Yammy Babeh, camilan singkong dari Sukabumi, sukses ekspor berkat dukungan Pertamina SMEXPO, menembus pasar Brunei, Kanada, dan Republik Dominika. [481] url asal
Bisnis.com, JAKARTA - Pasar makanan ringan terus bertumbuh dan tak pernah ada matinya, salah satu camilan yang digemari adalah keripik. Melihat peluang tersebut, Ade Soelistyowati bersama sang suami mengembangkan brand Yammy Babeh, camilan singkong kekinian yang tak hanya sukses di pasar lokal tetapi juga menembus pasar internasional.
Usaha ini bermula dari dapur kecil rumahnya di Sukabumi. Wanita yang akrab disapa Bunda Elis ini memulai bisnisnya bukan dimulai dari situasi yang mapan, melainkan dari kondisi keluarga yang terpuruk pada 2015.
Ketika itu suaminya tak menerima pembayaran dari proyek bangunan yang dikerjakan, sementara Elis sendiri baru pindah dari Jakarta setelah mengalami dua kali stroke, keluarga tersebut harus mencari cara bertahan.
Di tengah keterbatasan, Elis dan suaminya melihat peluang dari melimpahnya singkong di sekitar rumah. Dengan modal hanya Rp50.000, suaminya mulai mengolah singkong menjadi camilan sederhana.
Produk tersebut rupanya sangat disukai pasar. Bahkan putra mereka yang kala itu masih duduk di bangku SMP mampu menjual hingga lebih dari 100 pack per hari. “Awalnya kami memulai bisnis ini hanya untuk bertahan hidup, tapi ternyata pasarnya besar,” tutur Elis ditemui di sela Pertamina SMEXPO 2025 yang diselenggarakan di BXC Mall 2, pada 25 hingga 30 November 2025.
Elis mengolah opak tradisional menjadi camilan modern berbentuk kotak renyah dengan berbagai varian rasa populer seperti cheese, spicy cheese, salted egg, seaweed, corn, barbeque, hingga balado.
Seluruh produk dibuat dari 100% singkong tanpa MSG, sehingga bisa dikonsumsi anak-anak hingga lansia. Varian barbeque bahkan meraih Pangan Award Kementerian Perdagangan 2024.
Transformasi produk menjadi bagian penting perjalanan ini. Awalnya bernama Crispy Yammy, brand tersebut diremajakan menjadi Yammy Babeh untuk memperkuat citra dan kemudahan pemasaran.
Saat ini, produksi Yammy Babeh mencapai 5.000–7.000 pack per bulan, dengan omzet sekitar Rp50 juta dan jaringan distribusi yang paling besar berada di Bali. Usaha ini melibatkan 25 pekerja, sebagian besar ibu rumah tangga di sekitar lokasi produksi. Elis sengaja fokus membangun jalur distribusi ketimbang membuka toko retail, agar volume penjualan lebih stabil dan terukur.
Perkembangan bisnis ini tidak lepas dari peran serta Pertamina. Sejak bergabung menjadi mitra binaan Pertamina dan ikut serta dalam Academy Pertamina, Yammy Babeh mengalami lompatan bisnis yang cukup signifikan.
“Pertamina bukan hanya melatih, tapi membuka jaringan. Dari mempelajari branding, manajemen, hingga pendampingan ekspor, semua itu membuat kami naik kelas,” ujar Elis.
Melalui Pertamina, Yammy Babeh memperoleh kesempatan mengikuti berbagai pameran, termasuk Pertamina SMEXPO hingga Trade Expo Indonesia (TEI). Pada TEI 2024, Elis bertemu buyer dari Brunei, yang kemudian memesan satu kontainer berisi sekitar 28.000 pack produk Yammy Babeh.
Selain Brunei, Yammy Babeh sebelumnya telah menembus pasar Kanada dan Republik Dominika pada 2020. Tahun ini, Elis sedang memproses penjajakan permintaan dari Filipina, Korea Selatan, dan Timur Tengah.
Untuk memperkuat daya saing, dia juga tengah meningkatkan kualitas kemasan menggunakan teknologi, serta mulai melibatkan anaknya dalam pelatihan ekspor untuk regenerasi bisnis.
Yammy Babeh merupakan salah satu mitra binaan Pertamina dan didukung penuh untuk terus berkembang hingga menembus pasar global.
Endang Susylowati memulai KhumKhum Jamur Crispy di 2020, mengolah jamur tiram berlebih menjadi camilan bernilai tinggi. Kini, produk ini menembus pasar modern dan ekspor. [628] url asal
Bisnis.com, JAKARTA - Di tengah pandemi 2020, ketika sebagian besar usaha terpukul dan banyak orang kehilangan pendapatan, Endang Susylowati justru menemukan peluang baru dari masalah yang dialami para petani jamur tiram di kawasan sekitar rumahnya di Kulon Progo.
