#30 tag 24jam
Intuisi Itu Ilmu, Bukan Sekadar Feeling
Selama ini, dunia pendidikan kita sering terlalu sibuk dengan dua hal. Pertama, fakta (empiris). Kedua, logika (rasional). Anak dijejali teori, diuji dengan rumus,... | Halaman Lengkap [920] url asal
#pesantren #pondok-pesantren #pendidikan-agama-islam-pai #universitas-darunnajah
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 29/05/26 14:50
v/234961/
Dosen Manajemen Pendidikan Islam, Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta, Muhammad Irfanudin KurniawanTadi siang, rapat mingguan guru Darunnajah terasa berbeda. Selain pesan nasehat dan evaluasi kegiatan pesantren pekanan.
Serasa seperti perkuliahan filsafat ilmu, mata kuliah yang kami ampu sudah hampir 5 tahu ini.
KH. Hadiyanto Arief, atau biasa kami sapa Ayah Dedy, sedang menjelaskan tentang tacit knowledge dan explicit knowledge.
Istilah ini memang populer di manajemen modern. Tapi beliau membawakan dengan cara pesantren. Sederhana. Mengena.
Beliau bilang, sumber ilmu itu tidak hanya empiris dan rasional.
Ada juga intuisi.
Dan intuisi itu dilatih. Bukan datang tiba-tiba. Ia dilatih lewat apa yang dilihat, didengar, dirasakan, dan dilakukan oleh para santri setiap hari.
Empiris dan Rasional Saja Tidak Cukup
Selama ini, dunia pendidikan kita sering terlalu sibuk dengan dua hal. Pertama, fakta (empiris). Kedua, logika (rasional). Anak dijejali teori, diuji dengan rumus, dinilai dari angka.
Padahal, masih ada lapisan lain. Lapisan yang tidak bisa diukur dengan kertas dan pensil. Lapisan yang hanya bisa dirasakan. Itulah intuisi.
Di pesantren, intuisi ini dilatih lewat keteladanan. Santri melihat kiainya shalat malam, lalu hatinya tersentuh. Santri mendengar guru membaca Al-Qur’an dengan tartil, lalu ia ingin menirukan. Santri merasakan suasana asrama yang asik, lalu ia betah.
Semua itu tidak masuk dalam kurikulum tertulis. Dan tidak mudah dibuat modulnya. Tidak mudah juga ujiannya. Ujiannya buak esai apalagi pilihan ganda. Ujiannya berupan ketahan dan internalisasi nilai dan justru itu yang membentuk karakter.
Pengetahuan Eksplisit dan Tacit
Dalam ilmu manajemen, pengetahuan eksplisit itu yang tertulis. Buku, modul, jurnal, rumus. Mudah diajarkan, mudah diujikan.
Pengetahuan tacit berbeda. Ia melekat pada pengalaman. Sulit diucapkan, apalagi ditulis. Tapi ia ada. Ia hidup. Ia mengalir dari guru ke murid lewat interaksi sehari-hari.
Ayah Dedy menjelaskan, pesantren itu kaya akan pengetahuan Tacit ini. Para kiai dan guru senior punya pengalaman bertahun-tahun. Mereka tahu kapan harus tegas, kapan harus lembut. Mereka tahu cara menyambut tamu, cara menenangkan santri yang keluar, cara mengambil keputusan tanpa rapat panjang.
Masalahnya, pengetahuan itu tidak pernah diekspor menjadi pengetahuan eksplisit. Tidak banyak yang ditulis. Tidak diwariskan secara sistematis. Akibatnya, ketika guru senior pensiun atau wafat, ilmunya ikut pergi.
Proses Eksternalisasi Itu Penting
Dalam rapat pekanan itu, Ayah Dedy mengingatkan pentingnya eksternalisasi. Yaitu, mengubah pengetahuan tacit (tersembunyi) menjadi pengetahuan yang bisa diajarkan.
Misalnya, seorang guru yang hebat dalam mengelola kelas, diminta menuliskan tips-tipsnya. Bukan sekadar cerita, tapi langkah konkret. Lalu disusun menjadi modul. Lalu dilatihkan ke guru muda.
Inilah yang jarang dilakukan pesantren.
Kita sibuk dengan kegiatan rutin. Sibuk mengaji, sibuk beribadah. Tapi lupa mendokumentasikan kekayaan pengalaman yang ada. Akhirnya, ilmu terputus. Regenerasi terhambat.
Ijtihad Darunnajah: Program Magister dan Doktor Manajemen Pesantren
Nah, di sinilah kami melihat ijtihad besar Universitas Darunnajah.
