#30 tag 24jam
Sulhu dan Islah: Sebuah Refleksi
Beberapa tahun lalu, dua kolega senior di kampus kami bertikai. Masalahnya sederhana: kurikulum baru. Yang satu ingin mempertahankan tradisi Muhammad Irfanudin... | Halaman Lengkap [683] url asal
#darunnajah #universitas-darunnajah
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 01/07/26 14:50
v/265100/
Muhammad Irfanudin Kurniawan, Dosen Manajemen Pendidikan Islam Universitas Darunnajah (UDN) JakartaBeberapa tahun lalu, dua kolega senior di kampus kami bertikai. Masalahnya sederhana: kurikulum baru. Yang satu ingin mempertahankan tradisi. Satunya lagi berteriak tentang inovasi. Teriak di sini bukan metafora. Suara mereka meninggi di sebuah rapat. Setelahnya? Tidak saling sapa. Berbulan-bulan.
Kami yang saat itu masih menjadi staf yunior hanya bisa diam. Lingkungan kerja yang tadinya hangat ikut membeku. Dua-duanya orang baik, cerdas, berilmu. Tapi terkunci ego masing-masing. Dari kejadian itu kami belajar satu hal: konflik di lembaga pendidikan Islam jauh lebih sering terjadi daripada yang berani kita laporkan dalam rapat pimpinan.
Kejadian itu memaksa kami membaca ulang hal-hal lama. Dua istilah yang dulu cuma numpang lewat di pelajaran fikih: sulhu dan islah. Dulu kita kira itu cuma istilah teknis untuk urusan jual beli atau sengketa waris. Ternyata tidak.
Bukan Sekadar Akad, Tapi Cara Pandang
Kita tidak akan memberi definisi yang terlalu rapi. Tapi intinya begini: sulhu itu proses mencari damai lewat perundingan, dan islah itu tujuan akhirnya—perbaikan hubungan yang tulus. Para ulama klasik menekankan, sulhu harus lahir dari kerelaan. Tidak boleh ada yang merasa dipaksa. Titik.
Lalu kita buka Al-Qur'an. Surah Al-Hujurat ayat 9. Allah bukan cuma bilang "damaikanlah". Ayat itu punya langkah yang lebih tegas. Kalau satu pihak zalim, benar-benar melanggar, mereka harus diluruskan dulu. Baru setelah mereka kembali ke jalan yang benar, islah dijalankan dengan adil.
Kita baca ini berulang-ulang, lalu berhenti sejenak. Ini konsep keadilan restoratif yang sangat awal. Lahir dari tradisi kita sendiri. Tapi kita malah sibuk mengimpornya dari Barat. Ironis.
Kenapa Kita Melupakannya di Kampus Sendiri?
Ini yang mengganggu. Setiap hari kita bicara tentang nilai-nilai Islam. Tapi begitu konflik muncul di kampus, yang keluar adalah pendekatan birokrasi murni. Ada konflik antar dosen? Tunggu SK turun. Ada ketegangan antar unit? Adakan rapat evaluasi. Seolah-olah memo bisa menyelesaikan luka perasaan.
Padahal, para pemimpin di institusi pendidikan Islam punya sesuatu yang tidak dimiliki manajer di perusahaan biasa. Mereka punya bahasa agama. Mereka bisa duduk bersama dua pihak yang bertikai dan membuka dengan kalimat, "Mari kita selesaikan ini secara islah. Kami hanya ingin tidak ada yang terzalimi di antara kita."
Kalimat itu kuat. Kami tahu karena pernah mencobanya, dalam kapasitas yang sangat kecil, di antara dua rekan kerja. Awalnya canggung. Takut dianggap menggurui. Tapi ketika yang dibicarakan adalah nilai yang sama-sama kita yakini, sesuatu berubah. Ego perlahan menurun. Fokus bergeser dari "siapa yang menang" ke "apa yang adil di hadapan Allah".
Itu pengalaman kecil. Tapi kami yakin ini bisa berfungsi di level yang lebih besar.
Tapi Kita Jangan Naif
Tentu sulhu dan islah bukan solusi ajaib. Ada konflik yang akarnya sudah terlalu dalam. Politik yayasan. Perebutan jabatan. Atau sekadar pihak yang memang tidak mau diajak baik. Dalam kasus seperti itu, pendekatan ini mungkin akan mentok. Kita harus jujur soal ini.
Tapi untuk konflik sehari-hari—antar dosen, antar staf, antara pimpinan dan bawahan—dua konsep ini menawarkan sesuatu yang tidak diberikan oleh rapat formal: kemungkinan untuk saling memaafkan dan memulai lagi. Itu mahal. Sangat mahal.
Kami jadi ingat seorang kiai tua yang pernah berkata, "Mendamaikan dua orang yang berseteru itu lebih utama dari salat malam dan puasa sunnah." Waktu mendengarnya kami kaget. Tapi beliau ingin menekankan bahwa pekerjaan juru damai itu pekerjaan para nabi. Kita, para pendidik, seharusnya mewarisi itu. Bukan?
Lalu, Mulai dari Mana?
Ini bukan kesimpulan. Kami hanya ingin mengajak berpikir bersama: sudahkah kita membekali calon pemimpin pendidikan Islam dengan keterampilan mendamaikan? Atau kita hanya sibuk mengajari mereka menyusun anggaran, membuat laporan akreditasi, dan mengelola jadwal kuliah?
Di fakultas-fakultas Manajemen Pendidikan Islam, seharusnya ada ruang untuk melatih ini. Bukan cuma kuliah, tapi praktik. Simulasi konflik. Latihan menjadi muslih—juru damai. Supaya kelak, ketika mereka memimpin madrasah atau kampus, konflik tidak lagi ditakuti atau dipendam. Tapi dihadapi dengan adil dan hati yang besar.
Kalau bukan kita yang menghidupkan kembali warisan ini, kami khawatir ia hanya akan tinggal sebagai bab dalam kitab kuning. Menghiasi rak. Berdebu. Dan kita terus saja mengimpor teknik resolusi konflik dari tempat lain, sementara mutiara itu ada di halaman yang jarang kita buka.
IPB University dan Pesantren Darunnajah 14 Gelar Pelatihan Produk Unggulan Pesantren
Dalam upaya mewujudkan kemandirian ekonomi yang berdaya saing, Pesantren Darunnajah 14 Nurul Ilmi, Serang, resmi menggelar Program Pelatihan Kewirausahaan dan Pemasaran... | Halaman Lengkap [414] url asal
#ipb-university #darunnajah #universitas-darunnajah #pondok-pesantren #pesantren
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 11/06/26 09:50
v/246843/
JAKARTA - Dalam upaya mewujudkan kemandirian ekonomi yang berdaya saing, Pesantren Darunnajah 14 Nurul Ilmi, Serang, resmi menggelar Program Pelatihan Kewirausahaan dan Pemasaran Digital, pada Minggu, (7/6/2026).Kegiatan strategis ini merupakan hasil kolaborasi berkelanjutan antara pihak pesantren dengan para pakar, dosen, serta mahasiswa pascasarjana dari IPB University.
Pelatihan yang berlangsung di lingkungan kampus Pesantren Darunnaja 14 ini bertujuan untuk mentransformasi unit usaha pesantren agar lebih profesional, sehingga mampu menjangkau pasar yang lebih luas, mulai dari skala lokal hingga ke platform digital nasional.
Dalam pelatihan ini, peserta dibekali empat materi utama yang dirancang khusus untuk pengembangan UMKM berbasis pesantren. Pembekalan diawali dengan materi Legalitas dan Perizinan oleh Dr. Rafnel Azhari dan Dr. Uci Sulandari, yang menekankan bahwa dokumen seperti NIB, PIRT, dan sertifikasi halal adalah syarat mutlak untuk membangun kepercayaan konsumen.
Setelah fondasi legalitas dipahami, peserta diajarkan strategi Komunikasi Pemasaran Berbasis Nilai oleh Rizma Ilfi, M.I.Kom., guna mengintegrasikan nilai-nilai luhur pesantren, seperti amanah dan ikhlas ke dalam model pemasaran modern.
Lebih lanjut, peserta juga mendapatkan sesi praktik Digital Branding & Marketplace bersama Rabiah Putri, S.Pd., CTT. Sesi ini membekali peserta dengan keterampilan mengelola media sosial profesional, teknik fotografi, hingga cara menembus e-commerce besar seperti Shopee dan Tokopedia.
Terakhir, guna memastikan kesehatan bisnis, Abdullah Alhayad Arafah, ST. memaparkan Manajemen Keuangan Digital. Secara unik, materi tata kelola pajak dan penyusunan laporan keuangan ini diajarkan menggunakan pendekatan pemrograman Python untuk menjamin efisiensi dan akurasi.
Sebagai tindak lanjut, setiap peserta dibekali action plan 30 hari untuk mematangkan identitas mereknya. Kolaborasi ini diharapkan mampu menjadikan Pesantren Darunnajah sebagai model percontohan nasional dalam mencetak pesantren yang inovatif, mandiri secara ekonomi, dan berdampak luas bagi umat.
Para peserta juga diarahkan untuk menjadikan identitas unik pesantren sebagai kekuatan utama.
"Konsumen tidak hanya membeli produk, mereka membeli nilai dan cerita di balik produk tersebut," ujar Rabiah Putri.
Dengan memanfaatkan jaringan alumni dan santri sebagai brand ambassador, produk pesantren diharapkan memiliki posisi tawar yang unik di mata konsumen.
Antusiasme terlihat jelas saat peserta yang terdiri dari pengelola unit usaha, santri, dan pengurus pesantren mempraktikkan langsung pembuatan konten kreatif dan pengaturan akun bisnis.
Sebagai tindak lanjut, setiap peserta dibekali dengan action plan untuk 30 hari ke depan, mencakup finalisasi identitas merek hingga analisis performa konten secara berkala.
Kolaborasi antara Pesantren Darunnajah dan IPB University ini diharapkan menjadi model percontohan bagi pesantren lainnya di Indonesia.
