Bisnis.com, CIREBON — Aktivitas transportasi udara di Provinsi Jawa Barat selama periode Lebaran 2026 menunjukkan tren peningkatan, meski belum merata di seluruh bandara. Data terbaru mencatat jumlah penumpang penerbangan domestik yang berangkat pada Maret 2026 mencapai 1.359 orang, naik 49,67% dibandingkan Februari 2026 sebanyak 908 orang.
Namun, di tengah kenaikan tersebut, Bandara Kertajati di Kabupaten Majalengka masih mencatat pergerakan penumpang yang sangat terbatas.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati, mengatakan peningkatan jumlah penumpang tidak lepas dari momentum arus mudik Lebaran yang mulai terasa pada Maret 2026.
"Secara bulanan terjadi kenaikan cukup signifikan, seiring meningkatnya mobilitas masyarakat menjelang Hari Raya," kata Margaretha, Senin (4/5/2026).
Meski demikian, jika dibandingkan secara tahunan, jumlah penumpang angkutan udara domestik di Jawa Barat justru mengalami penurunan cukup dalam. Pada Maret 2025, jumlah penumpang tercatat sekitar 2.930 orang, sementara pada Maret 2026 hanya 1.359 orang atau turun 53,68%.
Dari lima bandara yang beroperasi di Jawa Barat, yakni Bandara Husein Sastranegara Bandung, Bandara Kertajati Majalengka, Bandara Nusawiru Pangandaran, Bandara Cakrabhuwana Penggung Cirebon, dan Bandara Wiriadinata Tasikmalaya, pergerakan penumpang masih terkonsentrasi di Bandung.
Bandara Husein Sastranegara menjadi penyumbang terbesar dengan 1.010 penumpang berangkat pada Maret 2026, meningkat 68,61% dibandingkan Februari. Sementara itu, Bandara Nusawiru mencatat 316 penumpang atau naik 7,48%.
Di sisi lain, Bandara Kertajati hanya melayani tujuh penumpang keberangkatan sepanjang Maret 2026. Angka ini jauh tertinggal dibandingkan bandara lain di Jawa Barat, bahkan berada di bawah Bandara Cakrabhuwana Penggung yang mencatat 16 penumpang dan Bandara Wiriadinata dengan 10 penumpang.
Margaretha mengungkapkan, rendahnya aktivitas di Kertajati menunjukkan bahwa bandara tersebut masih menghadapi tantangan dalam menarik minat penumpang.
“Distribusi penumpang masih belum merata. Kertajati masih perlu didorong dari sisi konektivitas dan rute penerbangan,” katanya.
Menurut Margaretha, peningkatan signifikan di Bandara Husein Sastranegara didorong oleh penambahan rute penerbangan domestik yang membuat bandara tersebut kembali diminati masyarakat. Faktor kedekatan lokasi dengan pusat Kota Bandung juga menjadi pertimbangan utama penumpang.
Sebaliknya, Kertajati yang diproyeksikan sebagai bandara internasional utama di Jawa Barat masih menghadapi kendala aksesibilitas dan keterbatasan pilihan penerbangan. Hal ini berdampak pada rendahnya volume penumpang, bahkan pada periode Lebaran yang umumnya menjadi puncak mobilitas masyarakat.
“Perlu ada upaya integrasi transportasi lanjutan serta peningkatan frekuensi dan variasi rute agar Kertajati bisa lebih kompetitif,” ujarnya.