UDN secara resmi telah membuka Program Magister Manajemen Pendidikan Islam (MPI) dengan konsentrasi Manajemen Pesantren. Izinnya keluar melalui SK Kemenag Nomor 1451 Tahun 2025. Dan yang menarik, sebelum SK resmi terbit, sudah ada 20 orang yang mendaftar. Mereka tidak mau ketinggalan. Antusiasmenya tinggi. Ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan ilmu manajemen pesantren itu nyata.
Kuliah perdana MMPI berlangsung pada 8 November 2025. Diikuti 71 mahasiswa. Mereka belajar dari para dosen kompeten, termasuk KH. Sofwan Manaf yang mengajar Leadership, dan kami sendiri mendapatkan kepercayaan membawakan materi Isu-isu Kontemporer Manajemen Pendidikan Islam.
Apa yang diajarkan di program ini? Bukan hanya teori manajemen umum. Tapi bagaimana mengelola pesantren dengan pendekatan modern, tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisional. Ini adalah bentuk eksternalisasi. Pengetahuan Tacit para kiai dan pengasuh pesantren, yang selama ini hanya diwariskan secara lisan, kini mulai dirumuskan menjadi kurikulum yang sistematis.
Tapi UDN tidak berhenti di situ.
UDN juga tengah menunggu turunnya SK Program Doktor (S3) Manajemen Pendidikan Islam dengan konsentrasi yang sama. Asesmen lapangan sudah dilakukan pada April 2026. Targetnya, lulusan S3 nanti bisa mengembangkan ilmu manajemen pendidikan Islam melalui penelitian berkualitas, dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan pendidikan Islam khususnya pesantren di Indonesia.
KH. Hadiyanto Arief dalam sambutannya saat asesmen bilang, pendirian program doktoral ini bukan sekadar penambahan jenjang akademik. Tapi misi ideologis. Universitas Darunnajah akan terus mendidik dengan menjaga kekhasan nilai-nilai pesantren sebagai pondasi utama.
Organisme Pesantren Butuh Sistem Saraf
Dalam kerangka organisme pesantren, proses eksternalisasi ini adalah bagian dari sistem saraf. Ia yang memastikan bahwa informasi mengalir dari satu sel ke sel lain. Tidak hanya di mulut ke mulut, tapi juga tertulis, terdokumentasi, terwariskan.
Tanpa sistem saraf yang baik, organisme akan lambat merespon perubahan. Ia akan mudah lupa. Ia akan kehilangan ingatan kolektif.
Program S2 dan S3 Manajemen Pesantren di UDN adalah upaya membangun sistem saraf itu. Ia mengubah pengetahuan Tacit para kiai menjadi pengetahuan eksplisit yang bisa dipelajari, diteliti, dan dikembangkan oleh generasi berikutnya.
Inilah yang disebut Ayah Dedy sebagai grand system pesantren: sistem pendidikan, sistem kepengasuhan, sistem kemandirian, sistem kaderisasi, sistem organisasi, sistem dakwah, hingga sistem ekonomi dan sosial kemasyarakatan. Semua subsistem itu harus dikelola dengan profesional. Dan untuk itu, dibutuhkan SDM yang tidak hanya paham teori, tapi juga menjiwai nilai-nilai pesantren.
Penutup
Kami masih ingat betul pesan Ayah Dedy di akhir rapat. “Jangan hanya sibuk mengajarkan yang tertulis. Tapi juga rawat yang tidak tertulis. Karena di situlah letak kekuatan pesantren.”
Betul.
Kita memang butuh kurikulum. Butuh modul. Butuh ujian. Tapi jangan sampai kita melupakan bahwa ilmu yang paling berharga sering datang dari pengamatan, keteladanan, dan keheningan batin.
Itulah intuisi. Itulah ilmu yang tidak bisa digantikan oleh kecerdasan buatan mana pun.
Wallahu a‘lam.
---
Muhammad Irfanudin Kurniawan, dosen Manajemen Pendidikan Islam di Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta. Penulis buku Organisme Pesantren, Dakwah Model Canvas, The Essence of Islamic Leadership, Menjejaki Alam Filsafat, dan Menalar Manajemen Pendidikan Islam: Dari Worldview Islam ke Integrasi Ilmu.
Direktorat PAI Komitmen Pendidikan Agama Islam Jadi Fondasi Karakter Bangsa
Direktorat Pendidikan Agama Islam (PAI) Kementerian Agama (Kemenag) mengukuhkan peran pendidikan agama Islam sebagai bagian integral dari agenda pembangunan nasional.... | Halaman Lengkap [870] url asal
#kementerian-agama #pendidikan-agama-islam-pai #karakter-bangsa #guru-agama #pelajaran-islam
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 01/01/26 15:30
v/90632/
JAKARTA - Direktorat Pendidikan Agama Islam (PAI) Kementerian Agama (Kemenag) mengukuhkan peran pendidikan agama Islam sebagai bagian integral dari agenda pembangunan nasional. Termasuk fondasi karakter bangsa dan ketahanan sosial.Seluruh capaian dan kebijakan strategis Direktorat PAI dirancang selaras dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dalam penguatan karakter bangsa serta Asta Protas Menteri Agama yang menempatkan pendidikan agama sebagai fondasi moderasi beragama, ketahanan sosial, dan moral publik Indonesia.