Dengan memadukan pendidikan karakter dan keahlian bisnis modern, pesantren kini membuktikan diri mampu bertransformasi menjadi aktor ekonomi yang mandiri, inovatif, dan memberikan dampak luas bagi umat.
4th ICOP Darunnajah Bersama Menteri ATR/BPN, Pesantren Siap Pimpin Optimalisasi Wakaf Nasional
Universitas Darunnajah menggelar The 4th International Conference on Pesantren (4th ICOP) 2026 Universitas Darunnajah menggelar The 4th International Conference... | Halaman Lengkap [515] url asal
#universitas-darunnajah #nusron-wahid #menteri-atrbpn #wakaf
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 10/06/26 15:32
v/246113/
Universitas Darunnajah menggelar The 4th International Conference on Pesantren (4th ICOP) 2026 bertema “The Impact Mission: Unleashing the Power of Endowment & Waqf Funds for Islamic Education, Business, and Science & Technology” di GOR Darunnajah, pada Sabtu (6/6/2026).Forum ini turut dihadiri langsung oleh Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wah, beserta jajaran kementerian, serta ribuan santri Darunnajah dan ratusan kyai dari seluruh Indonesia.
Konferensi ini mengangkat peran dana abadi dan wakaf sebagai instrumen keuangan Islam untuk kemandirian finansial pendidikan, pengembangan kewirausahaan, serta percepatan inovasi sains dan teknologi.
Presiden Universitas Darunnajah, K. Hadiyanto Arief, menegaskan bahwa institusi pendidikan Islam harus kembali mengambil peran terdepan dalam mengelola wakaf secara modern dan berdampak.
“Sudah saatnya umat Islam, dan pesantren khususnya, kembali memimpin dalam mengelola wakaf secara profesional, produktif, dan berdampak. Itulah impact mission yang menjadi panggilan konferensi ini,” ujar K. Hadiyanto Arief.
Ia mengingatkan, model dana abadi yang menopang universitas besar dunia berakar erat pada tradisi wakaf Islam, sebagaimana Al-Azhar di Kairo, Mesir yang berdiri kokoh lebih dari seribu tahun di atas sistem wakaf. Sebagai bukti nyata di dalam negeri, dari lahan awal seluas 700 m², Darunnajah kini telah berkembang mengelola lebih dari 1.200 hektar lahan wakaf produktif dengan 23 kampus cabang, di mana 14 di antaranya lahir langsung dari wakaf masyarakat.
Sejalan dengan visi kemandirian tersebut, Menteri ATR/BPN, Nusron Wahid, dalam keynote speech-nya memberikan dukungan kuat melalui kebijakan tata kelola aset wakaf yang tidak hanya aman secara legal, tetapi juga produktif secara ekonomi. Ia menegaskan komitmen pemerintah untuk terus mempercepat sertifikasi tanah wakaf guna mengamankan aset umat dan mencegah potensi sengketa di masa depan yang kerap menjadi ibarat "api dalam sekam".
Selain menawarkan mekanisme Isbat Wakaf sebagai solusi bagi tanah wakaf yang terkendala dokumen administrasi masa lalu, Menteri Nusron juga memaparkan rencana terobosan regulasi terkait Hak Guna Bangunan (HGB) di atas tanah wakaf.
"Kami ingin membuat terobosan regulasi demi kepentingan pemberdayaan umat. Pihak ketiga atau investor nantinya dapat membangun infrastruktur komersial dan menyewa di atas tanah wakaf kepada Nadzir. Sehingga, tanah yang tadinya pasif bisa menghasilkan nilai keekonomian tinggi," papar Menteri Nusron.
Ia menambahkan bahwa regulasi ini diharapkan mampu memacu potensi wakaf produktif di Indonesia agar menjadi mesin kemandirian umat yang pengelolaannya mampu melampaui capaian negara-negara Islam lainnya.
ICOP ke-4 menghadirkan pembicara pakar dari sejumlah negara, antara lain Dr. Nuruddin Anis (Sharjah University, Uni Emirat Arab), Prof. Dr. S. Salahudin Suyurno (UiTM, Malaysia), dan Prof. Dr. Aliyu Dahiru Muhammad (Nigeria). Konferensi juga dihadiri pimpinan pesantren dan perguruan tinggi keislaman dari berbagai daerah, di antaranya Pondok Pesantren Lirboyo, Al Falah Ploso, Buntet, UNIDA Gontor, dan Al-Amien Prenduan.
Melalui sesi call for paper, ICOP ke-4 membuka delapan subtema yang komprehensif, mulai dari tata kelola wakaf, transformasi digital keuangan wakaf, pengukuran dampak sosial-ekonomi, investasi ESG, hingga harmonisasi regulasi wakaf lintas negara.
Universitas Darunnajah adalah perguruan tinggi di bawah naungan Pondok Pesantren Darunnajah, Jakarta, yang berkomitmen mengembangkan ekosistem pendidikan Islam yang mandiri, inovatif, dan berdampak. ICOP ke-4 diselenggarakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) bersama program studi dan fakultas di lingkungan universitas.
Darunnajah Gelar 4th ICOP Bersama Menteri ATR/BPN, Siap Optimalisasi Wakaf Nasional
Universitas Darunnajah menggelar The 4th International Conference on Pesantren (4th ICOP) 2026 di GOR Darunnajah. Universitas Darunnajah menggelar The 4th International... | Halaman Lengkap [508] url asal
#pondok-pesantren #potensi-wakaf #nusron-wahid #universitas-darunnajah #darunnajah
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 06/06/26 18:57
v/242270/
JAKARTA - Universitas Darunnajah menggelar The 4th International Conference on Pesantren (4th ICOP) 2026 di GOR Darunnajah. Kegiatan ini mengangkat peran dana abadi dan wakaf sebagai instrumen keuangan Islam untuk kemandirian finansial pendidikan, pengembangan kewirausahaan, serta percepatan inovasi sains dan teknologi.Mengangkat tema “The Impact Mission: Unleashing the Power of Endowment & Waqf Funds for Islamic Education, Business, and Science & Technology”.
Forum ini dihadiri Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid beserta jajaran kementerian, serta ribuan santri Darunnajah dan ratusan kiai dari seluruh Indonesia.
Presiden Universitas Darunnajah KH. Hadiyanto Arief menegaskan institusi pendidikan Islam harus kembali mengambil peran terdepan dalam mengelola wakaf secara modern dan berdampak.
“Sudah saatnya umat Islam, dan pesantren khususnya, kembali memimpin dalam mengelola wakaf secara profesional, produktif, dan berdampak. Itulah impact mission yang menjadi panggilan konferensi ini,” ujarnya, Sabtu (6/6/2026).
Kiai Hadiyanto mengingatkan, model dana abadi yang menopang universitas besar dunia berakar erat pada tradisi wakaf Islam, sebagaimana Al-Azhar di Kairo, Mesir, yang berdiri kokoh lebih dari seribu tahun di atas sistem wakaf.
Lihat video: Ribuan Santri Sambut Imam Besar Masjid Nabawi Syekh Ahmad di Pesantren Darunnajah Jakarta
Sebagai bukti nyata di dalam negeri, dari lahan awal seluas 700 m2, Darunnajah kini telah berkembang mengelola lebih dari 1.200 hektare lahan wakaf produktif dengan 23 kampus cabang, 14 di antaranya lahir langsung dari wakaf masyarakat.
Menteri Nusron Wahid memberikan dukungan kuat melalui kebijakan tata kelola aset wakaf yang tidak hanya aman secara legal, tetapi juga produktif secara ekonomi. Nusron menegaskan komitmen pemerintah untuk terus mempercepat sertifikasi tanah wakaf guna mengamankan aset umat dan mencegah potensi sengketa di masa depan yang kerap menjadi ibarat api dalam sekam.
Selain menawarkan mekanisme Isbat Wakaf sebagai solusi bagi tanah wakaf yang terkendala dokumen administrasi masa lalu, Menteri Nusron juga memaparkan rencana terobosan regulasi terkait Hak Guna Bangunan (HGB) di atas tanah wakaf.
"Kami ingin membuat terobosan regulasi demi kepentingan pemberdayaan umat. Pihak ketiga atau investor nantinya dapat membangun infrastruktur komersial dan menyewa di atas tanah wakaf kepada Nadzir. Tanah yang tadinya pasif bisa menghasilkan nilai keekonomian tinggi," ucapnya.
Nusron menambahkan, regulasi ini diharapkan mampu memacu potensi wakaf produktif di Indonesia agar menjadi mesin kemandirian umat yang pengelolaannya mampu melampaui capaian negara-negara Islam lainnya.
ICOP ke-4 menghadirkan pembicara pakar dari sejumlah negara, antara lain Dr. Nuruddin Anis (Sharjah University, Uni Emirat Arab), Prof. Dr. S. Salahudin Suyurno (UiTM, Malaysia), dan Prof. Dr. Aliyu Dahiru Muhammad (Nigeria). Konferensi juga dihadiri pimpinan pesantren dan perguruan tinggi keislaman dari berbagai daerah, di antaranya Pondok Pesantren Lirboyo, Al Falah Ploso, Buntet, UNIDA Gontor, dan Al-Amien Prenduan.
Melalui sesi call for paper, ICOP ke-4 membuka delapan subtema yang komprehensif, mulai dari tata kelola wakaf, transformasi digital keuangan wakaf, pengukuran dampak sosial-ekonomi, investasi ESG, hingga harmonisasi regulasi wakaf lintas negara.
