Bisnis.com, JAKARTA – Koreksi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan menekan margin emiten makanan dan minuman (mamin) yang punya eksposur impor yang besar untuk bahan baku. Salah satunya adalah PT Mayora Indah Tbk. (MYOR).
Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo mengatakan bahwa biaya bahan baku impor bisa meningkatkan biaya sehingga berpotensi menekan margin perseroan.
"Untuk menjaga margin, MYOR perlu mengoptimalkan beberapa strategi, seperti penyesuaian harga jual secara bertahap, efisiensi biaya produksi dan distribusi, serta memperbesar porsi penjualan ekspor," ujarnya kepada Bisnis, Rabu (15/4/2026).
Selain itu, perusahaan juga dapat melakukan hedging terhadap mata uang dan memperkuat sourcing bahan baku lokal guna mengurangi ketergantungan impor. Menurutnya, kombinasi strategi ini penting untuk menjaga profitabilitas di tengah volatilitas nilai tukar.
Adapun, berdasarkan kinerja penjualan MYOR sepanjang 2025, perseroan memiliki pangsa 41% penjualan ekspor. Di sisi lain, bahan baku MYOR menjadi penyumbang terbesar di pos beban pokok penjualan dengan pangsa 80,50%. Dengan demikian, Azis melihat dampak pelemahan nilai tukar rupiah ini memiliki dampak campuran bagi MYOR.
Kiwoom Sekuritas Indonesia merekomendasikan trading buy saham MYOR dengan target harga di Rp1.990-Rp2.000, serta level support di Rp1.875-Rp1.790. Pada penutupan Rabu (15/4) MYOR koreksi 1,31% atau 25 poin ke Rp1.885.
Dalam laporan keuangan 2025 diaudit, MYOR mengalami koreksi laba bersih walaupun di satu sisi penjualan netonya naik. Perseroan juga mencatatkan lonjakan utang usaha dalam dolar AS setara dengan Rp1,02 triliun.
Untuk mengatasi pelemahan nilai tukar, manajemen telah menetapkan kebijakan yang mengharuskan entitas-entitas dalam grup mengelola risiko nilai tukar mata uang asing terhadap mata uang fungsionalnya.
"Entitas grup diharuskan untuk melakukan lindung nilai seluruh risiko nilai tukar mata uang asing. Risiko nilai tukar mata uang asing timbul ketika transaksi komersial masa depan atau aset dan liabilitas yang diakui didenominasikan dalam mata uang yang bukan mata uang fungsional. Risiko diukur dengan menggunakan proyeksi arus kas," tulis perseroan.
Adapun, di pasar keuangan nilai tukar rupiah pada perdagangan Rabu (15/4/2026) ditutup melemah 0,09% atau 16 poin ke Rp17.143 per dolar AS. Posisinya semakin melemah dibanding data per 31 Maret 2026 di level Rp16.999 per dolar AS.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.