Dalam kerangka tersebut, pendidikan agama Islam tidak diposisikan semata sebagai pelengkap kurikulum, melainkan sebagai investasi peradaban yang menentukan arah pembentukan karakter, etika publik, dan daya tahan sosial bangsa di tengah tantangan global dan disrupsi nilai.
Berdasarkan data nasional hingga akhir 2025, jumlah Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) tercatat sebanyak 262.971 orang yang melayani 41.883.439 siswa Muslim pada 317.520 sekolah umum di seluruh Indonesia. Rasio ini mencerminkan besarnya mandat strategis guru PAI sebagai penjaga nilai keagamaan, etika sosial, dan moderasi beragama dalam ekosistem pendidikan nasional yang semakin kompleks.
Dalam rangka memperkuat profesionalisme pendidik, Direktorat PAI terus mengakselerasi pelaksanaan Pendidikan Profesi Guru (PPG) sebagai instrumen utama peningkatan mutu dan sertifikasi. Hingga 2025, sekitar 90,2% Guru PAI telah bersertifikat pendidik, sementara 9,8% atau 25.880 guru lainnya menjadi prioritas kebijakan lanjutan melalui skema PPG prajabatan dan afirmasi peningkatan kualifikasi pada tahun berikutnya.
Seiring dengan peningkatan kompetensi, negara juga memastikan keberlanjutan kesejahteraan guru PAI melalui pembayaran Tunjangan Profesi Guru (TPG) bagi guru yang telah memenuhi persyaratan sertifikasi. Kebijakan ini diposisikan sebagai bentuk kehadiran negara dalam menjaga kesinambungan peran guru PAI sebagai aktor utama pembentukan karakter peserta didik.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag Amin Suyitno, menegaskan capaian sepanjang 2025 merupakan hasil perubahan paradigma kebijakan pendidikan agama Islam—dari pendekatan administratif menuju pendekatan strategis yang berorientasi dampak jangka panjang.
“Sepanjang tahun 2025, Direktorat Pendidikan Agama Islam tidak sekadar mengelola program, tetapi membangun fondasi jangka panjang pendidikan agama Islam sebagai penyangga karakter bangsa. Peningkatan kompetensi guru, afirmasi kesejahteraan, serta penguatan literasi keagamaan merupakan ikhtiar sistemik agar pendidikan agama tidak berhenti pada hafalan dan simbol, tetapi membentuk cara berpikir, kepekaan sosial, dan etika publik,” ujarnya, Kamis (1/1/2026).
Amin Suyitno menegaskan guru PAI harus ditempatkan sebagai subjek utama perubahan dalam pembangunan peradaban bangsa. Guru PAI adalah aktor strategis peradaban. Karena itu, kehadiran negara tidak cukup melalui regulasi, tetapi harus diwujudkan melalui afirmasi nyata.
“Peningkatan kompetensi, kepastian kesejahteraan, dan ekosistem pendukung yang sehat. Pendidikan agama Islam harus melahirkan religiositas yang matang, moderasi yang berakar, dan keberagamaan yang memberi solusi atas persoalan sosial,” tegasnya.
Amin Suyitno juga menekankan bahwa arah kebijakan PAI ke depan akan semakin berbasis data, asesmen, dan akuntabilitas publik.
“Asesmen literasi beragama, indeks pendidikan agama, dan pemetaan kompetensi guru menjadi pijakan agar setiap kebijakan terukur dan berdampak. Pendidikan agama Islam tidak boleh berjalan dalam ruang asumsi, tetapi harus berada dalam ruang data dan tanggung jawab publik,” imbuhnya.
Pada aspek penguatan literasi keagamaan, Direktorat PAI melaksanakan Gerakan Bebas Buta Huruf Al-Qur’an di Sekolah, yang diawali dengan Asesmen Tuntas Baca Al-Qur’an (TBQ) bagi Guru PAI di enam provinsi. Program ini dilaksanakan dengan penjaminan mutu oleh Universitas PTIQ serta memanfaatkan platform digital CintaQu, sebagai respons atas rendahnya kemampuan baca Al-Qur’an yang selama ini belum terpetakan secara objektif.
Selain itu, Direktorat PAI juga melaksanakan Asesmen Nasional Literasi Pendidikan Agama di Sekolah terhadap guru dan siswa sekolah dasar. Asesmen ini dirancang dengan pendekatan pedagogis berbasis Taksonomi Bloom yang mengukur aspek kognitif, psikomotorik, dan afektif, serta diposisikan sebagai data dasar komplementer dalam penguatan mutu pembelajaran PAI.
