalan transformasi industri nasional, bukan sekadar deretan target angka yang harus dikejar dalam waktu singkat.

Selain mengejar ekspansi kapasitas produksi, dunia usaha juga menekankan pentingnya kualitas pertumbuhan manufaktur agar mampu menciptakan lapangan kerja formal dan memperkuat kelas menengah domestik, bukan hanya menambah investasi yang bersifat padat modal, tetapi rendah serapan tenaga kerja.

“Jika tidak terdapat policy shift yang signifikan, kami memandang pertumbuhan manufaktur dalam 5 tahun ke depan akan berada pada pola measured growth, mengikuti tren historis sehingga kontribusinya terhadap PDB meningkat secara gradual. Namun, bukan akseleratif,” tuturnya.

Menurut Apindo, tanpa terobosan kebijakan yang konkret, upaya mendorong manufaktur masuk ke fase industrial take-off secara konsisten akan tetap menghadapi tantangan besar, meskipun potensi sektor ini masih sangat besar.

“Bukan karena kurangnya potensi, tetapi karena hambatan struktural yang belum sepenuhnya diselesaikan,” tambahnya.

Sebaliknya, apabila Renstra diikuti dengan reformasi lintas sektor yang konsisten, terutama dalam menurunkan biaya berusaha serta memperkuat daya saing dan produktivitas industri, target tersebut dapat menjadi jangkar kebijakan yang mendorong akselerasi pertumbuhan manufaktur nasional.

“Penurunan cost of doing business harus menjadi agenda lintas kementerian, mulai dari energi, logistik, pembiayaan hingga cost of compliance. Tanpa perbaikan struktur biaya, sulit mengharapkan lonjakan kontribusi manufaktur. Dengan kebijakan yang konsisten, kami percaya reindustrialisasi yang inklusif dan berkelanjutan dapat terwujud,” pungkasnya.

#manufaktur #kinerja-manufaktur #industri-manufaktur #apindo

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260112/257/1943494/apindo-penurunan-biaya-produksi-kunci-dongkrak-manufaktur-tumbuh-8