Bisnis.com, JAKARTA – Emiten pengelola jaringan ritel Watsons Indonesia, PT Duta Intidaya Tbk. (DAYA) membukukan laba bersih sebesar Rp73,50 miliar dalam periode 2025. Kinerja ini ditopang oleh pendapatan perseroan yang juga meningkat, sejalan dengan ekspansi DAYA membuka 47 gerai baru di sepanjang 2025.
Melansir laporan keuangan tahun buku 2025 yang diaudit, DAYA mencatat pendapatan bersih Rp2,77 triliun. Angka itu naik 34,3% secara year on year (YoY) dari Rp2,06 triliun pada 2024.
Setiap segmen pendapatan DAYA juga naik, yakni dari pendapatan tumbuh 36,8% yoy menjadi Rp1,69 triliun dan dari segmen penjualan konsinyasi meningkat 30,6% YoY menjadi Rp1,07 triliun.
Di sisi lain, beban pokok pendaparan DAYA juga meningkat 33.5% yoy menjadi Rp1,84 triliun. Dari sini, laba bruto perseroan mencapai Rp931,65 miliar atau meningkat 36,04% secara YoY.
Selanjutnya, DAYA menanggung beban usaha sebesar Rp795,76 miliar. Beban ini terdiri dari beban penjualan sebesar Rp617,46 miliar dan beban umum dan administrasi Rp178,30 miliar.
Dengan menghitung komponen beban lain-lain Rp1,49 miliar, kerugian selisih kurs Rp746,01 juta, biaya keuangan Rp26,36 miliar, penghasilan keuangan Rp1,87 miliar, hingga beban pajak penghasilan sebesar Rp35,42 miliar, DAYA meraup laba tahun berjalan 2025 mencapai Rp73,75 miliar. Angka ini meningkat dari Rp45,67 miliar pada 2024.
Di sisi bottom line, DAYA membukukan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk atau laba bersih sebesar Rp73,50 miliar sepanjang 2025. Laba bersih ini naik 61,6% YoY dari Rp45,47 miliar pada periode sebelumnya.
Menilik neraca keuangan perseroan, aset DAYA pada 2025 tumbuh 27,4% YoY menjadi Rp1,24 triliun. Aset tersebut terdiri dari liabilitas sebesar Rp1,10 triliun atau meningkat 21,3% yoy dan ekuitas mencapai Rp136,58 miliar atau melonjak 116,5% YoY.
Sekretaris PT Duta Intidaya Tbk. Erwantho Siregar menjelaskan bahwa peningkatan aset dan liabilitas perseroan pada 2025 disebabkan oleh jumlah gerai yang dikelola bertambah banyak, dari 179 gerai pada 2024 menjadi 226 pada tahun lalu.
Untuk memasok gerai baru yang ada, DAYA mencatatkan persediaan bersih sebesar Rp101 miliar di tahun buku 2025. Selain itu, tercatat pula aset hak guna bersih sebesar Rp62,2 miliar
"Aset tetap sebesar Rp40,9 miliar terutama karena penambahan pembelian aset tetap seiring dengan penambahan gerai baru dan peremajaan gerai yang sudah ada (refit). Lalu pajak dibayar di muka sebesar Rp19,6 miliar terutama disebabkan oleh kenaikan pajak pertamban nilai," ujarnya dalam keterbukaan informasi, dikutip Minggu (8/3/2026).
Kemudian, pada tahun buku 2025 DAYA juga mencatat utang usaha sebesar Rp94,2 miliar terutama untuk pembelian persediaan barang seiring dengan penambahan jumlah gerai. Lalu ada penarikan pinjaman bank jangka pendek dari PT Bank HSBC Indonesia sebesar Rp82 miliar.
Terakhir, perseroan juga mencatat liabilitas imbalan kerja jangka pendek sebesar Rp16,8 miliar yang disebabkan oleh peningkatan biaya gaji dan kompensasi karyawan lainnya seiring dengan peningkatan jumlah karyawan di gerai baru yang dibuka sepanjang 2025. Pada 31 Desember 2025 perseroan mempekerjakan 1.738 orang karyawan, bertambah dari 1.445 orang per 31 December 2024.
Sementara itu di lantai bursa, DAYA ditutup melemah 4,02% ke Rp955 pada penutupan pasar Jumat (6/3/2026). Level harga tersebut mencerminkan koreksi 26,54% sejak awal tahun atau secara year to date (YtD).