Direktur Pendidikan Agama Islam, M. Munir, menegaskan seluruh capaian tersebut dirancang dalam satu kerangka kebijakan yang saling terhubung dan berorientasi keberlanjutan.
“Kami tidak merancang program secara terpisah dan seremonial. Seluruh capaian Direktorat PAI sepanjang 2025—mulai dari penguatan kompetensi guru, asesmen literasi beragama, digitalisasi pembelajaran, hingga pembinaan pelajar dan mahasiswa—disusun sebagai satu ekosistem kebijakan yang saling menguatkan,” ujarnya.
Munir menegaskan pendidikan agama Islam harus hadir secara nyata dalam kehidupan sehari-hari peserta didik.
“Pendidikan agama Islam tidak boleh berhenti di ruang kelas dan dokumen kebijakan. Karena itu, penguatan literasi Al-Qur’an, pengembangan sekolah moderasi, kantin halal dan sehat, serta kultur keagamaan di sekolah terus kami dorong agar nilai agama benar-benar hidup dalam praktik keseharian,” jelasnya.
Dalam bidang inovasi, Direktorat PAI mencatat capaian digitalisasi layanan pendidikan melalui penyusunan 40 buku PAI berbasis digital dan Artificial Intelligence (Smart PAI) yang dirancang untuk diakses oleh puluhan juta siswa, guru, mahasiswa, dan dosen PAI di sekolah serta perguruan tinggi umum.
Pada ranah penguatan ekosistem keagamaan generasi muda, Direktorat PAI mendorong berbagai program strategis, antara lain pembentukan Duta Wakaf Sekolah dari 34 provinsi, penyelenggaraan Kongres Rohis Nasional I, Pesantren Ramadan Pelajar Nasional, serta Kongres Pergerakan Mahasiswa Moderasi Beragama dan Bela Negara (PMMBN).
Melalui PMMBN dan Rohis, Direktorat PAI secara sistematis menumbuhkembangkan ekosistem moderasi beragama dan religious culture di kalangan pelajar dan mahasiswa sebagai bagian dari pembentukan kesadaran kebangsaan dan keberagamaan yang inklusif.
“Melalui Rohis dan PMMBN, kami memastikan bahwa moderasi beragama tidak berhenti sebagai wacana kebijakan, tetapi tumbuh sebagai kesadaran kolektif dan kultur keagamaan generasi muda. Inilah investasi jangka panjang pendidikan agama Islam bagi bangsa dan negara,” tuturnya.
Dengan tingkat serapan anggaran yang tinggi pada tahun ini, Direktorat PAI optimistis dapat terus memperkuat pendidikan agama Islam sebagai fondasi karakter bangsa, moral publik, dan ketahanan sosial Indonesia di masa depan.
Kemenag Perkuat Madrasah hingga PTKI Lewat Peta Jalan Pendidikan Islam 2030–2045
Kemenag meresmikan Peta Jalan Pendidikan Islam 2023–2045. Peta jalan ini menjadi dokumen strategis yang memuat arah kebijakan, transformasi kurikulum, dan lainnya.... | Halaman Lengkap [433] url asal
#kementerian-agama #pendidikan-islam #pendidikan-agama-islam-pai #kemenag
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 30/12/25 21:03
v/89084/
JAKARTA - Kementerian Agama (Kemenag) meresmikan Peta Jalan Pendidikan Islam 2023–2045. Peta jalan ini menjadi dokumen strategis yang memuat arah kebijakan, transformasi kurikulum, penguatan kelembagaan, serta pengembangan sumber daya manusia pendidikan Islam hingga dua dekade ke depan.Peluncuran Peta Jalan Pendis 2030-2045 ini diluncurkan bersamaan dengan penyampaian laporan kinerja dan arah pengembangan Pendidikan Islam dalam kegiatan Review and Design on Islamic Education Tahun 2025.
Dirjen Pendidikan Islam Kemenag Amien Suyitno menjelaskan bahwa forum Review and Design menjadi ruang refleksi strategis untuk menilai capaian Direktorat Jenderal Pendidikan Islam sepanjang satu tahun terakhir, sekaligus merancang langkah ke depan dalam menyiapkan pendidikan Islam yang adaptif, relevan, dan berdaya saing menuju Indonesia Emas 2045.
“Para direktur kami minta mempresentasikan langsung capaian dan rencana kerjanya di hadapan Menteri Agama. Ini bukan sekadar laporan, tetapi proses pengujian pemahaman terhadap tugas dan fungsi masing-masing,” katanya, dalam keterangan resmi, Selasa (30/12/2025).
