Produksi batik Cirebon meningkat, namun limbah mencemari lingkungan. Pemerintah daerah berencana membangun IPAL komunal untuk solusi berkelanjutan. [438] url asal
Bisnis.com, CIREBON – Pemerintah daerah didesak segera menghadirkan solusi konkret atas persoalan limbah industri batik di Kabupaten Cirebon yang dinilai kian mendesak dan berpotensi mengganggu keberlanjutan ekonomi daerah.
Isu ini mencuat seiring meningkatnya aktivitas produksi batik di sejumlah sentra, namun belum diimbangi sistem pengolahan limbah yang memadai.
Bupati Cirebon Imron Rosyadi menegaskan pemerintah daerah tidak menutup mata terhadap persoalan tersebut. Menurutnya, industri batik merupakan salah satu penggerak ekonomi kerakyatan yang menyerap ribuan tenaga kerja, tetapi pengelolaan limbah cair hasil produksi masih menjadi pekerjaan rumah besar.
“Industri batik adalah kekuatan ekonomi masyarakat. Namun aspek lingkungan tidak boleh diabaikan. Kami sedang menyiapkan langkah-langkah konkret agar aktivitas produksi tetap berjalan tanpa merusak lingkungan,” ujar Imron, Senin (23/2/2026).
Permasalahan utama terletak pada limbah cair dari proses pewarnaan kain yang mengandung bahan kimia sintetis. Sebagian pelaku usaha skala kecil dan menengah masih membuang limbah langsung ke saluran air tanpa melalui instalasi pengolahan air limbah (IPAL) yang sesuai standar.
Kondisi ini dikhawatirkan mencemari sungai dan sumber air warga, sekaligus memicu persoalan kesehatan dalam jangka panjang.
Secara ekonomi, persoalan limbah berpotensi menimbulkan biaya sosial dan lingkungan yang lebih besar dibandingkan nilai tambah industri itu sendiri. Jika pencemaran terjadi secara masif, beban pemulihan lingkungan dapat membengkak dan menggerus anggaran daerah.
Selain itu, citra batik Cirebon sebagai produk unggulan bisa terdampak apabila isu lingkungan tidak ditangani serius.
Imron menjelaskan, salah satu opsi yang tengah dikaji adalah pembangunan IPAL komunal di sentra-sentra batik. Skema ini memungkinkan pelaku usaha kecil berbagi fasilitas pengolahan limbah sehingga biaya investasi tidak sepenuhnya ditanggung masing-masing pengrajin.
Pemerintah daerah juga membuka peluang kolaborasi dengan pemerintah pusat maupun pihak swasta untuk pendanaan.
“Kami dorong pendekatan kolektif. Tidak mungkin seluruh pelaku UMKM membangun IPAL sendiri karena keterbatasan modal. Maka solusinya adalah IPAL terpadu di kawasan sentra produksi,” katanya.
Data pemerintah daerah menunjukkan industri batik di Cirebon didominasi usaha mikro dan kecil. Struktur usaha seperti ini membuat kapasitas permodalan terbatas, sehingga pengeluaran tambahan untuk pengolahan limbah kerap dianggap beban.
Padahal, dalam jangka panjang, penerapan standar lingkungan justru dapat meningkatkan daya saing produk, terutama untuk pasar ekspor yang semakin ketat terhadap isu keberlanjutan.
Selain pembangunan infrastruktur, pemerintah juga menyiapkan program edukasi dan pendampingan teknis kepada pelaku usaha. Pelatihan difokuskan pada penggunaan bahan pewarna ramah lingkungan serta teknik produksi yang lebih efisien air. Upaya ini diharapkan menekan volume limbah sekaligus menurunkan biaya produksi.
Imron menegaskan penanganan limbah bukan semata isu lingkungan, tetapi juga strategi menjaga keberlanjutan ekonomi daerah. Tanpa perbaikan sistem pengelolaan, industri batik berisiko menghadapi sanksi regulasi atau penolakan pasar.
“Ke depan, kami ingin industri batik Cirebon tumbuh dengan prinsip ekonomi hijau. Produktivitas naik, tenaga kerja terserap, tetapi kualitas lingkungan tetap terjaga,” ujarnya.
Arkanza, brand batik modern, sukses menembus pasar global berkat inovasi desain dan strategi digital. Didirikan Mahfud Fadholi pada 2018. [470] url asal
Bisnis.com, JAKARTA --- Siapa sangka, brand batik modern yang kini dikenal sebagai Batik Arkanza bermula dari tekad kuat seorang lulusan baru yang menolak jalur konvensional. Mahfud Fadholi, pendiri Arkanza, berhasil mengubah idealismenya menjadi brand batik pria yang kini tidak hanya digemari di pasar domestik, tetapi juga telah merambah pasar internasional.
Memulai perjalanan pada tahun 2018 setelah menamatkan studi S1 Manajemen Ekonomi, Mahfud langsung memilih jalur wirausaha. “Saya memilih membangun brand sendiri yang berkelanjutan dan fokus pada identitas desain, bukan sekadar mengikuti tren musiman,” ujarnya.
Awal Mandiri dan Titik Balik Digital
Mahfud memulai tanpa modal besar. Ia memanfaatkan penghasilannya sebagai driver layanan transportasi online untuk mengumpulkan dana. Komitmennya untuk mandiri terlihat dari langkah strategisnya mengalihkan aset yang dimilikinya, yang kemudian menjadi modal awal untuk material dan proses produksi.
