Bisnis.com, BALIKPAPAN — Optimalisasi lahan rawa untuk ketahanan pangan dengan model tanam padi apung di Desa Margasari Hilir, Kecamatan Candi Laras Utara, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, dinilai menjanjikan untuk dikembangkan lebih lanjut.
Padi varietas Inpara 42 yang ditanam mampu menghasilkan 6,5 ton gabah per hektare, dengan hasil ubinan mencapai 1,3 kilogram per styrofoam.
Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kalimantan Selatan, Masliyana menyatakan ini menjadi indikator positif atas potensi hasil di lahan yang selama ini kerap dipandang sebelah mata.
"Hasil ubinan yang dilakukan menunjukkan capaian 1,3 kilogram per styreofoam, yang menjadi indikator baik terhadap potensi hasil panen di lahan tersebut," ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (18/6/2026).
Tak hanya itu, keberhasilan ini sekaligus menepis anggapan bahwa lahan rawa identik dengan keterbatasan.
Masliyana menegaskan, dengan teknologi dan pendampingan yang tepat sasaran, lahan yang dahulu dianggap anak tiri pertanian kini mampu naik kelas menjadi sumber produksi pangan yang diperhitungkan.
Sementara guna mendukung program ini, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan melalui DPKP turut menyerahkan bantuan sektor tanaman pangan kepada Kabupaten Tapin senilai Rp834 juta. Bantuan ini diharapkan menjadi modal tambahan bagi petani untuk mendongkrak produksi serta memperkuat kesejahteraan di tingkat tapak.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Tapin Zainal Abidin berharap kesuksesan panen padi apung dapat menjadi pemantik semangat bagi petani lain untuk turut menggenjot produktivitas sekaligus memperkokoh ketahanan pangan daerah.
Dinas Pertanian Kalsel mencatat 60,7% sawah telah ditanami hingga Mei 2026, didukung program strategis dan kontribusi besar dari empat kabupaten utama. [384] url asal
Bisnis.com, BALIKPAPAN — Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) mencatat realisasi Luas Tambah Tanam (LTT) padi hingga akhir Mei 2026 telah mencapai 244.873 hektare, atau setara 60,7% dari target tahunan sebesar 402.802 hektare.
Kepala Bidang Tanaman Pangan DPKP Kalsel, Masliyana, menyatakan angka tersebut merupakan akumulasi dari dua arus kegiatan tanam yang berjalan beriringan.
“Data luas tambah tanam yang tercatat merupakan gabungan dari kegiatan tanam reguler petani dan program-program strategis pemerintah yang berjalan di kabupaten dan kota,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (3/6/2026).
Program strategis tersebut mencakup cetak sawah baru, optimasi lahan eksisting, hingga pengembangan padi gogo di sejumlah daerah.
Sementara itu, pemantauan progres dilakukan setiap hari melalui pendataan bersama dinas pertanian kabupaten dan kota se-Kalsel untuk memastikan setiap hektare lahan yang ditanami tercatat dan terukur.
Empat Kabupaten Jadi Penopang
Ia menyebut tidak semua wilayah berkontribusi sama. Kabupaten Barito Kuala, Banjar, Tanah Laut, dan Tapin menjadi penyumbang terbesar realisasi LTT provinsi, ditopang hamparan sawah baku yang lebih luas dibandingkan daerah lain.
Tren historis juga menunjukkan peningkatan dalam tiga tahun terakhir. Data DPKP mencatat LTT Kalsel naik dari 334.400 hektare pada 2023, menjadi 410.932 hektare pada 2024, dan kembali meningkat ke 478.837 hektare pada 2025.
Menariknya, target 2026 yang ditetapkan sebesar 402.802 hektare justru lebih rendah dibanding realisasi dua tahun sebelumnya. Namun, Masliyana menilai kondisi tersebut bukan sebagai kemunduran.
“Target yang disusun pada awal tahun masih bersifat dinamis karena dipengaruhi berbagai faktor, termasuk kondisi iklim. Namun dengan dukungan program pemerintah, bukan tidak mungkin capaian luas tambah tanam tahun 2026 bisa melampaui target yang telah ditetapkan,” katanya.