Ia menyampaikan bahwa transformasi pendidikan Islam mencakup seluruh jenjang, mulai dari madrasah, pendidikan diniyah dan pesantren, hingga perguruan tinggi keagamaan Islam (PTKI). Transformasi tersebut diarahkan untuk melahirkan khairu ummah, umat terbaik yang unggul secara spiritual, moral, intelektual, dan sosial.
Menurutnya, pendidikan Islam ke depan dituntut mampu menjawab tantangan global, seperti digitalisasi, pemerataan akses pendidikan, serta dinamika perubahan sosial, tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan.
“Pendidikan Islam harus mampu menjaga harmoni antara kemajuan teknologi dan nilai kemanusiaan, serta berkontribusi nyata bagi peradaban bangsa,” tegasnya.
Acara ini turut dihadiri oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar, Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Kamaruddin Amin, pejabat tinggi madya di lingkungan Kementerian Agama, juga siswa-siswi dari madrasah dan juga pondok pesantren.
Suyitno juga menekankan pentingnya pendekatan future studies dalam pengembangan pendidikan Islam. Kajian masa depan ini dinilai perlu menjadi bagian dari konsentrasi akademik di PTKI agar mampu memprediksi kebutuhan umat dan bangsa di masa mendatang.
“Kajian masa depan bukan hal baru secara global, namun sudah saatnya menjadi perhatian serius dalam pengembangan pendidikan Islam kita,” jelasnya.
Selain sesi review and design, kegiatan ini juga menampilkan mini tur “Pendidikan Islam Masa Depan” serta pelibatan siswa madrasah dan dosen PTKI dalam penampilan seni dan kreativitas, sebagai penegasan bahwa produk pendidikan Islam memiliki talenta multidimensional, baik akademik maupun nonakademik.
Rangkaian acara juga diisi dengan penyerahan donasi kemanusiaan bagi korban bencana di Sumatra yang berasal dari mitra perbankan Kementerian Agama.
Menutup laporannya, Dirjen Pendis menyampaikan apresiasi kepada seluruh jajaran, mitra, dan pemangku kepentingan yang telah mengorkestrasi kegiatan ini, seraya berharap Peta Jalan Pendidikan Islam menjadi pijakan kuat dalam menyongsong masa depan pendidikan Islam yang lebih baik.
“Semoga ini menjadi penutup tahun yang bermakna dan awal langkah yang lebih kuat untuk masa depan pendidikan Islam Indonesia,” pungkasnya.
Kemenag Rilis Indeks PAI 2025, Fokus Ukur Kompetensi Guru dan Siswa SD
Kementerian Agama (Kemenag) merilis Indeks Pendidikan Agama Islam 2025 di sekolah. Indeksasi ini bertujuan menyediakan data dasar (baseline data) yang objektif,... | Halaman Lengkap [749] url asal
#pendidikan-islam #pendidikan-agama-islam-pai #kemenag
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 30/12/25 20:50
v/89056/
JAKARTA - Kementerian Agama (Kemenag) merilis Indeks Pendidikan Agama Islam (PAI) 2025di sekolah. Indeksasi ini bertujuan menyediakan data dasar (baseline data) yang objektif, terstandar, dan berkelanjutan guna mengukur keberhasilan pendidikan agama di sekolah.Indeks ini disusun Kemenag melalui Direktorat Pendidikan Agama Islam (PAI) menggandeng peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Pusat Strategi Kebijakan Pendidikan Agama dan Keagamaan (Pustrajak Penda) pada Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) serta Perguruan Tinggi Ilmu Al Quran (PTIQ) Jakarta untuk melakukan indeksasi pendidikan agama di sekolah.
Langkah ini sebagai upaya dalam Peningkatan kualitas layanan pendidikan agama di sekolah dengan menyediakan data baseline indeks komposit pendidikan agama. Sekaligus menjawab kebutuhan data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Kementerian Agama dan Kementerian/Lembaga terkait tentang indeks PAI serta menjadi baseline dalam pengambilan kebijakan
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, Amin Suyitno, mengatakan indeksasi pendidikan agama dikembangkan dengan pendekatan pedagogis. Karena itu, Kemenag menggunakan Taksonomi Bloom sebagai kerangka konseptual utama dalam penyusunan Indeks Pendidikan Agama.
“Pendidikan agama di sekolah berada dalam ranah pedagogis. Capaian pembelajaran diukur melalui tiga domain utama, yakni kognitif, psikomotorik, dan afektif,” kata Amin dalam keterangan resmi, Selasa (30/12/2025).
Menurut Amin, pendekatan tersebut memastikan hasil pengukuran benar-benar mencerminkan keluaran dari proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah. Indeksasi pendidikan agama bersifat komplementer terhadap berbagai survei keberagamaan yang telah ada.
Selama ini, kata dia, sejumlah lembaga menggunakan teori religiositas Glock dan Stark yang lebih menyoroti praktik dan ekspresi keberagamaan masyarakat dari perspektif sosiologis.
