Bisnis.com, JAKARTA— Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengungkapkan berdasarkan pemetaan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan Rencana Strategis Komdigi, pengembangan jaringan 5G difokuskan pada sektor-sektor yang memiliki dampak ekonomi besar dan membutuhkan karakteristik khusus teknologi tersebut.
Direktur Jenderal Infrastruktur Digital Komdigi Wayan Toni Supriyanto mengatakan terdapat sejumlah sektor prioritas utama, yakni industri manufaktur (smart industry) untuk mendukung inisiatif Making Indonesia 4.0, sektor pertambangan (smart mining) yang membutuhkan jaringan 5G sebagai solusi vital karena latensinya yang sangat rendah sehingga mendukung keselamatan kerja, serta sektor kesehatan (smart healthcare) guna mempercepat digitalisasi layanan kesehatan.
Selain itu, terdapat sejumlah sektor strategis lainnya yang juga didorong melalui pemanfaatan teknologi 5G.
“Seperti pertanian dan Kelautan Modern [Smart Agriculture & Maritime], Sektor Residensial & Perumahan, Sektor Pariwisata Destinasi Super Prioritas, Sektor Transportasi & Kota Cerdas [Smart Cities], dan sektor-sektor lainnya,” kata Wayan kepada Bisnis, Selasa (2/6/2026).
Wayan menambahkan, transformasi digital yang menyentuh berbagai sektor prioritas tersebut diharapkan dapat memberikan efek berganda (multiplier effect) yang positif terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Lebih lanjut, dia menekankan 5G tidak semata-mata menghadirkan akses internet yang lebih cepat, tetapi juga menjadi fondasi utama (enabler) transformasi digital nasional di berbagai sektor strategis.
Pemanfaatan 5G dinilai dapat mendorong digitalisasi industri dan manufaktur (smart industry), revolusi layanan kesehatan (smart healthcare), pembangunan kota cerdas (smart cities), pertanian dan kelautan modern (smart agriculture & maritime), hingga sektor pendidikan.
Namun, meski potensinya besar, Wayan mengakui implementasi 5G untuk mendukung transformasi digital nasional tidak dapat terjadi secara instan. Menurutnya, terdapat sejumlah tantangan yang harus dihadapi.
Tantangan pertama adalah ketersediaan spektrum frekuensi. Pemerintah, kata dia, harus memastikan ketersediaan spektrum frekuensi radio yang memadai agar operator seluler dapat menggelar jaringan 5G secara optimal dan efisien.
Kedua, tingginya kebutuhan investasi infrastruktur. Teknologi 5G memerlukan pembangunan BTS (base transceiver station) dalam jumlah besar yang didukung jaringan serat optik (fiberisasi) yang memadai.
Ketiga, kesiapan sumber daya manusia (SDM) dan talenta digital.
“Teknologi canggih ini tidak akan berdampak maksimal jika SDM [sumber daya manusia] nasional belum siap mengelola teknologi yang diimplementasikan melalui 5G,” kata Wayan.
Meski demikian, dia menilai potensi ekonomi yang dapat dihasilkan dari pengembangan 5G sangat besar. Wayan mengatakan teknologi tersebut diproyeksikan mampu memberikan kontribusi positif terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia.
Menurutnya, 5G merupakan katalisator yang akan mendorong Indonesia menuju ekonomi digital yang lebih maju sekaligus mempercepat adopsi teknologi masa depan.
“Tanpa adopsi 5G yang merata dan tepat guna, transformasi digital nasional berisiko berjalan lambat dan tertinggal dalam persaingan global,” kata Wayan.