Bisnis.com, JAKARTA — Analis pasar modal menilai langkah transformasi bisnis hijau PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) dapat membuka peluang untuk meningkatkan valuasi di masa mendatang.
Analis Phillip Sekuritas, Edo Ardiansyah mengatakan TOBA menjadikan strategi keberlanjutan ke dalam nilai fundamental perusahaan melalui bisnis energi terbarukan, pengelolaan limbah, dan kendaraan listrik.
“Langkah berani meninggalkan bisnis batu bara cenderung dihargai investor yang fokus pada fundamental,” ujar Edo dalam keterangannya, Senin (17/11/2025).
Dia menambahkan, kenaikan harga saham TOBA yang mencapai 105% secara year to date (YTD) terjadi justru ketika perusahaan mencatatkan rugi secara akuntansi akibat divestasi PLTU.
Berdasarkan laporan keuangan periode Januari–September 2025, TOBA membukukan rugi bersih sebesar US$127,38 juta, berbalik dari laba bersih sebesar US$34,84 juta pada periode yang sama pada 2024.
“Jadi kalau nanti perusahaan mulai mencatatkan laba kembali dari bisnis barunya, peluang apresiasi investor akan makin besar,” katanya.
Sementara, riset UOB Kay Hian menyebutkan bahwa emiten yang fokus pada bisnis berkelanjutan umumnya diperdagangkan dengan valuasi lebih tinggi.
Beberapa pembanding global seperti Waste Management Inc (PBV 8,6x), Republic Services Inc (5,6x), dan Clean Harbors Inc (4,6x) menunjukkan bahwa perusahaan dengan portofolio ramah lingkungan sering kali mendapatkan penghargaan lebih besar dari pasar.
TOBA saat ini masih relatif undervalued dengan PBV sekitar 1,94x, sehingga potensi re-rating valuasi terbuka lebar seiring konsistensi transisi menuju portofolio hijau.
Berdasarkan catatan Bisnis.com, Kamis (13/11/2025), TOBA masuk ke fase ekspansi regional di bisnis hijaunya. Transformasi ini tidak hanya berupa pergantian identitas visual, tetapi mencerminkan ekspansi strategis TBS di tiga sektor bernilai tinggi, pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan kendaraan listrik.
Presiden Direktur & CEO TBS Dicky Yordan menjelaskan bahwa transformasi ini memasuki fase eksekusi setelah tiga tahun berjalan di bawah kerangka TBS2030, peta jalan menuju netral karbon yang diluncurkan pada 2021.
“Kami tidak hanya melakukan rebranding. Kami mengonsolidasikan ekspansi bisnis hijau yang selama tiga tahun terakhir mulai menghasilkan skala yang signifikan,” ujarnya.
Perubahan arah ini diiringi langkah nyata di lapangan. TBS telah menyelesaikan divestasi dua PLTU berkapasitas total 200 MW, serta menargetkan penghentian tiga konsesi tambang batu bara paling lambat 2027.
Di sisi lain, perusahaan memperluas bisnis pengelolaan limbah melalui akuisisi Asia Medical Enviro Services (AMES) dan ARAH Environmental Indonesia (ARAH) yang memperkuat ekosistem pengelolaan limbah medis, industri, dan domestik di Indonesia.
Integrasi berlanjut dengan akuisisi penuh Sembcorp Environment Pte. Ltd. (SembEnviro) di Singapura yang kini berevolusi menjadi CORA Environment, memperluas jangkauan TBS ke pasar regional dan memperkuat kapabilitas teknologi serta operasional di Asia Tenggara.
Pada sisi energi terbarukan, TBS telah mengoperasikan pembangkit listrik mikrohidro 2x3 MW di Lampung dan tengah menyelesaikan proyek Tembesi Floating Solar Power Plant berkapasitas 46 MWp di Batam bersama PLN Nusantara Power. Proyek PLTS terapung ini menjadi salah satu yang terbesar di Indonesia dan akan memperkuat bauran energi bersih nasional.
Sementara pada sektor kendaraan listrik, TBS melalui Electrum melanjutkan pembangunan ekosistem EV terintegrasi mencakup teknologi baterai, perakitan kendaraan, hingga infrastruktur penukaran baterai.
Direktur & CFO TBS Juli Oktarina mengungkapkan bahwa total investasi yang disiapkan untuk menopang transformasi ini mencapai US$600 juta hingga 2030 akan difokuskan untuk tiga bisnis baru.
“Tahun depan porsi terbesar akan datang dari bisnis waste management,” kata Juli.