Menurutnya, saat panen raya, jumlah jamur tiram sangat melimpah tetapi banyak yang terbuang sia-sia karena masa simpan yang hanya tiga hari. Dari situ, Endang berpikir agar jamur tiram ini bisa lebih awet dan aman dikonsumsi dalam waktu yang lama.
Akhirnya dia pun mencoba mengolah jamur tersebut menjadi camilan renyah dan krispi yang diberi nama KhumKhum Jamur Crispy, camilan berbahan dasar jamur tiram yang kini menembus pasar modern hingga peluang ekspor.
Endang memulai bisnis ini pada April 2020 berbekal pengetahuan yang dia pelajari dari video daring seperti YouTube, website, hingga forum-forum UMKM. Ketika itu, Endang menghabiskan hampir satu bulan untuk melakukan riset mulai dari teknik mengolah jamur agar tetap renyah, pemilihan bumbu, hingga daya simpan.
“Kami berpikir jika bisa mulai bisnis di tengah pandemi, maka setelah pandemi bisnis ini pasti bisa lebih besar,” ujarnya saat berbincang dengan bisnis di sela Pertamina SMEXPO 2025 di Bintaro Xchange yang berlangsung 25 – 30 November 2025.
KhumKhum Jamur Crispy hadir dengan lima varian rasa yakni original, balado, pedas manis, barbeque, dan super pedas dengan harga yang cukup terjangkau Rp17.000. Adapun dua varian yang paling digemari adalah original dan barbeque.
Seiring meningkatnya permintaan, Endang berinovasi dalam hal kemasan sehingga bisa menarik pasar lebih luas terutama untuk kalangan pasar menengah atas. Jika di awal, produk ini hanya dikemas dalam standing pouch bening sederhana, kini KhumKhum hadir dengan kemasan full aluminium foil full printing, lengkap dengan sertifikasi P-IRT. Di dalamnya, ditambahkan gas nitrogen untuk menjaga kerenyahan dan memperpanjang daya simpan hingga 12 bulan.
“Biasanya orang lihat kemasannya dulu. Kalau menarik, meskipun harganya sedikit mahal, mereka akan beli,” jelasnya.
Pemberdayaan Petani dan Rencana Integratif Farming
Tak hanya mengolah, KhumKhum juga memberdayakan para petani jamur tiram di Kulon Progo dengan memberikan modal dan membeli jamur segar mereka. Ke depan, Endang bahkan berencana mengembangkan integrative farming yakni menanam jamur secara mandiri sekaligus mengolah limbah baglog menjadi pakan maggot.
“Harapannya ekosistemnya bisa berputar. Kami menanam, petani sejahtera, produksi jalan, limbah pun bisa dimanfaatkan,” ujarnya.
Kini produk KhumKhum Jamur Crispy sudah masuk ke berbagai gerai ritel modern seperti Hypermart, Sarinah, Transmart, Total Buah, dan AEON.
Tak hanya di dalam negeri, KhumKhum juga sudah mulai mencicipi pasar ekspor melalui pengiriman skala kecil bersama beberapa UMKM lain ke Australia. Diakui olehnya bahwa minat dari negara lain, seperti Korea Selatan dan Vietnam, mulai berdatangan.
Namun keduanya mensyaratkan sertifikat HACCP, yang saat ini sedang disiapkan Endang sebagai tiket masuk pasar internasional. “Insya Allah tahun depan kami urus HACCP, supaya bisa lebih siap ekspor,” ujarnya optimistis.
KhumKhum Jamur Crispy resmi menjadi Mitra Binaan Pertamina sejak Agustus tahun lalu. Melalui program PF Trainer dan UMK Academy, Endang mendapat pelatihan kurasi, pemasaran digital, branding, hingga strategi mempersiapkan produk untuk ekspor.
Setelah bergabung, perubahan yang dirasakan cukup signifikan. “Yang pertama jadi lebih dikenal, apalagi di luar Jogja. Kami bisa ikut banyak expo, termasuk SMEXPO Pertamina. Bahkan produk kami pernah diborong panitianya,” katanya.
Dari sisi penjualan, peningkatannya terasa jelas. Rata-rata penjualan KhumKhum mencapai 4.000 bungkus per bulan, diproduksi dari fasilitas home industry yang sudah tertata.
Keikutsertaannya di Pertamina SMEXPO 2025 di Bintaro memberikan wawasan baru tentang digital marketing dan membuka jejaring yang lebih luas. “Terima kasih untuk Pertamina. Dari sini kami makin tahu dunia luar dan cara meningkatkan pemasaran. Semoga ke depan bisa terus diajak ke pameran yang lebih besar,” harap Endang.
Dengan inovasi dan keberanian memulai usaha dari nol di masa krisis, Endang membuktikan bahwa produk lokal, bila dikelola dengan serius dan dikemas apik, bisa melangkah jauh.
KhumKhum Jamur Crispy merupakan salah satu mitra binaan Pertamina dan didukung penuh untuk terus berkembang hingga menembus pasar global.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56