Universitas Darunnajah adalah perguruan tinggi di bawah naungan Pondok Pesantren Darunnajah, Jakarta, yang berkomitmen mengembangkan ekosistem pendidikan Islam yang mandiri, inovatif, dan berdampak. ICOP ke-4 diselenggarakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) bersama program studi dan fakultas di lingkungan universitas
Intuisi Itu Ilmu, Bukan Sekadar Feeling
Selama ini, dunia pendidikan kita sering terlalu sibuk dengan dua hal. Pertama, fakta (empiris). Kedua, logika (rasional). Anak dijejali teori, diuji dengan rumus,... | Halaman Lengkap [920] url asal
#pesantren #pondok-pesantren #pendidikan-agama-islam-pai #universitas-darunnajah
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 29/05/26 14:50
v/234961/
Dosen Manajemen Pendidikan Islam, Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta, Muhammad Irfanudin KurniawanTadi siang, rapat mingguan guru Darunnajah terasa berbeda. Selain pesan nasehat dan evaluasi kegiatan pesantren pekanan.
Serasa seperti perkuliahan filsafat ilmu, mata kuliah yang kami ampu sudah hampir 5 tahu ini.
KH. Hadiyanto Arief, atau biasa kami sapa Ayah Dedy, sedang menjelaskan tentang tacit knowledge dan explicit knowledge.
Istilah ini memang populer di manajemen modern. Tapi beliau membawakan dengan cara pesantren. Sederhana. Mengena.
Beliau bilang, sumber ilmu itu tidak hanya empiris dan rasional.
Ada juga intuisi.
Dan intuisi itu dilatih. Bukan datang tiba-tiba. Ia dilatih lewat apa yang dilihat, didengar, dirasakan, dan dilakukan oleh para santri setiap hari.
Empiris dan Rasional Saja Tidak Cukup
Selama ini, dunia pendidikan kita sering terlalu sibuk dengan dua hal. Pertama, fakta (empiris). Kedua, logika (rasional). Anak dijejali teori, diuji dengan rumus, dinilai dari angka.
Padahal, masih ada lapisan lain. Lapisan yang tidak bisa diukur dengan kertas dan pensil. Lapisan yang hanya bisa dirasakan. Itulah intuisi.
Di pesantren, intuisi ini dilatih lewat keteladanan. Santri melihat kiainya shalat malam, lalu hatinya tersentuh. Santri mendengar guru membaca Al-Qur’an dengan tartil, lalu ia ingin menirukan. Santri merasakan suasana asrama yang asik, lalu ia betah.
Semua itu tidak masuk dalam kurikulum tertulis. Dan tidak mudah dibuat modulnya. Tidak mudah juga ujiannya. Ujiannya buak esai apalagi pilihan ganda. Ujiannya berupan ketahan dan internalisasi nilai dan justru itu yang membentuk karakter.
Pengetahuan Eksplisit dan Tacit
Dalam ilmu manajemen, pengetahuan eksplisit itu yang tertulis. Buku, modul, jurnal, rumus. Mudah diajarkan, mudah diujikan.
Pengetahuan tacit berbeda. Ia melekat pada pengalaman. Sulit diucapkan, apalagi ditulis. Tapi ia ada. Ia hidup. Ia mengalir dari guru ke murid lewat interaksi sehari-hari.
Ayah Dedy menjelaskan, pesantren itu kaya akan pengetahuan Tacit ini. Para kiai dan guru senior punya pengalaman bertahun-tahun. Mereka tahu kapan harus tegas, kapan harus lembut. Mereka tahu cara menyambut tamu, cara menenangkan santri yang keluar, cara mengambil keputusan tanpa rapat panjang.
Masalahnya, pengetahuan itu tidak pernah diekspor menjadi pengetahuan eksplisit. Tidak banyak yang ditulis. Tidak diwariskan secara sistematis. Akibatnya, ketika guru senior pensiun atau wafat, ilmunya ikut pergi.
Proses Eksternalisasi Itu Penting
Dalam rapat pekanan itu, Ayah Dedy mengingatkan pentingnya eksternalisasi. Yaitu, mengubah pengetahuan tacit (tersembunyi) menjadi pengetahuan yang bisa diajarkan.
Misalnya, seorang guru yang hebat dalam mengelola kelas, diminta menuliskan tips-tipsnya. Bukan sekadar cerita, tapi langkah konkret. Lalu disusun menjadi modul. Lalu dilatihkan ke guru muda.
Inilah yang jarang dilakukan pesantren.
Kita sibuk dengan kegiatan rutin. Sibuk mengaji, sibuk beribadah. Tapi lupa mendokumentasikan kekayaan pengalaman yang ada. Akhirnya, ilmu terputus. Regenerasi terhambat.
Ijtihad Darunnajah: Program Magister dan Doktor Manajemen Pesantren
Nah, di sinilah kami melihat ijtihad besar Universitas Darunnajah.
UDN secara resmi telah membuka Program Magister Manajemen Pendidikan Islam (MPI) dengan konsentrasi Manajemen Pesantren. Izinnya keluar melalui SK Kemenag Nomor 1451 Tahun 2025. Dan yang menarik, sebelum SK resmi terbit, sudah ada 20 orang yang mendaftar. Mereka tidak mau ketinggalan. Antusiasmenya tinggi. Ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan ilmu manajemen pesantren itu nyata.
Kuliah perdana MMPI berlangsung pada 8 November 2025. Diikuti 71 mahasiswa. Mereka belajar dari para dosen kompeten, termasuk KH. Sofwan Manaf yang mengajar Leadership, dan kami sendiri mendapatkan kepercayaan membawakan materi Isu-isu Kontemporer Manajemen Pendidikan Islam.
Apa yang diajarkan di program ini? Bukan hanya teori manajemen umum. Tapi bagaimana mengelola pesantren dengan pendekatan modern, tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisional. Ini adalah bentuk eksternalisasi. Pengetahuan Tacit para kiai dan pengasuh pesantren, yang selama ini hanya diwariskan secara lisan, kini mulai dirumuskan menjadi kurikulum yang sistematis.
Tapi UDN tidak berhenti di situ.
UDN juga tengah menunggu turunnya SK Program Doktor (S3) Manajemen Pendidikan Islam dengan konsentrasi yang sama. Asesmen lapangan sudah dilakukan pada April 2026. Targetnya, lulusan S3 nanti bisa mengembangkan ilmu manajemen pendidikan Islam melalui penelitian berkualitas, dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan pendidikan Islam khususnya pesantren di Indonesia.
KH. Hadiyanto Arief dalam sambutannya saat asesmen bilang, pendirian program doktoral ini bukan sekadar penambahan jenjang akademik. Tapi misi ideologis. Universitas Darunnajah akan terus mendidik dengan menjaga kekhasan nilai-nilai pesantren sebagai pondasi utama.
Organisme Pesantren Butuh Sistem Saraf
Dalam kerangka organisme pesantren, proses eksternalisasi ini adalah bagian dari sistem saraf. Ia yang memastikan bahwa informasi mengalir dari satu sel ke sel lain. Tidak hanya di mulut ke mulut, tapi juga tertulis, terdokumentasi, terwariskan.
Tanpa sistem saraf yang baik, organisme akan lambat merespon perubahan. Ia akan mudah lupa. Ia akan kehilangan ingatan kolektif.
Program S2 dan S3 Manajemen Pesantren di UDN adalah upaya membangun sistem saraf itu. Ia mengubah pengetahuan Tacit para kiai menjadi pengetahuan eksplisit yang bisa dipelajari, diteliti, dan dikembangkan oleh generasi berikutnya.
Inilah yang disebut Ayah Dedy sebagai grand system pesantren: sistem pendidikan, sistem kepengasuhan, sistem kemandirian, sistem kaderisasi, sistem organisasi, sistem dakwah, hingga sistem ekonomi dan sosial kemasyarakatan. Semua subsistem itu harus dikelola dengan profesional. Dan untuk itu, dibutuhkan SDM yang tidak hanya paham teori, tapi juga menjiwai nilai-nilai pesantren.
Penutup
Kami masih ingat betul pesan Ayah Dedy di akhir rapat. “Jangan hanya sibuk mengajarkan yang tertulis. Tapi juga rawat yang tidak tertulis. Karena di situlah letak kekuatan pesantren.”
Betul.
Kita memang butuh kurikulum. Butuh modul. Butuh ujian. Tapi jangan sampai kita melupakan bahwa ilmu yang paling berharga sering datang dari pengamatan, keteladanan, dan keheningan batin.
Itulah intuisi. Itulah ilmu yang tidak bisa digantikan oleh kecerdasan buatan mana pun.
Wallahu a‘lam.
---
Muhammad Irfanudin Kurniawan, dosen Manajemen Pendidikan Islam di Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta. Penulis buku Organisme Pesantren, Dakwah Model Canvas, The Essence of Islamic Leadership, Menjejaki Alam Filsafat, dan Menalar Manajemen Pendidikan Islam: Dari Worldview Islam ke Integrasi Ilmu.
Mengenal Gareth Morgan: di Balik Metafora Organisme Pesantren
Workshop Peta jalan pesantren malam itu tiba-tiba menjadi rame, satu ruangan tertawa riang. Ini terjadi karena pemateri menemuka satu istilah menarik, ketika meminta... | Halaman Lengkap [756] url asal
#pesantren #pondok-pesantren #universitas-darunnajah #darunnajah
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 29/05/26 14:27
v/234956/
Dosen Manajemen Pendidikan Islam, Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta, Muhammad Irfanudin KurniawanWorkshop Peta jalan pesantren malam itu tiba-tiba menjadi rame, satu ruangan tertawa riang. Ini terjadi karena pemateri menemuka satu istilah menarik, ketika meminta peserta menulis di Mentimeter.
Apa itu?
Organisme Pesantren, ketika membaca kata itu, ada peserta yang nyeletuk "Orgasme apa organisasi" wkwkw
Begitupun juga dengan beberapa kiai yang membaca seri artikel opini kami tentang Organisme Pesantren ini, ada yang bertanya apa landasan teorinya dan siapa tokohnya.
Secara teori istilah organisme untuk organisasi dikenalkan oleh Gareth Morgan profesor Sosiologi Organisasi di bukunya "Images of Organization". Di bukunya Morgan menulis, organisasi itu bukanlah sesuatu yang objektif, tetap, dan tunggal. Ia bisa dilihat sebagai mesin, sebagai organisme, sebagai otak, sebagai budaya, sebagai sistem politik, sebagai budaya dan transformasi, bahkan sebagai alat dominasi.