“Indeksasi yang dikembangkan Kemenag secara khusus memotret hasil pendidikan agama di sekolah. Fokusnya pada kompetensi pedagogis peserta didik dan guru, bukan semata tingkat keberagamaan sosial,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Pendidikan Agama Islam Kemenag, M Munir mengatakan, pada tahap awal, asesmen Indeks Pendidikan Agama Islam Tahun 2025 difokuskan pada jenjang sekolah dasar (SD).
Pemilihan jenjang ini didasarkan pada pertimbangan bahwa SD merupakan fase pendidikan paling dasar dan fondasional dalam membangun literasi keagamaan, pemahaman ajaran pokok, sikap sosial, serta kebiasaan ibadah peserta didik.
Munir menyebut, pelaksanaan survei dan pengolahan indeks dilakukan oleh tim peneliti lintas institusi yang melibatkan BRIN, dosen dari berbagai perguruan tinggi, serta Pusat Strategi Kebijakan Pendidikan Agama dan Keagamaan (Pustrajak Penda) pada Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM).
“Seluruh rangkaian kegiatan dilaksanakan secara nasional sepanjang 2025 dengan menjunjung prinsip validitas, reliabilitas, dan akuntabilitas data,” kata Munir.
Munir mengatakan, hasil asesmen terhadap 160.143 guru PAI di seluruh Indonesia menunjukkan pemahaman ajaran dasar agama sebesar 62,34, pengamalan ibadah pokok sebesar 85,96, pengamalan ibadah sosial sebesar 88,68, sikap sosial sebesar 82,80, serta sikap terhadap lingkungan (hidup, budaya, dan negara) sebesar 88,78.
Kemudian, lanjut M Munir, sebagai bentuk triangulasi, kemampuan membaca Al Quran guru diuji melalui perekaman langsung dan dinilai oleh pakar dari PTIQ. "Hasilnya, kategori membaca mahir tercatat 11,35 persen, kategori menengah 30,39 persen, dan kategori dasar 58,26 persen, dengan rata-rata nasional 57,17 persen," ujarnya.
Sedangkan asesmen terhadap peserta didik SD difokuskan pada siswa kelas V. Survei dilakukan dengan metode sampel tingkat kepercayaan 95 persen, melibatkan 13.582 siswa dari total populasi nasional 23.836.575 siswa dan 3.251.617 siswa kelas 5 SD.
Hasil asesmen siswa menunjukkan pemahaman pada Aspek kognitif pemahaman ajaran dasar agama indikator terlemah adalah memahami rukun iman (57.43); indikator terkuat adalah memahami ihsan (74.15).
Untuk Aspek psikomotorik, pengamalan ibadah ritual indikator terlemah pada mendaras Al-Quran (77.46); indikator terkuat adalah berdoa (81.55). Aspek psikomotorik pengamalan ibadah sosial indikator terlemah pada shalat berjamaah (80.69); indikator terkuat adalah memberikan sebagian harta (infak dan sedekah) (87.26).
Selanjutnya, Aspek afektif sikap sosial indikator terendah pada sikap kesetaraan (64.03); indikator terkuat adalah kerjasama (82.60). Aspek afektif sikap terhadap lingkungan (alam, budaya, dan negara) indikator terendah pada sikap terhadap budaya (75.07); indikator terkuat adalah sikap terhadap alam (79.58).
Munir menambahkan, triangulasi kemampuan membaca Al Quran siswa dilakukan melalui pengujian langsung oleh 680 enumerator dan dinilai oleh guru serta pengawas PAI yang ditunjuk Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi. “Hasilnya, kategori mahir 3,2 persen, kategori madya 29,3 persen dan kategori pratama 67,5 persen,” terangnya.
“Temuan ini menunjukkan bahwa tingginya karakter religiositas masyarakat Indonesia belum sepenuhnya ditopang oleh literasi dasar keagamaan yang memadai, khususnya kemampuan membaca kitab suci dan pemahaman ajaran dasar agama,” tandasnya.
Dia menegaskan pentingnya pengukuran keberhasilan pendidikan agama melalui pendekatan pedagogis yang spesifik.
“Keberhasilan pendidikan agama di sekolah tidak cukup diukur melalui indikator keberagamaan sosial semata, tetapi harus dilihat dari capaian pembelajaran peserta didik dan kompetensi guru,” ujar Munir.