Produksi awal dilakukan secara kolaboratif dengan para perajin batik lokal di Solo, yang hingga kini menjadi mitra tetap Arkanza. Setelah sukses dengan strategi penjualan digital awal (Facebook), titik balik besar terjadi ketika Arkanza berekspansi ke marketplace digital, terutama Shopee, pada periode 2019–2020. Platform digital ini tidak hanya membuka kanal penjualan baru, tetapi juga memberikan dukungan signifikan melalui pelatihan pengembangan UMKM.
Seiring pertumbuhan permintaan, skala operasional Arkanza telah berkembang pesat. Mereka kini didukung oleh tim yang solid dan memiliki kapasitas produksi yang mampu mencukupi permintaan pasar yang semakin bertumbuh.
Fokus utama Arkanza adalah kemeja batik pria dengan desain modern dan fit kekinian untuk menyasar usia produktif (25–40 tahun).
Bangkit Melawan Badai Pandemi
Layaknya UMKM lain, Arkanza sempat menghadapi tantangan berat. Meskipun terjadi lonjakan pada pandemi pertama, kinerja perusahaan sempat menurun drastis pada periode berikutnya. Namun, dengan kegigihan, usaha ini perlahan pulih dan bangkit kembali. Strategi kebangkitannya adalah memperkuat inovasi desain. Melalui tim R&D internal, Arkanza secara konsisten melakukan riset tren warna dan motif. Mereka memastikan produknya selalu relevan dengan menghadirkan motif-motif baru secara rutin.
Ekspor Terselubung dan Potensi Global
Yang menarik, Arkanza menemukan bahwa produk mereka ternyata telah merambah pasar luar negeri tanpa inisiatif ekspor formal awal. Melalui kanal ekspor marketplace, yaitu program Ekspor Shopee. Batik Arkanza berhasil menembus di 8 negara di Asia Tenggara, Asia Timur dan Amerika Latin. Negara malaysia dan singapura menjadi negara teratas yang melakukan transaksi di Batik Arkanza
“Volume ekspornya cukup menjanjikan,” terang Mahfud. Meskipun volumenya saat ini stabil, potensi pendapatan dari kanal ini menunjukkan peluang besar. Arkanza mencatat volume transaksi ekspor yang signifikan, dan berencana lebih fokus pada pasar global dengan menonjolkan produk batik abstrak dan etnik.
Inovasi Lini Produk
Selain kemeja pria, Arkanza juga mulai merambah segmen wanita melalui lini Arkanza Women, hasil kolaborasi dengan pengrajin batik cap lokal. Toko offline mereka menyediakan ragam produk yang lebih luas, termasuk batik wanita, anak, hingga batik tulis, melengkapi fokus online mereka pada kemeja pria. “Kami ingin membuktikan bahwa batik bisa tetap keren, modern, dan disukai anak muda tanpa kehilangan nilai tradisinya. Konsistensi dan inovasi adalah kunci utama,” tutup Mahfud.
Hotel Grandhika Pemuda Semarang dan Dinkop-UMKM Semarang adakan pameran batik, buka akses UMKM ke perhotelan, dukung ekonomi lokal dan budaya. [322] url asal
Bisnis.com, SEMARANG - Kolaborasi strategis antara sektor swasta dan pemerintah daerah kembali terjalin untuk memperkuat Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Hotel Grandhika Pemuda Semarang bersama dengan Dinas Koperasi dan Usaha Mikro (Dinkop-UMKM) Kota Semarang menyelenggarakan kegiatan Pameran dan Workshop UMKM Batik pada Jumat (31/10/2025). Inisiatif ini diselenggarakan bertepatan dengan momen Hari Batik Nasional di bulan Oktober, menyoroti peran penting UMKM, khususnya pengrajin batik, dalam ekosistem ekonomi lokal. Kegiatan yang bertajuk Workshop dan Sharing Session mengenai Batik sebagai warisan Indonesia ini diikuti berbagai UMKM Batik dari Kota Semarang dan wilayah sekitarnya. Tujuan utama dari fasilitasi ini adalah untuk mengenalkan produk-produk UMKM Batik secara langsung kepada segmen industri perhotelan, sekaligus membuka peluang pasar baru.
Selain pameran produk, acara juga diisi dengan hiburan musik tradisional, seperti keroncong dan angklung, sesi membatik bersama di totebag, dan agenda media gathering. Kepala Bidang Pemberdayaan Usaha Mikro, Dinkop-UMKM Kota Semarang, R. Mohamad Waluyo Sejati, memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif yang diambil oleh pihak hotel.
“Saya sangat mengapresiasi adanya kegiatan ini diadakan di Hotel Grandhika Pemuda Semarang, kegiatan ini menjadi gerbang bagi UMKM untuk mengenalkan produknya di industri Perhotelan,” ujar Waluyo Sejati.
Kehadiran perwakilan dari pemerintah daerah menegaskan dukungan lintas sektor. Selain berkolaborasi langsung dengan Dinas Koperasi dan UMKM Kota Semarang, kegiatan ini juga turut dihadiri oleh Bapak Samsul Bahri Siregar, selaku Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, ikut hadir dalam kegiatan tersebut. Samsul turut memberikan apresiasi atas penyelenggaraan pameran UMKM ini. Hal ini menunjukkan sinergi yang kuat antara upaya pemberdayaan ekonomi dan promosi warisan budaya dan pariwisata.
Noviana Divananda, Public Relations dari Hotel Grandhika Pemuda Semarang, menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari tanggung jawab korporasi untuk ikut berperan aktif dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat. “Hotel Grandhika Pemuda Semarang berusaha berkolaborasi dengan Dinas setempat untuk ikut berperan dalam kegiatan pemberdayaan Masyarakat khususnya melalui pameran UMKM ini,” katanya. Inisiatif ini mencerminkan kesadaran bahwa pertumbuhan bisnis tidak dapat dipisahkan dari kemajuan komunitas di sekitarnya.
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56