NEW YORK, KOMPAS.com - Biaya perang aliansi Amerika Serikat (AS) Israel melawan Iran diproyeksikan mencapai lebih dari 1 triliun dollar AS.
Angka tersebut setara dengan Rp 17.129 triliun dengan asumsi kurs Rp 17.129 per dollar AS.
Sebagai gambaran, laporan Pentagon menunjukkan, biaya perang tersebut mencapai 11,3 miliar dollar AS dalam enam hari pertama.
Saat ini gencatan senjata masih berlaku. Sedangkan upaya mencapai penyelesaian jangka panjang terbukti sulit.
Teranyar, pasukan AS memulai blokade pelabuhan Iran pada hari Senin setelah pembicaraan perdamaian selama akhir pekan gagal.
“Saya yakin kita akan mencapai angka 1 triliun dollar AS untuk perang melawan Iran,” kata Pakar Kebijakan Publik Harvard Kennedy School Linda Bilmes, dikutip dari CNBC Selasa (14/4/2026).
Dalam penelitiannya, operasi militer ini diprediksi memiliki konsekuensi bencana bagi utang nasional AS hingga jauh di masa depan.
Dia memperkirakan biaya awal jangka pendek mencapai sekitar 2 miliar dollar AS per hari selama 40 hari konflik berlangsung.
Jumlah tersebut termasuk harga amunisi, pasukan, dan kerusakan aset militer seperti penembakan jatuh tiga jet tempur F-15 akibat tembakan dari pihak sendiri dari Kuwait.
Bilmes meyakini biaya jangka pendek lebih tinggi daripada yang terlihat di atas kertas.
Pasalnya, Pentagon melaporkan angka-angka berdasarkan nilai historis inventaris, bukan harga sebenarnya untuk mengganti aset-aset tersebut saat ini yang biasanya jauh lebih tinggi.
“Kesenjangan ini adalah salah satu alasan mengapa angka yang dilaporkan sebesar 11,3 miliar dollar AS lebih mendekati 16 miliar dollar AS, dan hal ini mencerminkan kesenjangan yang terus-menerus antara apa yang dilaporkan Pentagon secara real time dan biaya perang yang sebenarnya,” ungkap dia.
Bilmes menambahkan kontrak besar dan berjangka panjang dengan Lockheed Martin dan Boeing untuk pesawat pencegat dan rudal berarti biaya pengisian ulang bagi AS akan jauh lebih tinggi.
AS sekurang-kurangnya membutuhkan 4 juta dollar AS per pesawat.
Sebagai pembanding, biaya drone yang ditembakkan dari Iran dapat diproduksi hanya dengan 30.000 dollar AS per unit.
Dalam jangka panjang, biaya perang meningkat akibat rekonstruksi fasilitas dan inventaris yang rusak.
Hal ini tidak hanya berlaku untuk aset militer AS di kawasan tersebut, tetapi juga untuk infrastruktur sekutu.
Beban yang ditanggung wajib pajak AS juga akan meningkat dengan biaya tunjangan cacat seumur hidup potensial bagi sekitar 55.000 tentara yang ditempatkan di wilayah tersebut.
Pasukan tersebut diketahui telah terpapar racun dan bahaya lingkungan.
Sementara itu, Gedung Putih telah meminta Kongres untuk meningkatkan anggaran pertahanan AS menjadi 1,5 triliun dollar AS.
Sebagai catatan, ini merupakan peningkatan pengeluaran militer terbesar sejak Perang Dunia Kedua.
JAMEJAMONLINE/EBRAHIM NOROOZI via AFP Personel Angkatan Laut Iran saat melakukan latihan militer Velayat-90 di Selat Hormuz pada 1 Januari 2012. Angka tersebut tidak termasuk 200 miliar dollar AS yang diminta Pentagon untuk perang di Iran.
“Bahkan jika kongres tidak menyetujui peningkatan penuh, sangat mungkin setidaknya 100 miliar dollar AS per tahun akan ditambahkan ke anggaran pertahanan dasar yang tidak akan disetujui jika tidak ada perang ini,” tambah Bilmes.
Pengeluaran semacam itu akan sangat membebani defisit fiskal AS yang terus meningkat.
Jika dibandingkan dengan perang Irak yang menelan biaya total 2 triliun dollar AS, utang publik selama periode tersebut berada di bawah 4 triliun dollar AS.
Saat ini, Bilmes bilang, jumlahnya lebih dari 31 triliun dollar AS, dan sebagian besar berasal dari perang sebelumnya di Irak dan Afghanistan.
“Kita meminjam untuk membiayai perang ini dengan suku bunga yang lebih tinggi, di samping basis utang yang jauh lebih besar,” tambah dia.
“Akibatnya, biaya bunga saja akan menambah miliaran dollar pada total biaya perang ini. Dan tidak seperti biaya di muka, ini adalah biaya yang secara eksplisit kita bebankan kepada generasi berikutnya,” tutup dia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang