Bisnis.com, JAKARTA — PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) memetik hasil positif pada segmen Business-to-Business (B2B). Sepanjang 2025, emiten telekomunikasi pelat merah ini mencatatkan penguatan kinerja pada lini infrastruktur dan ekosistem digital korporasi.
Berdasarkan laporan info memo Telkom 2025 yang dikutip Jumat (15/5/2026), total pendapatan konsolidasi perseroan mencapai Rp146,7 triliun. Dari jumlah tersebut, kontribusi pendapatan eksternal dari tiga pilar utama segmen B2B, yakni B2B Infrastructure, B2B ICT, dan International, secara akumulatif menyumbang Rp34,9 triliun atau sekitar 23,8% terhadap total pendapatan konsolidasi.
Manajemen Telkom menjelaskan segmen B2B infrastruktur menjadi motor pertumbuhan paling progresif. Lini ini mencatatkan pendapatan eksternal Rp8,9 triliun, tumbuh 9,2% dibandingkan tahun sebelumnya (year-on-year/YoY).
“Ekspansi bisnis pusat data (Data Center) dan penyediaan Fiber-to-the-Tower (FTTT) menjadi pendorong utama kenaikan tersebut,” tulis Manajemen Telkom.
Adapun pilar B2B Infrastructure diperkuat oleh entitas strategis seperti InfraNexia (FiberCo), Mitratel (TowerCo), NeutraDC (DC Co), serta Telkomsat di lini satelit. Selain itu, terdapat pula entitas pendukung seperti Telkom Infra, Telkom Akses, dan WINS.
Pada segmen B2B ICT, perseroan mengantongi pendapatan Rp15,3 triliun. Meski secara angka mengalami penurunan 2,8% YoY akibat proses restrukturisasi internal, manajemen menilai langkah tersebut perlu untuk memastikan pendekatan yang lebih selektif dalam mengamankan kontrak-kontrak baru yang berkualitas.
Ekosistem B2B ICT Telkom didukung oleh deretan anak usaha spesialis seperti Telkomsigma, Digiserve, Infomedia, PINS, Nutech, hingga unit bisnis baru EBIS yang fokus pada solusi digital korporasi.
Sementara itu, lini International yang dinakhodai oleh Telin melalui infrastruktur kabel laut internasional menyumbang pendapatan Rp10,7 triliun. Realisasi ini terkoreksi tipis 0,5% YoY akibat penurunan trafik SMS internasional Application-to-Person (A2P), namun pertumbuhan pada jaringan kabel bawah laut berhasil memitigasi tekanan tersebut.
Di luar tiga segmen utama tersebut, Telkom juga meraih pendapatan Rp5,9 triliun dari lini Ancillary Businessesyang mencakup Telkom Metra, Finnet, hingga MDI Ventures. Segmen ini tumbuh 5,1% YoY seiring meningkatnya adopsi pembayaran elektronik dan bisnis gim digital di Indonesia.
Meskipun segmen B2C yang dikelola Telkomsel dan IndiHome masih menjadi kontributor terbesar dengan pendapatan Rp105,9 triliun atau mengalami koreksi 3.4% YoY. manajemen melihat pergeseran minat pasar ke arah layanan berbasis data dan solusi korporasi sebagai peluang jangka panjang.
Strategi restrukturisasi yang sedang berjalan pada unit EBIS dan WINS diharapkan mampu membuka nilai tambah (value unlock) serta meningkatkan fokus strategis perseroan pada tahun-tahun mendatang.
Melalui struktur pelaporan berbasis segmen yang baru, Telkom berupaya meningkatkan transparansi operasional sekaligus memperkuat posisi sebagai pemimpin pasar dalam penyediaan infrastruktur digital dan solusi ICT terintegrasi di kawasan regional.