Metafora-metafora itu adalah kacamata. Dan tergantung kacamata mana yang kita pakai, kita akan melihat masalah yang berbeda, dan menemukan solusi yang berbeda pula.
Siapa Gareth Morgan?
Dalam beberapa informasi di beberapa website, Gareth Morgan lahir di Wales, Britania Raya, pada tahun 1943. Ia belajar di Universitas Lancaster, Inggris, meraih gelar doktor di bidang sosiologi organisasi. Karier akademiknya ia habiskan di Universitas York, Kanada, tempat ia menjadi profesor di bidang organisasi. Ia bukan hanya akademisi, tapi juga konsultan manajemen dan penulis.
Buku Images of Organization terbit pertama kali pada tahun 1986. Sejak saat itu, buku ini menjadi salah satu teks paling berpengaruh dalam studi organisasi di seluruh dunia.
Ada yang bilang, Morgan adalah salah satu pemikir organisasi paling orisinal di zamannya. Ia tidak hanya mengkritik teori lama, tetapi juga menawarkan cara baru yang lebih kaya dan multidimensi.
Metafora Kedua yang Paling menarik
Delapan metafora yang ia tawarkan, semuanya penting. Tapi yang paling mengena di hati kami sesuai dengan beground pendidikan adalah metafora kedua yaitu organisasi sebagai organisme.
Metafora inilah yang menjadi fondasi bagi tulisan-tulisan kami tentang organisme pesantren.
Kami tidak pernah mengklaim sebagai penemu istilah ini. Kami hanya menerjemahkan, mengadaptasi, dan mengaplikasikan ke dalam konteks pesantren.
Morgan menggambarkan organisasi sebagai makhluk hidup. Ia lahir. Tumbuh. Beradaptasi. Bisa sakit. Bisa mati. Ia bergantung pada lingkungan. Jika lingkungan berubah, ia harus berubah. Kalau tidak, ia akan punah.
Ia juga membedakan organisasi mekanistik (kaku seperti mesin) dan organik (luwes, mudah menyesuaikan diri).
Organisasi birokrasi cocok untuk lingkungan yang stabil. Organisasi organik cocok untuk lingkungan yang dinamis.
Dan pesantren, dengan segala dinamikanya, menurut pemahaman kami jelas termasuk yang kedua ini.
Beberapa catatan untuk Morgan
Hanya saja sebagai akademisi kami tidak serta-merta setuju dengan semua yang ia katakan.
Salah satu kelemahan metafora organisme, menurut Morgan sendiri, adalah ia cenderung melihat organisasi sebagai satu kesatuan yang utuh (unity). Padahal, di dalam organisasi bisa terjadi konflik kepentingan. Sub-sistem bisa saling tarik. Tidak selalu harmonis.
Kelemahan lain adalah organisasi bisa memiliki ideologi yang kaku. Dan ideologi ini bisa menghambat adaptasi, meskipun lingkungan sudah berubah.
Nah, dalam konteks pesantren, ini sangat relevan. Ideologi Ahlussunnah wal Jamaah, nilai keikhlasan, kesederhanaan, sanad keilmuan, dan penghormatan kepada kiai bukanlah barang yang bisa diganti seenaknya.
Ini adalah ideologi yang membuat pesantren sulit berubah. Dan ini bukan selalu buruk. Karena jika tidak ada ideologi, pesantren akan kehilangan jati diri.
Adaptasi yang sehat adalah evolusi yang cerdas, bukan metamorfosis total yang bisa merusakbDNA organisme tersebut.
Morgan dan Pesantren
Kami juga tidak tahu pasti apakah Morgan pernah mendengar kata pesantren. Tapi saya yakin, mungkin jika ia membaca tulisan saya, harapannya ia akan tersenyum. Karena ia akan melihat bahwa metafora yang ia ciptakan puluhan tahun lalu, ternyata hidup dan berkembang di tempat yang tidak pernah ia bayangkan.Bagi kami Pesantren adalah organisme. Ia bernapas. Ia bergerak. Ia bisa sakit. Ia bisa mati. Tapi ia juga bisa sembuh dan tumbuh lebih kuat, jika dikelola dengan baik.
Kami hanya seorang penulis yang mencoba menafsirkan ulang, menerjemahkan, dan mengaplikasikan pemikirannya ke dalam konteks lokal.
Penutup
Untuk yang bertanya soal landasan teori organisme pesantren, sekarang sudah jelas. Ini tidak mengarang sendiri. Ada tokohnya. Ada bukunya. Ada kajian akademiknya yang serius.
Tapi Morgan bukan nabi. Teorinya bukan kitab suci. Ia hanya alat bantu. Seperti pisau bedah. Tergantung di tangan siapa, dan digunakan untuk operasi apa.
Hanya saja kita berhutang budi pada Morgan. Karena dari dialah kamu mengambil pelajaran bahwa organisasi tidak harus dilihat dengan satu mata. Dan bahwa metafora bukan sekadar permainan kata, tetapi instrumen analisis yang bisa membuka pemikiran kita.
Wallahu a‘lam.
---
Muhammad Irfanudin Kurniawan, dosen Manajemen Pendidikan Islam di Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta. Penulis buku Organisme Pesantren, Dakwah Model Canvas, The Essence of Islamic Leadership, Menjejaki Alam Filsafat, dan Menalar Manajemen Pendidikan Islam: Dari Worldview Islam ke Integrasi Ilmu.
Badan Hukum: Sistem Imun yang Sering Terlupakan
Sering kali kita mendengar cerita tentang pesantren besar yang tiba-tiba goyah. Bukan karena kualitas pendidikan menurun, bukan karena jumlah santri merosot, tapi... | Halaman Lengkap [703] url asal
#darunnajah #universitas-darunnajah #pesantren #pondok-pesantren
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 20/05/26 15:56
v/226524/
Dosen Manajemen Pendidikan Islam, Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta, Muhammad Irfanudin KurniawanSering kali kita mendengar cerita tentang pesantren besar yang tiba-tiba goyah. Bukan karena kualitas pendidikan menurun, bukan karena jumlah santri merosot, tapi karena masalah tanah.
Keluarga pendiri yang berselisih. Ahli waris yang mengklaim aset. Tidak ada dokumen yang jelas.
Pesantren itu berdarah-darah. Organismenya sakit. Padahal dari luar tampak sehat.
Seketika kita bisa ingat falsafah pohon pisang KH Mahrus Amin. Induk pohon mati, tunas terus tumbuh. Tapi tunas tidak akan tumbuh subur jika akarnya tidak jelas di tanah siapa. Tanah adalah fondasi. Tanpa kepastian hukum atas tanah, apalah arti gedung megah, kurikulum modern, dan ribuan santri.
Badan Hukum: Kerangka Organisasi
Dalam organisme pesantren, badan hukum yayasan berfungsi seperti tulang punggung. Ia tidak terlihat dari luar, tapi ia menopang seluruh tubuh. Tanpanya, pesantren akan ambruk ketika diterpa tekanan.
Sayangnya, banyak pesantren mengabaikan hal ini. Mereka sibuk membangun asrama, memperbanyak santri, dan meningkatkan akreditasi. Tapi lupa mengurus legalitas yayasan, sertifikasi tanah, dan pembagian aset yang jelas. Akibatnya, ketika pendiri wafat, masalah muncul. Anak dan cucu berebut. Pesantren yang dulu ramai menjadi sunyi.
Inilah yang saya sebut sistem imun yang sering terlupakan. Ia adalah mekanisme pertahanan yang melindungi pesantren dari ancaman dari dalam. Jika sistem imun ini lemah, maka penyakit mudah masuk.
Pemerintah sebenarnya sudah bergerak. Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini meneken Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2026 sebagai dasar hukum pembentukan Direktorat Jenderal (Ditjen) Pesantren di Kementerian Agama. Statusnya naik menjadi eselon satu, mencerminkan komitmen kuat pemerintah untuk memastikan pesantren mendapatkan dukungan yang lebih baik.
Ini adalah pengakuan bahwa urusan pesantren bukan lagi sekadar urusan pendidikan, tapi juga urusan kelembagaan, dakwah dan perbendayaan masyarakat.
Namun, kebijakan dari atas tidak akan ada gunanya jika dari bawah, para pengelola pesantren sendiri, masih abai pada fondasi legal lembaganya.
Antara UU Pesantren dan UU Yayasan: Sebuah Polemik
Di sisi lain, pemberitaan media nasional justru mengungkap polemik yang tidak kalah serius. Beberapa pengamat mengungkapkan adanya ketidaksesuaian antara UU Pesantren dan UU Yayasan.
Dalam UU Pesantren, kiai adalah pemimpin tertinggi pondok. Tapi dalam UU Yayasan, posisi tertinggi justru ada pada pembina.
Bagi pesantren kecil, ketika kiai sepuh wafat lalu diteruskan oleh pengasuh yang belum kuat secara struktural, polemik ini bisa menjadi pukulan telak.
Ini bisa menjadi contoh nyata bagaimana sistem imun yang lemah, dalam hal ini ketidaksinkronan regulasi, bisa membingungkan dan melemahkan pesantren.
Ketika Yayasan Terblokir, Pembangunan Terhambat
Peringatan itu bukan sekedar isapan jempol belaka. Kasus pesantren di Sidoarjo beberapa waktu lalu menjadi bukti pahit.
Ada sebuah yayasan Pondok Pesantren yang mengalami pemblokiran status hukum. Akibatnya, proses pembangunan gedung pesantren yang ambruk dan akan dibangun ulang pun terhambat.
Pesantren yang hampir 2.000 santrinya kesulitan melanjutkan pendidikan karena gedung ambruk, harus menghadapi masalah birokrasi tambahan karena urusan administrasi yayasan yang belum beres.