Memasuki musim kemarau, DPKP Kalsel juga menyalurkan bantuan benih padi varietas unggul dan padi lokal kepada kelompok tani, sekaligus mengoptimalkan serapan program dari APBN.
Di sisi hulu, petani didorong untuk segera mengolah lahan setelah panen agar tidak terlalu lama dibiarkan kosong. Masliyana menekankan jeda antara panen dan pengolahan lahan idealnya tidak lebih dari dua pekan.
“Setelah panen, kami anjurkan petani segera melakukan olah lahan. Idealnya dalam waktu maksimal 20 hari lahan sudah siap ditanami kembali. Langkah ini penting untuk mempercepat pertambahan luas tanam dan menjaga produktivitas pertanian,” ujarnya.
Harapan tambahan datang dari kawasan pertanian rawa di Alabio, Daha, dan Amuntai yang diperkirakan turut menyumbang peningkatan LTT pada Juli–Agustus seiring surutnya genangan air di wilayah tersebut.
Hening menyambut setiap langkah yang menapaki mulut Gua Batu Hapu. Dari celah-celah lubang alami di dinding dan atap gua, sinar Matahari menyusup, memantul ... [815] url asal
Tapin (ANTARA) - Hening menyambut setiap langkah yang menapaki mulut Gua Batu Hapu. Dari celah-celah lubang alami di dinding dan atap gua, sinar Matahari menyusup, memantul lembut di permukaan batu kapur berwarna pucat. Cahaya itu seolah menyaring waktu, membawa pengunjung masuk ke ruang alam yang tenang dan nyaris sakral.
Gua Batu Hapu berada di Desa Batu Hapu, Kecamatan Hatungun, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan. Lokasinya dapat ditempuh sekitar 31 kilometer dari Kota Rantau atau 37 kilometer dari situs sejarah Tambang Oranje Nassau, dengan akses kendaraan roda dua maupun roda empat.
Nama "Hapu" berasal dari bahasa masyarakat setempat, yang berarti putih, merujuk pada warna dominan dinding gua. Secara geologi, Gua Batu Hapu terbentuk dari batu gamping Formasi Berai yang berumur sekitar 16–36,5 juta tahun, pada periode Oligosen hingga Miosen awal, ketika wilayah itu masih berada di laut dangkal, dengan kedalaman kurang dari 30 meter.
Dengan ketinggian puncak sekitar 120 meter di atas permukaan laut, gua ini memiliki mulut yang besar serta ruang dalam yang lapang. Interiornya dihiasi stalaktit, stalagmit, tirai gua, dan ornamen karst lain yang terbentuk secara alami selama jutaan tahun.
"Kalau masuk ke dalam, suasananya berbeda. Tenang dan sejuk, cocok untuk wisata alam, sekaligus edukasi," kata Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Gua Batu Hapu Pardiyana.
Pupuk alami
Sebelum dikenal sebagai objek wisata, Gua Batu Hapu telah lama dimanfaatkan warga setempat. Para petani mengambil kotoran kelelawar di dasar gua sebagai pupuk alami. Di langit-langit gua, ribuan kelelawar bergelantungan, membentuk ekosistem yang hingga kini masih terjaga.
Gua ini menjadi habitat berbagai jenis kelelawar yang belum sepenuhnya teridentifikasi. Warga setempat mengenali, setidaknya tiga warna, yakni putih, cokelat kemerahan, dan hitam yang hidup berdampingan di dalam gua.
Perkembangan fungsi gua mulai terlihat sejak kedatangan warga transmigran pada sekitar 1980-an. Seiring waktu, kawasan ini perlahan dilirik sebagai tempat rekreasi, salah satunya ketika Gua Batu Hapu dijadikan lokasi hiburan rakyat berupa pertunjukan orkes melayu.
Pardiyana dan beberapa warga lainnya telah terlibat merintis dan menjaga gua ini sejak 1987. Jika dulu belum tertata seperti sekarang, kini mereka menjaga gua itu agar tidak rusak dan tetap bisa dimanfaatkan warga setempat.
