Saham bank besar seperti BBCA dan BBRI rebound seiring meredanya sentimen MSCI. Namun, pemulihan belum merata, dengan beberapa saham masih melemah. [751] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Saham perbankan jumbo seperti BBCA hingga BBRI mulai menunjukkan sinyal rebound pada perdagangan terbaru, seiring dengan sentimen penyesuaian indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) mulai mereda.
Sejumlah saham bank berkapitalisasi besar berbalik menguat, meski sebagian lainnya masih tertahan di zona merah.
Berdasarkan data perdagangan Stockbit pukul 14.00 WIB, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) tercatat naik 0,71% ke level 7.075. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) juga menguat 1,39% ke posisi 3.640.
Selain itu, PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) turut mencatatkan penguatan sebesar 1,68% ke harga 1.815. Selanjutnya terpantau saham PT Bank Ganesha Tbk. (BGTG) yang naik 3,94% atau 5 poin ke Rp132 per saham. Serta saham PT Krom Bank Indonesia Tbk. (BBSI) naik 0,51% atau 20 poin ke Rp3.970 per saham.
Penguatan tersebut mencerminkan mulai berkurangnya tekanan teknikal akibat rebalancing MSCI, yang sebelumnya memicu aksi jual asing secara masif, terutama pada saham-saham bank berlikuiditas tinggi. Pelaku pasar mulai melakukan bargain hunting seiring valuasi saham bank jumbo yang dinilai semakin atraktif.
Namun demikian, pemulihan belum terjadi secara merata. Sejumlah saham perbankan lainnya masih melanjutkan pelemahan. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) turun 0,88% ke level 4.520, sedangkan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) melemah 2,03% ke posisi 4.350.
Di luar bank-bank besar, tekanan jual juga masih membayangi saham bank menengah dan kecil. PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) terkoreksi 1,43% ke harga 2.070.
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) turun 2,09% ke level 1.170. Selanjutnya, PT Super Bank Indonesia Tbk. (SUPA) melemah 2,08% ke posisi 940, serta PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB) yang turun 2,00% ke level 392.
Di sisi lain, PT Bank Jago Tbk. (ARTO) mencatatkan lonjakan signifikan dengan kenaikan 7,49% ke harga 1.795, menandakan adanya minat selektif investor pada saham perbankan digital di tengah volatilitas pasar.
MSCI Goyang Saham Bank
Seluruh saham di semua sektor ambles akibat adanya sentimen MSCI, salah satu yang paling besar yaitu sektor perbankan. Bahkan Indeks Harga Gabungan Saham (IHSG) sempat anjlok dan sempat meninggalkan level 8.000. Hal ini membuat Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan trading halt sementara sebanyak dua kali.
Bursa Efek Indonesia memaparkan kronologi diskusi penyesuaian metodologi perhitungan free float saham-saham Indonesia antara Morgan Stanley Capital International (MSCI) dengan Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk rebalancing indeks periode Maret 2026 yang berujung tak membuahkan hasil.
Akibatnya, MSCI pada 27 Januari 2026 mengumumkan pembekuan sementara rebalancing indeks saham Indonesia. Ini artinya, saham konstituen asal Indonesia di MSCI Index tidak akan bertambah maupun berkurang.
Masuknya saham-saham baru di MSCI Index biasanya menjadi sentimen positif IHSG. Sebaliknya, dengan hasil ini pasar merespons dengan aksi jual besar-besaran, membuat IHSG jeblok dan mengalami trading halt di 2 hari perdagangan beruntun.
Direktur Utama BEI Iman Rachman menjelaskan diskusi BEI dengan MSCI sebenarnya sudah berlangsung sejak Oktober 2025 kala MSCI mengumumkan perubahan metodologi perhitungan free float khusus untuk pasar saham Indonesia.
Dalam usulan proposal tersebut, MSCI mengusulkan agar perhitungan free float perusahaan Indonesia didasarkan pada angka terendah antara dua sumber data, yaitu data resmi perusahaan seperti laporan tahunan dan siaran pers, serta estimasi dari KSEI Holding Composition Report.