Olimpiade dan Lomba PAI 2025 Ditutup, Sekjen Kemenag Dorong Penguatan Kurikulum Cinta
Kemenag menekankan pentingnya penguatan kurikulum cinta saat penutupan Olimpiade dan Semarak Lomba PAI 2025 di Jakarta pada Selasa (2.12.2025) malam. Olimpiade... | Halaman Lengkap [496] url asal
#kementerian-agama #indonesia-emas #pendidikan-agama-islam-pai #kurikulum-cinta
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 03/12/25 12:35
v/59189/
JAKARTA - Olimpiade dan Semarak Lomba Pendidikan Agama Islam (PAI) 2025 resmi ditutup di Jakarta pada Selasa, 2 Desember 2025 malam. Kementerian Agama (Kemenag) menekankan pentingnya penguatan kurikulum cinta.Acara puncak yang dihadiri para gubernur, wali kota, pejabat daerah, Kabid PAI/PAKIS/Pendis pada Kanwil Kemenag Provinsi, serta ribuan peserta dari berbagai wilayah Indonesia ini menjadi momentum refleksi sekaligus penegasan arah pembangunan pendidikan agama di masa depan.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Agama (Kemenag) Kamarudin Amin menyampaikan salam hormat dan pesan khusus dari Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar yang sedianya hadir namun berhalangan. Sebab, harus memenuhi undangan Raja Arab Saudi sebagai salah satu pengarah Masjid Nabawi.
Menteri menitipkan apresiasi mendalam kepada pemerintah provinsi, kabupaten, dan kota atas komitmen luar biasa dalam memperkuat ekosistem Pendidikan Agama Islam di sekolah-sekolah.
Kamarudin memberikan penghargaan tinggi kepada seluruh panitia, para guru, dan para peserta yang telah menampilkan prestasi terbaik. Ajang ini tercatat melibatkan representasi dari 41,6 juta siswa muslim, 7,8 juta mahasiswa, serta 250.000 guru PAI di seluruh Indonesia.
"Sebuah capaian kompetisi yang dinilai monumental dan sarat makna bagi penguatan karakter generasi bangsa," ujarnya, Rabu (3/12/2025).
Salah satu poin penting yang ditekankan dalam acara penutupan adalah penguatan Kurikulum Cinta, sebuah gagasan strategis yang menjadi arah baru pembelajaran Pendidikan Agama Islam baik di sekolah maupun madrasah.
"Kurikulum ini menanamkan lima pilar cinta: cinta pada diri sendiri, cinta pada sesama, cinta pada lingkungan, cinta pada Tanah Air, dan cinta kepada Allah SWT," katanya.
Model pendidikan tersebut dinilai relevan untuk menjawab tantangan zaman, sekaligus membangun karakter peserta didik yang berintegritas, progresif, peduli sosial, dan kokoh secara spiritual.
Pesan ini disampaikan dengan penekanan bahwa keberagamaan harus berdampak—tidak hanya pada kesalehan personal, tetapi juga pada kesalehan sosial yang dirasakan oleh masyarakat luas.
Kemenag juga menyoroti pentingnya membangun kepekaan ekologis atau ekoteologi, sebuah pendekatan keberagamaan yang menempatkan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari ibadah.
Guru-guru PAI diimbau untuk mengintegrasikan praktik langsung, mulai dari menjaga kebersihan hingga menggerakkan gerakan menanam pohon.
"Jika setiap siswa Muslim menanam satu pohon setiap tahun, maka Indonesia dapat menumbuhkan lebih dari 41 juta pohon yang berdampak luas bagi keberlanjutan lingkungan," katanya.
Selain itu, penguatan nasionalisme menjadi pilar yang tidak terpisahkan. Anak-anak yang belajar agama diharapkan tumbuh sebagai generasi yang mencintai tanah air dan siap menjadi penjaga masa depan Indonesia.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Amien Suyitno menyampaikan apresiasi mendalam kepada para peserta dari seluruh provinsi termasuk dari wilayah yang terdampak bencana seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Suyitno menilai kehadiran para finalis dari daerah tersebut adalah bentuk pengabdian yang luar biasa dan pantang menyerah. Suyitno juga mengajak untuk mendoakan saudara-saudara sebangsa dan se-tanah air yang terdampak bencana banjir dan longsor khusunya di wilayah Sumatera.
Penutupan Olimpiade dan Semarak Lomba PAI 2025 ini sekaligus menandai komitmen bersama untuk memperkuat transformasi sosial menuju Indonesia Emas 2040.
Melalui sinergi antara Kementerian Agama, pemerintah daerah, para guru, dan para peserta didik, kegiatan ini diyakini menjadi pijakan kuat dalam membentuk bangsa yang maju, berkarakter, dan bermoral kuat.