Mengurus Badan Hukum Bukan Lagi Birokrasi Berbelit
Kabar baiknya, pemerintah melalui Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) terus memperkuat layanan digital untuk mengurus badan hukum sosial.
Mulai dari proses pendirian yayasan, perubahan data, hingga pengelolaan administrasi lainnya kini dapat diakses secara online. Langkah ini diharapkan dapat mempermudah pesantren, terutama yang berada di daerah terpencil, untuk mendapatkan kepastian hukum tanpa harus terjebak dalam birokrasi yang berbelit.
Digitalisasi ini adalah bentuk kemudahan yang harus dimanfaatkan. Tidak ada lagi alasan untuk menunda urusan legalitas. Karena waktu terus berjalan, dan risiko terus mengintai.
Pesan untuk Para Perintis
Pesan kami untuk teman-teman yang sedang merintis pesantren atau lembaga pendidikan: jangan tunda urusan hukum. Segera bentuk yayasan, urus akta notaris, urus sertifikasi tanah, dan pisahkan aset pribadi dengan aset lembaga.
Pahami perbedaan antara izin operasional dari Kemenag dan akta yayasan dari notaris, keduanya harus jelas dan lengkap.
Jangan berpikir bahwa ini terlalu awal. Justru ini adalah saat yang paling tepat. Karena ketika pesantren sudah besar, masalah hukum akan lebih rumit dan mahal.
Negara sudah bergerak dengan kebijakan dan digitalisasi. Kini giliran kita, para pengelola pesantren, yang harus bergerak.
Kita harus ingat, pesantren yang kuat bukan hanya yang santrinya banyak, tapi yang fondasinya kokoh. Dan fondasi itu bernama badan hukum.
Wallahu a'lam.
---
Muhammad Irfanudin Kurniawan, dosen Manajemen Pendidikan Islam di Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta, konsultan pendidikan. Penulis buku Organisme Pesantren, Dakwah Model Canvas, The Essence of Islamic Leadership, Menjejaki Alam Filsafat, dan Menalar Manajemen Pendidikan Islam: Dari Worldview Islam ke Integrasi Ilmu.
Tujuh Langkah Memperbaiki Keuangan Pesantren
Dalam kerangka organisme pesantren, keuangan adalah sistem metabolisme. Ia adalah darah, Ia mengubah makanan (dana masuk) menjadi energi (pendidikan, dakwah, pemberdayaan).... | Halaman Lengkap [983] url asal
#darunnajah #universitas-darunnajah #pesantren #mengelola-keuangan #keuangan
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 15/05/26 17:00
v/221974/
Muhammad Irfanudin Kurniawan, Dosen Manajemen Pendidikan Islam Universitas Darunnajah (UDN) JakartaKami sering menerima curhat dari pengasuh pesantren. Isinya kurang lebih sama “Tad, pondok kami ramai santri, uang masuk setiap bulan, tapi kok di akhir tahun selalu tekor?” Atau “Kami punya tanah wakaf puluhan hektare, tapi tidak pernah bisa dikembangkan.” Atau yang lebih parah “Setelah kiai wafat, tidak ada yang tahu catatan keuangannya. Keluarga bingung, santri bubar.”
Biasanya saya jawab dengan balik bertanya “Apakah pesantren punya catatan arus kas? Apakah laporan keuangan dibuat setiap bulan? Apakah rekening pribadi dan lembaga dipisahkan?”
Dan biasanya mereka diam. Atau menjawab “Belum, Masih dicatat manual. Yang pegang uang ya kiai sendiri.”
Inilah akar masalahnya. Bukan karena pesantren tidak punya uang. Tapi karena tidak punya sistem.
Dalam kerangka organisme pesantren, keuangan adalah sistem metabolisme. Ia adalah darah, Ia mengubah makanan (dana masuk) menjadi energi (pendidikan, dakwah, pemberdayaan). Jika metabolisme terganggu, organisme akan lemas, bahkan mati.
Berdasarkan diskusi dengan kiai. Sofwan dan kiai Dedy di Darunnajah pekan lalu, setidaknya ada tujuh langkah yang bisa dilakukan untuk memperbaiki tata kelola keuangan pesantren.
Langkah Pertama: Pisahkan Kas Pribadi dan Lembaga
Ini langkah paling dasar. Tapi justru paling sulit. Kiai yang baik biasanya merangkap sebagai pengasuh, pimpinan yayasan, dan bendahara sekaligus. Tidak salah, tapi risikonya besar.
Ketika tidak ada pemisahan, uang infak dan SPP santri bisa tercampur dengan uang belanja rumah tangga kiai. Bukan karena tidak amanah, tapi karena tidak ada batas. Akibatnya, sulit membedakan mana harta pribadi dan mana amanah umat.
Di Gontor, masalah ini sudah diselesaikan sejak 1958. Seluruh tanah dan bangunan diwakafkan kepada Badan Wakaf Pondok Modern. Keluarga pendiri tidak mewariskan aset. Uang pesantren dikelola oleh bendahara yang bertanggung jawab kepada yayasan, bukan kepada pribadi kiai.
Perlu usaha membukukan unit usaha sebagai entitas terpisah. Koperasi atau badan usaha milik pesantren (BUMP) harus memiliki rekening sendiri, NPWP sendiri, dan laporan keuangan sendiri. Jangan disatukan dengan kas yayasan, apalagi dengan kas pribadi.
Langkah Kedua: Susun Anggaran Tahunan Berbasis Program
Banyak pesantren tidak memiliki anggaran tahunan. Pengeluaran dilakukan spontan. Yang penting ada uang, langsung dipakai. Akhirnya tidak terkontrol.
Padahal, anggaran adalah peta. Tanpa peta, kita bisa tersesat meskipun bensin penuh.
Anggaran tidak perlu rumit. Cukup mencakup tiga hal yaitu rencana pemasukan (dari SPP, unit usaha, donasi), rencana pengeluaran (operasional, gaji guru, pengembangan), dan target surplus untuk investasi.
Yang penting, disusun di awal tahun, dievaluasi di akhir tahun. Jangan cuma jadi dokumen yang disimpan di laci.
Langkah Ketiga: Terapkan Sistem Akuntansi Sederhana tapi Konsisten
Kita sering menemukan pesantren yang hebat dalam hal pengajian, tapi catatan keuangannya masih menggunakan buku tulis. Jika ada donatur yang minta laporan, mereka kelabakan.
Di Sidogiri, setelah bertahun-tahun membangun koperasi dan BMT, mereka belajar bahwa setiap transaksi, sekecil apa pun, harus dicatat. Jangan ada uang yang lewat tanpa bukti.
Sekarang sudah banyak aplikasi gratis. Atau bisa menggunakan spreadsheet sederhana. Mulailah dari yang sederhana, yang penting konsisten.
Langkah Keempat: Bentuk Audit internal
Pesantren bukan perusahaan. Ia tidak bisa dikelola seperti pabrik. Karena ada nilai-nilai keislaman yang harus dijaga. Maka, penting memiliki komite pengawas independen.
Komite ini bisa terdiri dari kiai sepuh yang tidak terlibat dalam pengelolaan sehari-hari, dosen ekonomi syariah, atau akuntan publik.
Mereka bertugas mengawasi apakah transaksi keuangan pesantren sudah sesuai syariah, apakah laporan keuangan akurat, dan apakah pengurus menjalankan amanah.
Gontor memiliki Badan Wakaf yang mengawasi penggunaan aset. Sidogiri memiliki dewan pengawas syariah untuk BMT-nya. Darunnajah memiliki Dewan Nazir, Ini bukan untuk mempersulit, tapi untuk menjaga keberkahan.
Langkah Kelima: Diversifikasi Instrumen Investasi Sesuai Waktu
Pesantren sering bingung, uang surplus disimpan di mana? Di bank? Takut riba. Di kas? Tidak produktif. Di tanah? Butuh waktu lama.
Beberapa pengamat keuangan menawarkan matriks sederhana:
Dana operasional yang akan dipakai segera bisa ditempatkan di reksa dana syariah (likuid, risikonya terkendali).
Dana abadi seperti wakaf tunai bisa ditempatkan di sukuk negara (aman, imbal hasil stabil).
Kelebihan dana yang bisa diinvestasikan jangka panjang bisa dialokasikan ke unit usaha riil atau kemitraan musyarakah dengan alumni yang kompeten.
Kuncinya, jangan taruh semua telur dalam satu keranjang.
Sebagian di investasi yang aman, sebagian di investasi yang produktif, sebagian di investasi yang likuid. Seimbang.
Langkah Keenam: Kembangkan SDM Keuangan dari Santri
Kita tidak bisa terus bergantung pada tenaga luar. Pesantren harus mulai memproduksi kadernya sendiri.
Berikan beasiswa kuliah ekonomi atau akuntansi syariah kepada santri terbaik. Atau kerja sama dengan perguruan tinggi untuk memberikan pelatihan manajemen keuangan bagi pengurus pondok. Dengan kesepakatan, setelah lulus, mereka harus mengabdi dulu di pesantren.
Model ini sudah diterapkan dan dikembangkan di Darunnajah. Beberapa pesantren mengirim alumni untuk belajar manajemen keuangan pesantren.
Setelah selesai Mereka pulang, lalu mengelola unit usaha pesantren. Hasilnya, sistem keuangan lebih rapi, dan pesantren tidak perlu mencari profesional dari luar yang belum tentu paham kultur.
Langkah Ketujuh: Bangun Transparansi Publik Terbatas
Banyak pesantren takut transparan. Takut jika donatur tahu pemasukan banyak, lalu berhenti menyumbang. Ini pemikiran yang keliru. Donatur justru akan lebih percaya jika pesantren terbuka.
Transparansi tidak berarti semua informasi dibuka ke publik. Cukup laporan tahunan yang disampaikan kepada donatur tetap, alumni, dan wali santri. Berisi, pemasukan, pengeluaran, alokasi dana, dan capaian program.