Sejak 2022, pengelolaan wisata dilakukan lebih terorganisir. Pokdarwis Gua Batu Hapu kini beranggotakan 16 orang yang secara aktif merawat kawasan, menjaga kebersihan, serta mendampingi wisatawan.
Jumlah kunjungan wisatawan meningkat setelah aparat desa membangun taman dan fasilitas pendukung. Wisatawan tidak hanya datang dari dalam daerah, tetapi juga dari luar negeri, seperti Australia, Italia, Portugal, India, dan negara lainnya. Dengan tiket masuk Rp5.000 per orang, Gua Batu Hapu menjadi tujuan wisata alam yang terjangkau.
Selain gua utama, Desa Batu Hapu masih menyimpan potensi lain. Terdapat dua gua yang di dalamnya memiliki mata air dan sungai bawah tanah, serta satu gua khusus habitat kelelawar yang direncanakan dibuka terbatas untuk penelitian dan pendidikan. Ada pula kawasan panjat tebing yang dikenal sebagai gua gunung, yang kerap digunakan para pecinta alam.
Pengunjung mengamati formasi batuan di Situs Geopark Meratus Gua Batu Hapu, Desa Batu Hapu, Kecamatan Hatungun, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, Senin (1/12/2025). ANTARA/Bayu Pratama S
Situs ke-44 Geopark
Nilai strategis Gua Batu Hapu semakin menguat, setelah ditetapkan sebagai bagian dari Geopark Meratus. Pada 2018, kawasan ini bersama 53 situs lainnya resmi ditetapkan sebagai Geopark Nasional oleh Komite Nasional Geopark Indonesia.
Geopark Meratus memiliki luas sekitar 3.645,01 kilometer persegi, dengan 54 situs yang tersebar di empat rute, yakni barat, utara, timur, dan selatan. Gua Batu Hapu tercatat sebagai situs ke-44 dan berada di jalur utara, yang merepresentasikan proses pembentukan Pegunungan Meratus.
Pengakuan dunia internasional datang, ketika UNESCO menetapkan Geopark Meratus sebagai anggota UNESCO Global Geopark (UGGp). Sertifikat pengakuan tersebut diterima Gubernur Kalimantan Selatan Muhidin, didampingi Duta Besar Indonesia untuk Prancis Mohamad Oemar, di Paris, Prancis, pada 3 Juni 2025.
Kepala Desa Batu Hapu Mardiono menyebut status geopark membawa dampak sangat positif bagi desa. "Keberadaan Geopark Meratus memberi banyak manfaat. Gua Batu Hapu semakin dikenal, bukan hanya di tingkat nasional, tetapi juga internasional," katanya.
Meskipun demikian, ia mengakui masih ada tantangan dan kendala yang dihadapi aparat desa, utamanya soal permodalan untuk dapat lebih mengembangkan lagi kawasan wisata gua itu.
Mardiono berharap Geopark Meratus dapat menumbuhkan kesadaran kolektif masyarakat untuk menjaga kawasan wisata. Lokasi ini bukan hanya soal pariwisata, tetapi juga tentang warisan geologi dan budaya yang harus kita rawat bersama.
Gua Batu Hapu juga menyimpan legenda lokal. Masyarakat setempat meyakini gua ini terbentuk dari pecahan kapal seorang anak durhaka yang dikutuk ibunya, Nini Kudampi, seorang janda miskin. Sebuah kisah yang hidup berdampingan dengan fakta ilmiah tentang proses geologi jutaan tahun silam.
Di perut Pegunungan Meratus, Gua Batu Hapu berdiri menjadi saksi perjalanan Bumi, menyatukan alam, sejarah, dan budaya. Cahaya putih yang menembus celah-celah batu menjadi simbol harapan, bahwa warisan geologi ini akan terus terjaga untuk generasi mendatang.
Pengunjung mengamati stalagmit di Situs Geopark Meratus Gua Batu Hapu, Desa Batu Hapu, Kecamatan Hatungun, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, Senin (1/12/2025). ANTARA/Bayu Pratama S
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56