Dalam laporan KSEI tersebut, kategori script shares, corporates (lokal dan asing), serta others (lokal dan asing) akan diklasifikasikan sebagai non-free float.
Dalam skenario alternatif lainnya, hanya script shares dan corporates yang dikategorikan sebagai non-free float. "Waktu itu mereka menunjuk bahwa mereka akan menggunakan data dari KSEI.
Sebagaimana diketahui data KSEI itu mencampurkan antara yang di bawah 5% kepemilikan sahamnya dan di atas 5%. Kami, OJK dan KSEI secara langsung berdiskusi dengan MSCI untuk menyampaikan keberatan kami, adalah bahwa pengenaan proposal mereka tidak berlaku di bursa lain. Kami minta equal treatment," kata Iman saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (29/1/2026).
Dalam diskusi tersebut, Iman mengatakan pihak Indonesia juga menyampaikan beberapa opsi yang bisa membantu perhitungan metodologi free float MSCI. Diskusi ini berlangsung dari tahun lalu sampai 15 Januari 2026.
BEI dan OJK bahkan sempat terbang ke Amerika Serikat (AS) pada 8 Desember 2025. Sebagai solusi dari BEI, pada 2 Januari 2026, SRO bursa telah mendetailkan data free float yang dipublikasikan, dengan harapan sesuai standar yang diharapkan MSCI. Namun, rupanya apa yang sudah dilakukan BEI dan KSEI belum cukup di mata MSCI.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Bisnis.com, JAKARTA — Sepanjang tahun ini, kinerja 48 saham bank di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami pergerakan yang beragam. Namun, terdapat perbedaan yang cukup terlihat dari saham bank berkapitalisasi kecil dan bank besar.
Sejumlah saham bank lapis dua dan tiga mencatatkan lonjakan harga signifikan secara tahun berjalan (year to date/YtD) atau sejak awal tahun berjalan hingga posisi perdagangan terakhir.
Di sisi lain, saham bank-bank besar justru masih berada di zona koreksi hingga akhir perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (30/12/2025).
Berdasarkan data perdagangan BEI, PT Bank Permata Tbk. (BNLI) menjadi saham perbankan dengan kinerja paling tinggi sepanjang 2025. Secara year to date, saham BNLI melonjak 444,97%, dengan harga penutupan berada di level Rp5.150 per saham. Capaian ini mencerminkan lonjakan harga saham BNLI sejak awal Januari 2025 hingga akhir Desember 2025.
Kinerja positif juga ditunjukkan sejumlah saham bank digital dan bank skala kecil lainnya. PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB) mencatatkan kenaikan 120,18% secara YtD, disusul PT Allo Bank Indonesia Tbk. (BBHI) yang menguat 112,86% YTD.
Selain itu, PT Bank Capital Indonesia Tbk. (BACA) naik 78,63%, serta PT Bank Oke Indonesia Tbk. (DNAR) menguat 64,6% secara YtD, mencerminkan tingginya minat investor terhadap saham bank berkapitalisasi kecil sepanjang tahun berjalan.
Di kelompok menengah, saham PT Bank Ganesha Tbk. (BGTG) menguat 56,58% YtD, PT Super Bank Indonesia Tbk. (SUPA) naik 47,24%, dan PT Bank KB Indonesia Tbk. (BBKP) bertambah 42,59% sejak awal 2025.
Sebaliknya, kinerja saham bank-bank besar atau big banks masih tertahan. PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) tercatat turun 16,54% secara YtD, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) melemah 10,53%. Selain itu, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) terkoreksi 10,29% sepanjang tahun berjalan. Adapun PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) relatif stagnan dengan kenaikan tipis 0,46% secara YtD.
Tekanan juga terlihat pada saham perbankan syariah dan bank digital besar. PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) turun 18,32% secara year to date, sementara PT Bank Jago Tbk. (ARTO) melemah 18,72% YtD hingga akhir 2025.