Sidogiri menerbitkan laporan tahunan untuk anggota koperasi. Gontor melaporkan penggunaan wakaf secara berkala. Darunnajah juga demikian.
Hasilnya, kepercayaan publik meningkat, dan dana yang masuk justru lebih besar.
Kembali ke curhat para pengasuh pesantren di awal. Saya tidak bisa memberi solusi instan. Tidak ada pil ajaib yang bisa membuat keuangan pesantren sehat dalam semalam.
Tapi dengan tujuh langkah di atas, jika dilakukan konsisten, perlahan tapi pasti, metabolisme pesantren akan membaik. Uang tidak akan mangkrak. Surplus tidak akan menguap. Dan pesantren akan tetap hidup, melintasi generasi, melampaui zaman.
Karena pada akhirnya, pesantren yang mengelola keuangan dengan amanah adalah pesantren yang Allah berkahi. Bukan karena rumus matematika, tapi karena niat dan sistem yang berjalan beriringan.
Muhammad Irfanudin Kurniawan, dosen Manajemen Pendidikan Islam di Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta, konsultan pendidikan. Penulis buku Organisme Pesantren, Dakwah Model Canvas, The Essence of Islamic Leadership, Menjejaki Alam Filsafat, dan Menalar Manajemen Pendidikan Islam: Dari Worldview Islam ke Integrasi Ilmu.
Uswatun Hasanah: Kepemimpinan Pendidikan yang memberi Makna
Pendidikan Islam tidak kekurangan teori kepemimpinan. Perpustakaan kita penuh dengan kitab-kitab tentang sifat pemimpin, syarat-syaratnya, dan teknik mengelola... | Halaman Lengkap [693] url asal
#darunnajah #universitas-darunnajah #pendidikan-islam #pesantren #pondok-pesantren
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 15/05/26 16:10
v/221927/
Muhammad Irfanudin Kurniawan, Dosen Manajemen Pendidikan Islam Universitas Darunnajah (UDN) JakartaPendidikan Islam tidak kekurangan teori kepemimpinan. Perpustakaan kita penuh dengan kitab-kitab tentang sifat pemimpin, syarat-syaratnya, dan teknik mengelola lembaga. Yang ia kekurangan—dan inilah krisis utama saat ini adalah pemimpin yang hadir sebagai teori itu sendiri.
Pemimpin yang tubuhnya adalah kurikulum, ucapannya adalah silabus, dan tindakannya adalah mata pelajaran.
Di sinilah Al-Qur’an menawarkan satu konsep yang jauh lebih radikal dari sekadar "role model" yaitu uswatun hasanah.
Dari Role Model ke Living Curriculum
Allah SWT berfirman: "Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu uswatun hasanah bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah" (QS al-Ahzab: 21).
Prof. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menjelaskan, kata uswah berarti "keadaan seseorang yang diikuti oleh orang lain", keadaan yang meliputi seluruh totalitas diri, bukan sekadar atribut.
Sementara hasanah berarti "baik" secara komprehensif, meliputi lahir dan batin. Artinya, keteladanan dalam Islam bukan tentang performa sesaat di panggung, melainkan tentang keutuhan eksistensi.
Teori social learning Albert Bandura (1977) mengajarkan bahwa manusia belajar melalui observasi terhadap model. Namun ia berhenti di ranah perilaku (behavioral modeling). Konsep uswatun hasanah melampaui itu, ia menuntut keselarasan antara qalb (hati), ‘aql (akal), dan ‘amal (tindakan). Dalam bahasa tasawuf pendidikan, ini disebut tazkiyah, pembersihan jiwa yang menjadi prasyarat sebelum seseorang mengajar dan memimpin.
Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menulis, "Seorang pendidik ibarat tongkat yang ditanam, bayangannya sendiri yang akan memanjang. Ia tidak cukup hanya berkata, ia harus menjadi."
Di sinilah titik esensialnya, kepemimpinan pendidikan Islam bukan soal menguasai teknik, melainkan soal menghidupkan nilai dalam keseharian.
Kiai dan Adab Sebelum Ilmu
KH Hasyim Asy‘ari dalam Adab al-‘Alim wa al-Muta‘allim menempatkan bab tentang adab pendidik sebelum bab tentang metode mengajar. Bagi beliau, krisis pendidikan Islam berpangkal dari krisis keteladanan para pemimpinnya. Seorang ‘alim yang kehilangan adab tidak lagi layak disebut pendidik, meskipun gelar akademiknya berderet.
Universitas Darunnajah, tempat penulis mengabdi, lahir dari rahim tradisi ini. Para kiai pendiri tidak meninggalkan strategic plan tertulis seperti layaknya kampus modern. Tetapi mereka meninggalkan sesuatu yang lebih hidup dan lebih abadi yaitu jejak keteladanan yang diceritakan dari generasi ke generasi santri.
Bagaimana mereka bangun malam, bagaimana mereka memperlakukan tamu, bagaimana mereka memaafkan. Semua itu menjadi hidden curriculum yang membentuk karakter jauh lebih kuat daripada satuan kredit semester.
Riset kontemporer tentang kepemimpinan kiai di pesantren menjadi penegas hal ini. Model kepemimpinan profetik yang ditemukan di Pesantren Tebuireng dan Mambaul Ma’arif Denanyar, bersifat visioner, transformatif, dan meneladani sifat kenabian (shiddiq, amanah, tabligh, fathanah), ini adalah bukti bahwa keteladanan bukan konsep masa lalu, melainkan praktik hidup yang terus relevan.
Implikasi untuk Lembaga Pendidikan Islam Hari Ini
Jika uswatun hasanah adalah fondasi, maka setidaknya ada tiga implikasi yang harus dijawab oleh para pemimpin pendidikan Islam saat ini:
Pertama, rekrutmen pemimpin tidak cukup berbasis CV. Sekolah dan pesantren harus berani bertanya: apakah calon pemimpin ini layak diteladani oleh murid-muridnya, bukan hanya di ruang rapat, tetapi di pasar, di jalan, dan di rumahnya?
Kedua, pengembangan profesional harus mencakup spiritualitas. Workshop manajemen, pelatihan kepemimpinan, dan sertifikasi dosen tidak boleh sekadar mengisi kompetensi teknis. Harus ada ruang untuk evaluasi diri, muhasabah, dan pembinaan akhlak secara berkelanjutan.
Ketiga, institusi adalah cermin pemimpinnya. Budaya akademik yang korup, tidak disiplin, dan kering integritas seringkali bukan karena sistem yang buruk, melainkan karena pemimpinnya sendiri tidak memancarkan nilai yang ia tuntut dari orang lain.
Mendidik, Bukan Sekadar Mengajar
Di akhir hayatnya, seorang kiai tua di kampung penulis pernah berpesan singkat: "Jangan bangga disebut guru kalau muridmu hanya bertambah pintar tapi tidak bertambah malu saat berbuat salah." Pesan itu sederhana, tetapi ia menampar dunia pendidikan kita yang sering terjebak dalam angka, angka kelulusan, angka akreditasi, angka publikasi.
Uswatun hasanah mengembalikan kita pada esensi: kepemimpinan pendidikan adalah tentang menghidupkan manusia, bukan sekadar menguatkan otak.
Pemimpin pendidikan Islam bukan sekedar manajer yang mengurus administrasi; ia adalah living curriculum yang setiap harinya "dibaca" oleh murid, guru, dan masyarakat.
Jika ingin pendidikan Islam melahirkan generasi beriman, berilmu, dan berakhlak mulia, jawabannya bukan sekadar memperbaiki kurikulum.
Jawabannya adalah siapa yang berdiri di depan kelas, di ruang rektor, dan di serambi pesantren?
Karena pada akhirnya, satu teladan lebih berarti dari seribu perintah.
Kurikulum S3 Manajemen Pendidikan Islam: Membangun Organisme Ilmu yang Hidup
Kurikulum, dalam kerangka organisme pesantren, adalah DNA. Ia menentukan seperti apa organisme itu akan tumbuh, bagaimana ia akan beradaptasi, dan seberapa kuat... | Halaman Lengkap [811] url asal
#perguruan-tinggi #pendidikan-tinggi #pendidikan-islam #universitas-darunnajah #darunnajah
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 13/05/26 14:30
v/220218/
Muhammad Irfanudin Kurniawan, Dosen Universitas DarunnajahBeberapa hari lalu, saya mengikuti rapat penyusunan kurikulum Strata 3 Manajemen Pendidikan Islam (MPI) di Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta. Duduk bersama Prof. Abuddin Nata dan para kolega, kami merumuskan ulang apa yang seharusnya dipelajari oleh seorang doktor. Bukan sekadar daftar mata kuliah. Tapi tentang bagaimana mencetak pemikir yang tidak hanya pintar, tetapi juga beradab, berjejaring, dan mampu menjawab tantangan zaman.
Salah satu renungan saya pada waktu itu. Kurikulum, dalam kerangka organisme pesantren, adalah DNA. Ia menentukan seperti apa organisme itu akan tumbuh, bagaimana ia akan beradaptasi, dan seberapa kuat ia menghadapi badai. Jika DNA-nya cacat, maka organisme akan lemah. Jika DNA-nya unggul, ia akan berkembang biak dan memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Apa yang membuat kurikulum S3 ini menarik? Saya coba baca ulang pokok-pokok pikiran prof. Dr. Abuddin Nata dalam rapat tersebut.
Profil Lulusan: Bukan Sekadar Doktor, Tapi Pemimpin Peradaban
Profil lulusan yang dirumuskan tidak muluk-muluk. Ia ingin melahirkan pribadi yang mampu memimpin, meneliti, dan mengembangkan pendidikan Islam, baik di pesantren, madrasah, maupun perguruan tinggi. Tapi yang menarik, ada empat pilar: integritas pribadi muslim (akhlak mulia), teori kependidikan yang kredibel, kemampuan membangun jaringan dalam dan luar negeri, serta penguasaan teknologi digital mutakhir dan pengalaman empirik.