Olimpiade PAI 2025, Wamenag Ajak Siswa Perkuat Karakter dan Praktik Nilai Agama
Wamenag menegaskan bahwa olimpiade ini bukan sekadar ajang perlombaan, tetapi ruang bagi siswa untuk mengaktualisasikan nilai keagamaannya secara lebih mendalam.... | Halaman Lengkap [554] url asal
#olimpiade #wamenag #kemenag #pendidikan-agama-islam-pai
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 01/12/25 14:16
v/56566/
JAKARTA - Wakil Menteri Agama ( Wamenag ), Romo Muhammad Syafi’i, resmi membuka Grand Final Olimpiade Pendidikan Agama Islam (PAI) 2025 dan Doa PAI untuk Bangsa. Dalam sambutannya, Wamenag menegaskan bahwa olimpiade ini bukan sekadar ajang perlombaan, tetapi ruang bagi siswa untuk mengaktualisasikan nilai keagamaannya secara lebih mendalam.Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian PAI Fair 2025 ini mempertemukan para pelajar dari SD, SMP, SMA hingga mahasiswa dari berbagai daerah. Ribuan peserta mengikuti seleksi panjang sebelum akhirnya terpilih menjadi finalis yang datang ke Jakarta.
Wamenag menyebut, Olimpiade PAI merupakan momentum penting untuk menunjukkan bahwa Pendidikan Agama Islam di sekolah umum mampu melahirkan generasi yang berkarakter kuat, unggul, moderat, dan cinta tanah air.
“Saya mengapresiasi kegiatan ini karena memberi kesempatan bagi siswa untuk menunjukkan pemahaman keagamaannya. Saya berharap, pulang dari sini para peserta menjadi pribadi yang lebih Islami dan berkarakter mulia,” ujarnya, melalui siaran pers, Senin (1/12/2025).
“Kualitas itu harus dibawa pulang, menjadi teladan di daerah masing-masing,” tambahnya.
Romo Syafi’i juga meminta peserta melaporkan hasil dan pengalaman mereka kepada kepala daerah masing-masing. Menurutnya, kehadiran siswa dalam ajang nasional ini menjadi bukti bahwa investasi pemerintah daerah dalam pendidikan agama telah menghasilkan prestasi membanggakan.
“Juara atau tidak, kalian tetap pemenang. Jadikan pengalaman di sini sebagai persembahan untuk daerah dan bangsa,” tegasnya.
Hadir pula Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, yang menyoroti pentingnya PAI sebagai pilar utama pembentukan karakter generasi muda.
Fajar menegaskan bahwa pembelajaran agama harus dipahami sebagai proses internalisasi nilai, bukan sekadar penyampaian materi.
Ia menjelaskan fungsi ganda PAI: Bonding, memperkuat keimanan dalam diri peserta didik; serta Bridging, membentuk keterampilan sosial dan kemampuan hidup harmonis di tengah keberagaman.
Mengutip survei BRIN 2024, Fajar mengungkap bahwa meski mayoritas masyarakat Indonesia mengaku religius, hanya sebagian kecil yang memahami ajaran agamanya secara komprehensif. Kondisi ini dinilainya sebagai tantangan besar dalam pendidikan agama modern.
“Karena itu, guru PAI harus menguasai pedagogi pembelajaran mendalam. Yang penting bukan banyaknya materi, tetapi esensi nilai yang benar-benar perlu dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.
Ia menilai Olimpiade PAI sebagai ruang perjumpaan sosial yang mempertemukan peserta dari berbagai daerah. Fajar berharap nilai-nilai moderasi dan keterbukaan dapat dibawa pulang oleh setiap peserta sebagai energi positif bagi sekolah masing-masing.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis), Amien Suyitno, menuturkan bahwa penyelenggaraan Olimpiade PAI tahun ini diliputi suasana keprihatinan nasional. Musibah banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat menjadi perhatian utama dalam pembukaan acara.
“Kita tidak pernah menyangka musibah terjadi saat kegiatan berjalan. Karena itu, kami selipkan doa khusus agar Allah mengangkat musibah ini. Semoga saudara-saudara kita diberi ketabahan,” ucap Suyitno.
Ia juga menjelaskan ada tujuh finalis dari wilayah terdampak yang tidak dapat hadir secara langsung. Namun Kemenag memastikan mereka tetap dapat mengikuti kompetisi secara penuh melalui fasilitas khusus.
Olimpiade PAI 2025 mencatat 54.880 pendaftar dari berbagai jenjang pendidikan. Setelah rangkaian seleksi, terpilih 430 finalis yang bersaing di tingkat nasional. Terdapat delapan kategori kompetisi, mulai dari Olimpiade PAI, MHQ, MTQ, pidato, hingga konten kreatif.
“Kompetisi ini bukan hanya adu intelektual, tetapi pembinaan karakter disiplin, tanggung jawab, dan kebersamaan. Nilai-nilai ini sangat penting di tengah situasi kebencanaan yang dihadapi bangsa,” tutur Suyitno.
Dengan mengusung semangat moderasi, kepedulian, dan karakter unggul, Olimpiade PAI 2025 diharapkan menjadi ruang pembentukan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga siap menjadi teladan di tengah masyarakat.
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56