Bisnis.com, JAKARTA — Mata uang rupiah mengalami pelemahan pada awal 2026. Terdapat sejumlah sektor saham yang terkena dampak negatif dari lesunya rupiah.
Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus mengalami pelemahan dalam lima hari perdagangan pada awal 2026. Terbaru, rupiah ditutup melemah 0,11% atau 18 poin ke level Rp16.798 per dolar AS pada perdagangan hari ini, Kamis (8/1/2026).
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) David Kurniawan menilai pelemahan rupiah pada awal 2026 terjadi seiring meningkatnya tensi geopolitik global, termasuk memanasnya hubungan AS–Venezuela yang mendorong investor global masuk ke aset aman seperti dolar AS.
Sebelumnya diberitakan, Presiden Venezuela Nicolas Maduro ditangkap oleh AS pada Sabtu (3/1/2026). Selain penangkapan, AS juga melancarkan serangan militer skala besar terhadap Venezuela. Lebih dari 150 pesawat militer AS dikerahkan setelah pertahanan udara Venezuela berhasil dilumpuhkan. Kemudian, Unit Delta Force Angkatan Darat AS dikirim ke pangkalan militer tempat Maduro bermalam.
Menurut laporan Bloomberg, pasukan komando AS hanya membutuhkan waktu kurang dari tiga jam untuk mengakhiri kekuasaan Maduro, yang selama bertahun-tahun bertahan di tengah tekanan Washington.
Presiden AS Donald Trump juga mengatakan bahwa Caracas telah setuju untuk memasok antara 30 juta hingga 50 juta barel minyak ke AS, setelah Washington menangkap Maduro akhir pekan lalu.
"Dampak ke pasar saham kemudian tidak merata. Ada sektor yang terdampak negatif, tapi ada juga yang justru diuntungkan," katanya kepada Bisnis pada Kamis (8/1/2026).
Menurutnya, terdapat sejumlah saham yang terdampak negatif pelemahan rupiah seperti saham berbasis impor mulai dari manufaktur dan consumer goods tertentu karena biaya bahan baku naik.
Perusahaan dengan utang dolar AS yang besar tanpa lindung nilai pun terdampak, karena beban keuangan meningkat.
Meski begitu, menurutnya terdapat sejumlah saham yang mendapatkan dampak positif kinerja lesu rupiah. Saham-saham komoditas dan energi seperti batu bara, logam, hingga minyak mendapat dampak positif karena pendapatan berbasis dolar AS.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas M. Nafan Aji Gusta menilai emiten impor dirugikan dengan pelemahan rupiah. Selain itu emiten yang memiliki utang dalam dolar AS yang besar pun terdampak.
"Emiten basis konsumsi mengandalkan bahan baku impor. Emiten farmasi pun terdampak," kata Nafan.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.