Ini penting. Selama ini, banyak program doktor yang hanya fokus pada teori. Akibatnya, lulusannya pandai bicara, tetapi tidak paham realitas. Atau sebaliknya, mereka terlalu sibuk dengan proyek lapangan, tetapi tidak memiliki fondasi keilmuan yang kuat. Profil lulusan ini mencoba menyeimbangkan keduanya.
Dalam organisme pesantren, ini adalah DNA yang lengkap. Ia mengandung informasi untuk pertumbuhan fisik (teori), kecerdasan sosial (jaringan), dan ketahanan spiritual (integritas). Tanpa salah satunya, organisme akan tumbang.
Mata Kuliah: Tiga Lapis Metabolisme Keilmuan
Struktur mata kuliah dibagi menjadi tiga kategori: wajib/pokok, pengayaan, dan pendukung. Ini seperti tiga lapis metabolisme dalam organisme.
Lapisan pertama adalah jantung. Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Islam Komprehensif, Penelitian dan Pengembangan Lembaga Pendidikan Islam, serta Teori dan Falsafah Pendidikan Islam dan Pendidikan Barat. Ini adalah fondasi. Tanpa menguasai ini, seorang doktor tidak akan bisa membaca peta persoalan pendidikan Islam secara utuh.
Lapisan kedua adalah organ pendukung: Sejarah dan Kebijakan Pendidikan Islam di Indonesia, Pengembangan Kewirausahaan dan Filantropi, serta Teori dan Aplikasi Integrasi Ilmu Agama dan Umum.
Saya suka dengan usulan adanya mata kuliah kewirausahaan dan filantropi. Karena pesantren dan lembaga pendidikan Islam tidak bisa terus-menerus bergantung pada donatur. Mereka harus mandiri. Dan seorang doktor harus mampu merancang kemandirian itu.
Lapisan ketiga adalah sistem imun: Home Stay di luar negeri. Mahasiswa S3 diterjunkan ke lingkungan internasional. Mereka tinggal bersama keluarga asing, mengunjungi perpustakaan, bertemu pakar, membangun jaringan. Ini penting karena pendidikan Islam di Indonesia tidak bisa berjalan dalam isolasi. Ia harus terhubung dengan pusat-pusat keilmuan global.
Strategi Pembelajaran: DMMJ-L dan Ruh Belajar yang Hidup
Salah satu hal yang paling menarik adalah model pembelajaran yang diusulkan: DMMJ-L atau Deep learning, Mindful learning, Meaningful learning, Joyful learning.
Ini bukan sekadar jargon. Ia adalah upaya untuk menghidupkan proses belajar. Bukan hanya transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan kesadaran, makna, dan kegembiraan.
Model ini mengadopsi teori-teori Barat: Gestalt, Appersepsi Herbart, Reflective thinking John Dewey, Discovery learning Jerome Bruner, dan Inquiry training Richard Suchman. Tapi kemudian diadaptasi dengan nilai-nilai Islam: memadukan kekuatan panca indra, akal, hati nurani, dan hidayah Allah, sebagaimana diisyaratkan dalam QS. Al-Nahl: 78 dan QS. Al-‘Alaq: 1-5.
Ini adalah bentuk integrasi ilmu yang sesungguhnya. Bukan sekadar menempelkan ayat pada teori Barat, tetapi menyaring, memilih, dan kemudian menyusun ulang menjadi kerangka yang utuh.
Pengembangan Kurikulum: Organisme yang Tak Pernah Berhenti Tumbuh
Yang terpenting, kurikulum ini dirancang untuk terus berkembang. Ada delapan hal yang harus diperhatikan: visi lembaga, kebutuhan stakeholder, hasil evaluasi, tantangan iptek, pandangan para pakar, kecenderungan globalisasi, kebijakan pemerintah, dan lain-lain.
Kurikulum bukanlah patung yang dicetak sekali lalu dibiarkan. Ia adalah pohon yang harus terus disiram, dipangkas, dan dipupuk. Organisme yang sehat adalah organisme yang belajar dari lingkungannya.
S3 Bukan Sekadar Gelar, Tapi Amanah
Saya jadi ingat falsafah pohon pisang milik KH Mahrus Amin. Sebuah organisme tidak hanya hidup untuk dirinya sendiri. Ia berbuah, lalu mati, tetapi meninggalkan tunas. Demikian pula seorang doktor. Ia tidak hanya mengejar gelar untuk kebanggaan pribadi. Ia harus menghasilkan karya yang bermanfaat bagi umat. Ia harus mencetak generasi penerus. Ia harus menjadi bagian dari mata rantai peradaban.
Kurikulum S3 Manajemen Pendidikan Islam Universitas Darunnajah, setidaknya di atas kertas, sudah menuju ke arah itu. Ia tidak hanya mengajarkan teori manajemen, tetapi juga membentuk karakter, membangun jaringan, dan mempersiapkan lulusan untuk terjun ke dunia nyata. Dengan catatan: ia harus diimplementasikan dengan sungguh-sungguh. Karena secantik apa pun DNA, tanpa lingkungan yang mendukung, ia tidak akan berekspresi optimal.
Kita tunggu buahnya.
Muhammad Irfanudin Kurniawan, dosen Manajemen Pendidikan Islam di Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta, konsultan pendidikan. Penulis buku Organisme Pesantren, Dakwah Model Canvas, The Essence of Islamic Leadership, Menjejaki Alam Filsafat, dan Menalar Manajemen Pendidikan Islam: Dari Worldview Islam ke Integrasi Ilmu.
Diagnosa Kesehatan Pesantren: Jangan Salah Obat
Pertanyaan terakhir untuk kita renungkan, sebagai para pengelola pesantren: sekarang, pesantren kita ada di tahap mana? Jangan sampai kita memberi obat yang salah.... | Halaman Lengkap [673] url asal
#pesantren #pondok-pesantren #darunnajah #universitas-darunnajah
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 05/05/26 14:44
v/211740/
Muhammad Irfanudin Kurniawan, Dosen Universitas Darunnajah (UDN) JakartaBeberapa bulan ini, kami banyak mendapat keluhan tentang sepinya pendaftar di pesantren, lalu tidak sedikit pengasuhnya yang mengambil langkah dengan memasang spanduk di mana-mana, ada juga pesantren yang ramai pengunjung, tapi sedikit yang daftar dan fenomena yang lebih unik lagi, pesantren santrinya banyak, tapi keuangannya tekor.
Saya sering menemukan ini. Para kiai panik, lalu memberi "obat" yang salah sasaran.
Padahal, setiap masalah punya akar yang berbeda. Beda penyakit, beda obat.
Pernah saya menonton video seorang pengusaha kopi menjelaskan kerangka diagnosis bisnis. Ini mungkin bisa kita jadikan pembelajaran, Ia bilang, jika toko sepi, masalahnya di pemasaran. Jika ramai tapi sedikit yang beli, masalahnya di strategi menjual atau target pasar. Jika pelanggan tidak pernah kembali, masalahnya di produk.
Kerangka itu sangat logis. Dan ternyata, pesantren pun bisa didiagnosis dengan cara yang sama.
Kita bisa belajar dari diagnosa ini. Mari kita bedah satu per satu
Pertama, Santri Sepi, Masalahnya Pemasaran
Kami pernah diundang ke pesantren di Riau. Pengasuhnya gelisah. "Ust, tahun ini pendaftar cuma 40 orang, padahal tahun lalu 80."
Saya tanya, "Lokasi pesantrennya di mana?"
"Di dalam gang, agak masuk dari jalan raya. Tidak ada papan nama."
Saya tertawa kecil. Bukan menghina, tapi kasihan. Pesantrennya bagus, pengajiannya rutin, tapi tidak ada yang tahu karena tidak kelihatan.
Nah disini, obatnya pasang papan nama yang jelas. Aktif di media sosial. Jalin kerja sama dengan SD/MI sekitar. Jangan cuma promosi pas mau pendaftaran, lalu diturunkan lagi.
Kedua, Ramai Survei, Tapi Sedikit Daftar Masalah Strategi Menjual atau Target Salah.
Ini lebih menjebak. Banyak orang datang lihat-lihat, senyum-senyum, tapi yang daftar hanya segelintir.
Bisa dilihat dari dua hal lagi. Promosi salah sasaran. Misalnya, ada yang buka pesantren tahfidz, tapi yang datang anak-anak yang tidak minat hafalan. Kemudian masalah lainnya, tim kita mungkin tidak bisa "menjual" pesantren, artinya mensyiarkan nilai positif pesantrenya. Seperti kurang ramah, kurang meyakinkan, atau tidak bisa menjawab pertanyaan calon wali santri.
Solusinya, pertegas target pasar. Mau melayani siapa? Lalu lakukan pelatihan tim PPDB pesantrennya. Bagaimana cara menyambut, menjelaskan, juga menindaklanjuti calon santri.
Ketiga, santri Masuk, Tapi Banyak Keluar, tidak betah, apa masalahnya, Produk (Pendidikan dan Pengasuhan) di pesantren.
Ini yang paling menyakitkan. Pesantren ditinggal santri, Santri datang, lalu pergi. Tidak betah. Kabar burungnya cepat menyebar.
Salah satu tandanya, wali santri komplain. "Anak saya tidak kerasan, makanannya tidak enak, gurunya galak."
Apa yang bisa dilakukan, evaluasi total. Bukan hanya kurikulum, tapi juga pengasuhan, makanan, kebersihan, keamanan, suasana kekeluargaan. Jika santri betah, itu pertanda produk (Pengasuhan dan pendidikan) pesantren baik.
Keempat, Santri Betah, Pendaftar Banyak, Tapi Keuangan Mandek, masalahnya ada di Akuntansi (Keuangan)
Ini jebakan klasik. Pesantren ramai, uang kas masuk setiap bulan, tapi di akhir tahun tekor. Kok bisa?
Sebagai contoh, biaya tak terduga membengkak. Harga bahan makanan naik, gaji guru membengkak. Pemasukan besar, tapi pengeluaran lebih besar.
