Bisnis.com, JAKARTA — Rendahnya literasi konsumen dinilai masih menjadi tantangan struktural industri herbal lokal, di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap produk herbal dalam beberapa tahun terakhir.
Data Profil Statistik Kesehatan 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan masih adanya kesenjangan pemahaman masyarakat mengenai klasifikasi produk kesehatan, fungsi, serta batasan penggunaan produk herbal. Kondisi tersebut menempatkan industri herbal dalam posisi paradoks.
Permintaan pasar tumbuh, tetapi ekspektasi konsumen kerap tidak sejalan dengan karakter produk herbal yang bersifat pendukung dan memerlukan penggunaan berkelanjutan, bukan solusi instan.
“Masih banyak masyarakat yang menyamakan produk herbal dengan obat medis. Ketika ekspektasi itu tidak terpenuhi, yang disalahkan bukan pemahamannya, melainkan produknya,” ujar Fazli Hasniel Sugiharto, putra almarhumah Lilies Susanti Handayani, peramu racikan Kutus Kutus, dikutip Bisnis, Kamis (19/2/2026).
Arniel, sapaannya, menyebut persoalan literasi berdampak langsung terhadap dinamika pasar. Menurutnya, produk dengan klaim berlebihan cenderung lebih cepat menarik perhatian konsumen.
Sebaliknya, pelaku usaha yang mengedepankan edukasi dan transparansi menghadapi tantangan komunikasi yang tidak ringan. Akibatnya, persaingan tidak selalu ditentukan oleh kualitas dan konsistensi, melainkan oleh persepsi jangka pendek.
Situasi tersebut diperparah dengan beredarnya produk herbal yang tidak disertai informasi memadai. Bagi konsumen awam, membedakan produk yang aman, terdaftar, dan digunakan secara tepat bukan perkara mudah. Risiko salah penggunaan pun meningkat.
Arniel menilai rendahnya literasi berpotensi merugikan dua pihak sekaligus. Konsumen bisa mengalami kekecewaan atau salah kaprah, sementara pelaku industri yang berupaya menjaga standar mutu harus bekerja lebih keras membangun kepercayaan publik.
“Industri herbal yang sehat membutuhkan konsumen yang teredukasi. Tanpa itu, pasar akan terus didominasi narasi instan yang tidak berkelanjutan,” katanya.
Bagi pelaku usaha, isu literasi bukan sekadar persoalan komunikasi, melainkan tantangan strategis jangka panjang.Arniel menyebut, edukasi memerlukan waktu dan konsistensi serta tidak selalu berdampak langsung pada penjualan. Namun tanpa fondasi tersebut, pertumbuhan industri dinilai berisiko rapuh.
Dia menegaskan produk herbal seharusnya dipahami sebagai bagian dari gaya hidup sehat dan perawatan pendukung, bukan sebagai pengganti pengobatan medis. “Jika ekspektasi ini sejak awal keliru, maka hubungan antara produk dan konsumen tidak akan sehat,” sebut Arniel.