Bisnis.com, KUANSING - Di sebuah sudut Kecamatan Benai, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), deretan tanaman cabai merah tampak berbaris rapi di bawah terik matahari. Di antara tanaman itu, seorang pria bernama Yunisman berjalan perlahan, memeriksa satu per satu batang cabai yang mulai berbuah.
“Awalnya saya cuma ikut kelompok tani lain, belajar menanam cabai. Tahun 2015 baru saya mulai sendiri, menanam varietas Lado F1,” kenangnya kepada tim Jelajah Ketahanan Pangan Riau, Bisnis Indonesia sambil tersenyum. “Dulu belum tahu banyak, tapi saya percaya asal tekun pasti bisa.”
Langkah kecil itu menjadi awal kisah besar pertanian hortikultura di Benai. Dari lahan bekas kebun karet yang gersang, Yunisman mengubahnya menjadi hamparan hijau berisi cabai, bawang, pepaya, timun, dan jagung.
Di awal perjalanan, ia pernah gagal menanam bawang hingga ratusan kilogram bibit terbuang. Namun semangatnya tak pernah padam. Kini, kelompok tani yang ia pimpin, Poktan Beken Jaya memiliki 16 anggota. Delapan di antaranya aktif bertani, sementara lainnya membantu di sisi perdagangan hasil panen.
Sistemnya sederhana tapi efektif dimana sebagian hasil produksi dijual langsung ke pasar, sebagian lagi diambil pedagang yang datang ke lahan. “Pernah waktu kami promosi, dua karung cabai, sekitar 100 kg, langsung habis dalam sehari,” ujarnya bangga.
Namun perjalanan itu tak lepas dari tantangan. Kekurangan air menjadi musuh utama petani Benai yang hidup di dataran rendah. “Cabai itu butuh penyiraman rutin. Dulu kami masih manual, nyiram 3.000 batang bisa seharian penuh. Capek luar biasa,” kata Yunisman.
Titik terang datang saat Bank Indonesia (BI) memberikan bantuan sumur bor dan sistem irigasi sprinkler pada 2024. Kini, cukup satu orang operator saja untuk menyiram satu hamparan lahan. “Kalau dulu butuh tiga orang dan biaya operasional besar, sekarang hemat sampai Rp300 ribu per hari,” ujarnya. “Efisiensi itu luar biasa bagi kami.”
Bantuan dari BI tak hanya berupa alat. Melalui kolaborasi dengan Habibie Garden, para petani di Benai diperkenalkan pada konsep smart farming yaitu sistem pertanian digital yang bisa mendeteksi kebutuhan air dan pupuk tanaman lewat sensor tanah.
“Timnya sempat tinggal seminggu di rumah saya. Mereka ajarkan cara kerja soil check, climate station, sampai irigasi otomatis,” tutur Yunisman dengan mata berbinar.
Meskipun sistem itu belum sepenuhnya diterapkan di Kuansing, Yunisman percaya masa depan pertanian daerahnya ada di sana. “Kalau nanti sudah ada jaringan internet dan alatnya, kami siap belajar. Smart farming ini masa depan. Bisa hemat pupuk, air, dan tenaga.”
Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Benai, Indra Winnora membenarkan semangat para petani di wilayahnya. Menurut Indra, tantangan terbesar petani di Kuansing bukan sekadar cuaca, tapi juga kontinuitas kelompok tani.
Untuk dukungan pemda dalam pengembangan tanaman cabai, dia mengakui hingga kini masih terbatas. Dari catatan pihaknya baru ada sekali program bantuan langsung, dan memang biasanya program sejenis dilakukan secara bergulir antar kecamatan.
Sementara untuk wilayah produksi cabai di Benai, Indra menyebutkan sudah ada beberapa desa yang mengelola tanaman cabai dengan menggunakan Dana Desa sejak 2022 sampai 2024 lalu. Meskipun jumlah tanaman dan produksinya belum begitu besar.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Riau, Panji Achmad menegaskan bahwa dukungan terhadap pengembangan pertanian cabai di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) merupakan bagian dari langkah strategis BI dalam menjaga stabilitas harga pangan dan mengendalikan inflasi daerah.
Menurut Panji, pengendalian inflasi tidak bisa dilakukan secara sektoral, melainkan memerlukan kolaborasi lintas pihak mulai dari pemerintah pusat, daerah, BI, hingga lembaga negara lainnya.
“Kegiatan dan dukungan kami ini merupakan bagian dari upaya pengendalian inflasi yang dilakukan secara kolaborasi. Karena kita semua menyadari bahwa pengendalian inflasi adalah satu hal yang sangat penting untuk menjadi perhatian bersama,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pengendalian inflasi bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga berkaitan langsung dengan kesejahteraan masyarakat. Ketika inflasi tidak terkendali, masyarakat berpenghasilan tidak tetap akan menjadi kelompok yang paling terdampak.
“Stabilitas harga pangan sangat menentukan daya beli masyarakat. Karena itu, upaya menjaga pasokan dan produktivitas komoditas seperti cabai menjadi sangat penting,” kata Panji.
Panji juga mengakui bahwa Riau masih menghadapi tantangan dalam hal ketersediaan dan produksi pangan lokal. Karakteristik wilayah yang lebih kuat di sektor perkebunan, seperti sawit, membuat Riau masih bergantung pada pasokan cabai dan sayuran dari provinsi tetangga.
“Di satu sisi Riau unggul di sektor lain, namun di sektor tanaman pangan kita masih belum sekuat daerah tetangga. Karena itu, dukungan dan inovasi perlu terus diperkuat,” jelasnya.