Apa yang perlu dilakukan, rapikan catatan keuangan. Hitung ulang biaya per santri. Apakah iuran bulanan sudah sesuai? Jangan sampai loyalitas santri dimanfaatkan dengan dalih "ikhlas". Ini bukan tidak beriman, tapi soal manajemen.
Kelima, Pesantren santrinya makin banyak, Tapi Kiai makin sibuk, ini masalahnya di Sistem dan Kepercayaan
Tahap ini paling melelahkan. Pesantren berkembang, tapi semua keputusan masih bergantung pada kiai. Ketika kiai sakit, kegiatan macet. Ketika keluar kota, panitia bingung.
Artinya tidak ada SOP, tidak ada delegasi. Tidak ada sistem, Semua harus "minta ke kiai".
Apa yang harus dilakukan, bangun sistem. Latih tim. Percayakan kepada orang yang kompeten. Kiai harus naik peran dari operator menjadi pemimpin sejati.
Keenam, semua oke, Tapi puluhan tahun Gitu-Gitu aja, ini artinya Stagnasi
Ini banyak dialami pesantren besar yang sudah mapan. Pendaftar selalu penuh, keuangan aman, sistem jalan. Tapi tidak ada perkembangan. Kurikulum tidak berubah. Tidak ada inovasi.
Cirinya semuanya rutin. Para pengurus dan santri mulai bosan.
Nah di sini kita harus kembali berpikir segar. Evaluasi visi. Cari ide baru. Perlu buka cabang? Perlu digitalisasi? Stagnasi adalah kemunduruan perlahan.
Jadi, Jangan Panik
Pertanyaan terakhir untuk kita renungkan, sebagai para pengelola pesantren: sekarang, pesantren kita ada di tahap mana?
Jangan sampai kita memberi obat yang salah. Beda penyakit, beda obat.
Selamat mendiagnosa.
Value-Driven University: Ikhtiar Universitas Darunnajah Menjawab Tantangan Link and Match
Perdebatan mengenai keselarasan antara lulusan perguruan tinggi dan kebutuhan dunia industri (link and match) kerap mengerucut pada satu tuntutan praktis: kampus... | Halaman Lengkap [863] url asal
#perguruan-tinggi #program-studi-prodi #universitas-darunnajah #darunnajah
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 04/05/26 11:30
v/210142/
Wakil Rektor I Universitas Darunnajah Fajar Suryono, M.APerdebatan mengenai keselarasan antara lulusan perguruan tinggi dan kebutuhan dunia industri (link and match) kerap mengerucut pada satu tuntutan praktis: kampus harus mampu bertransformasi menjadi pemasok tenaga kerja siap pakai.
Menyikapi arus pragmatisme ini, Universitas Darunnajah (UDN) justru mengambil sikap yang teguh dengan memposisikan institusinya sebagai Value-Driven University (Universitas Berbasis Nilai). Kampus ini tidak sekadar membekali mahasiswanya untuk siap bersaing di bursa kerja, tetapi memikul tanggung jawab yang jauh lebih besar, yakni menyiapkan kader pemimpin masa depan yang mampu menebar maslahat seluas-luasnya di tengah masyarakat.
Penegasan identitas dan arah gerak universitas ini disampaikan secara gamblang dalam Pengarahan Mahasiswa Universitas Darunnajah untuk Persiapan Ujian Tengah Semester (UTS).
Fajar Suryono, M.A., selaku Wakil Rektor I, menjabarkan bahwa UDN berdiri di atas prinsip Value-Driven University yang secara fundamental berbeda dengan konsep pendidikan Market-Driven University.
Dalam tata kelola Value-Driven University, amanah diletakkan sebagai fondasi utama institusi, bukan semata-mata menjadikan profit sebagai tujuan utama seperti halnya entitas bisnis. Kampus juga membangun akuntabilitasnya langsung kepada Allah, bukan sekadar kepada investor.
Pendekatan ini dinilai krusial untuk memastikan keberlanjutan visi institusi dalam jangka panjang, menjaga stabilitas visi lintas generasi, dan mengamankan independensi akademik agar tidak rentan digoyahkan oleh tekanan maupun tren pasar sesaat.
Menanamkan Tiga DNA Lulusan Utama
Untuk melahirkan lulusan yang berdaya saing global namun tetap membumi pada nilai-nilai ajaran Islam, UDN secara serius menanamkan Sibghah atau identitas karakter pada mahasiswanya.
Konsep Sibghah ini tidak hanya diartikan secara harfiah sebagai "celupan", tetapi dimaknai secara mendalam sebagai totalitas nilai yang terinternalisasi ke dalam diri mahasiswa.
Proses internalisasi tersebut berfokus pada pembentukan tiga DNA Universitas Darunnajah.
Pertama, Tafaqquh Fiddin (Ulama yang Intelek), di mana lulusan dididik agar kelak mampu mengambil istinbat hukum Islam di tengah ragam persoalan umat modern.
Kedua, DNA Saudagar (Entrepreneur), yang bertujuan mencetak pribadi-pribadi kreatif yang pantang menyerah dan "punya 1000 cara" dalam menghadapi kebuntuan.
Ketiga, DNA Leader atau Mundzirul Qoum, yakni penekanan pada kaderisasi pemimpin.
Ketiga pilar DNA ini berakar kuat pada cita-cita dan wasiat pendiri Darunnajah, KH. Abdul Manaf Mukhayyar.
Beliau mewariskan visi pendidikan yang inklusif dengan menyatakan, "Jika saya jadi orang kaya maka saya akan membuka sekolah gratis untuk orang-orang fakir".
Cita-cita kemanusiaan inilah yang menjadi ruh dari visi mencetak kader pemimpin umat.
Redefinisi Kurikulum dan Makna Belajar
Dalam mewujudkan tujuannya, Universitas Darunnajah melakukan redefinisi terhadap makna pembelajaran itu sendiri.
Di kampus ini, kurikulum tidak direduksi sekadar menjadi deretan mata kuliah demi mengejar nilai sebagai syarat kelulusan mencapai strata tertentu.
Lebih holistik dari itu, kurikulum bagi UDN adalah apa yang dihasilkan dan didapatkan oleh mahasiswa sepanjang masa pendidikannya berupa pengetahuan, pengalaman, dan kesan.
Selaras dengan pandangan tersebut, makna belajar di UDN merupakan sebuah aktivitas yang dilatih dan dibiasakan secara terus-menerus untuk mengubah sikap serta jalan hidup seseorang.
Pihak universitas menyadari bahwa hasil dari proses pendidikan nilai ini tidak akan datang dan terlihat secara instan, melainkan akan terlihat perkembangannya perlahan-lahan selama masa pendidikannya.
Menjawab Kebutuhan Industri melalui Ekosistem Futuristik
Lantas, bagaimana UDN menjawab isu link and match dengan dunia usaha?
Jawabannya terletak pada model ekosistem pendidikan mereka yang dirancang secara integratif, komprehensif, dan futuristik.
Sebagai ekosistem yang integratif, UDN menyatukan elemen pendidikan rumah, pendidikan sekolah, dan pendidikan lingkungan.
Ketiga elemen ini diejawantahkan melalui asrama sebagai laboratorium karakter, kampus sebagai ruang akademik dan ta'dib, serta masjid sebagai episentrum spiritual, epistemik, dan etis.
Universitas berbasis Pesantren berperan sentral menyatukan tripusat pendidikan tersebut menjadi sebuah ekosistem yang utuh.
Pendidikan juga diberikan secara komprehensif menyentuh aspek jasmaniah, intelektual, dan pembentukan akhlak mulia.
Aspek fisik dibangun lewat olahraga dan organisasi; intelektual diasah melalui penelitian dan pembelajaran; sementara akhlak dijadikan etalase kehidupan Islami sehari-hari.
Di sinilah peran elemen futuristik untuk merespons dinamika industri.
Sistem pendidikan UDN didorong agar bersifat adaptif, tidak kaku atau statis, melainkan menyerupai organisme yang terus tumbuh menyesuaikan zaman.
Mahasiswa dicetak agar memiliki kompetensi yang relevan untuk menjawab tantangan zaman dan kebutuhan industri, tanpa harus mengorbankan nilai-nilai fundamental agama.
UDN tidak mendidik mahasisanya hanya untuk memecahkan persoalan hari ini, melainkan secara visioner menyiapkan generasi yang siap memimpin di masa depan.
Peta Jalan Menuju Puncak Dunia
Guna merangkai seluruh gagasan tersebut ke dalam kerja institusional, Universitas Darunnajah telah menyusun roadmap atau peta jalan menuju level global.
Berangkat dari fondasi Good University Governance pada 2022-2026, kampus ini menargetkan pencapaian sebagai Nationally Standard University pada periode 2027-2031.
Inovasi terus dipacu agar kampus menjadi Center of Excellence University di tahun 2032-2036, sebelum melebarkan sayap kolaborasi regional sebagai Pre World Class University di periode 2037-2041.
Puncak dari perjalanan panjang ini adalah mewujudkan World Class University pada rentang tahun 2042-2046.
Peta jalan ambisius tersebut ditopang oleh empat pilar pembangunan tradisi kampus: Visionary Leadership (meliputi keteladanan dan kebijakan strategis), interaksi sosial dan komunitas alumni, budaya akademik dan intelektual, serta lingkungan fisik dan simbolisme arsitektur.
Seluruh gagasan besar Universitas Darunnajah terangkum indah dalam prinsip "Al-Muhafazhatu 'alal qiyami wa at-taghyiiru ilal kamal"—senantiasa menjaga nilai-nilai luhur dan berani berubah menuju kesempurnaan.
Dengan fondasi ini, UDN membuktikan bahwa kesiapan menghadapi dunia industri dan pembentukan karakter pesantren bukanlah dua hal yang bertolak belakang, melainkan jalan terpadu untuk melahirkan lembaga yang senantiasa "Rooted in Tradition, Leading in Education".
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56