Sementara itu, sejumlah saham bank mencatatkan kinerja terburuk sepanjang tahun ini. PT Bank of India Indonesia Tbk. (BSWD) anjlok 68,4% secara YtD, diikuti PT Bank Pan Indonesia Tbk. (PNBN) yang melemah 41,94%, serta PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk. (SDRA) yang turun 33,17% sejak awal tahun.
Secara keseluruhan, rapor kinerja saham perbankan secara year to date (YTD) menunjukkan rotasi minat investor ke saham bank berkapitalisasi kecil dan menengah yang memiliki katalis korporasi maupun ruang pertumbuhan lebih besar.
Prospek Saham Bank
Sebelumnya, Analis Infovesta Kapital Advisori Ekky Topan mengatakan penurunan suku bunga sebesar 125 basis poin (bps) sepanjang 2025 bisa menjadi katalis positif bagi saham emiten bank.
Terlebih, Bank Sentral membuka peluang pelonggaran lanjutan, meski dalam RDG Desember 2025 memutuskan menahan BI rate di 4,75%, yang membuat investor akan wait and see melihat arah moneter BI tahun depan.
"Rotasi sektoral dari komoditas menuju finansial menurut saya tetap memiliki peluang kuat untuk menopang IHSG, terutama setelah sektor komoditas mengalami reli panjang pada 2025," ujar Ekky kepada Bisnis, Kamis (18/12/2025).
Ekky menjelaskan, suku bunga rendah bisa menurunkan cost of fund emiten perbankan dan dapat mendorong pemulihan net interest margin (NIM), yang selama 2025 tertekan. Selain itu, imbal hasil kredit akan lebih stabil, pertumbuhan kredit bisa kembali menguat, dan risiko kualitas aset lebih terkendali.
Saat ini, valuasi perbankan besar menurutnya berada pada zona diskon terhadap rerata historis, sementara potensi pemulihan earnings di 2026 masih cukup terbuka. Selain itu, arus dana asing juga cenderung berpihak kembali pada sektor berkapitalisasi besar yang likuid dan stabil.
"Kombinasi antara rotasi sektor, normalisasi suku bunga global, serta rebound earnings bank besar dinilai dapat menjadi tulang punggung reli lanjutan IHSG di awal 2026. Ini juga sejalan dengan pola bahwa pergerakan indeks akan semakin selektif," jelasnya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Faktor Risiko
Meski demikian, Ekky melihat beberapa faktor risiko tetap perlu dicermati. Pertama, ketidakpastian arah kebijakan The Fed. Jika The Fed lebih hawkish dari perkiraan, tekanan ke rupiah dan capital flow bisa kembali meningkat dan memperlambat rotasi sektor domestik.
Kedua, perlambatan pertumbuhan kredit dan kenaikan NPL di sektor-sektor tertentu khususnya UMKM dan korporasi leverage tinggi juga masih berpotensi menahan pemulihan margin bank.
Ketiga, risiko makro domestik seperti penurunan harga komoditas yang terlalu tajam dapat mempengaruhi kemampuan bayar debitur di sektor tambang dan energi. Keempat, faktor geopolitik dan cuaca ekstrem seperti kasus banjir Sumatra bisa menciptakan volatilitas sesaat di sektor tertentu.
Sementara itu, Research analyst Kiwoom Sekuritas Miftahul Khaer menilai sejumlah saham sektoral yang sensitif terhadap suku bunga acuan turut berpeluang diuntungkan di era suku bunga murah.
"Kemarin BI terlihat masih memutuskan untuk menahan suku bunganya. Meski begitu, kalau dibandingkan dengan tren di awal tahun, serta potensi di tahun 2026 nanti, prospek saham-saham yang memiliki exposure ke suku bunga masih akan menarik," ujar Miftahul.
Sepanjang 2025, saham bank kecil di BEI melonjak, sementara big banks tertahan. Bank Permata (BNLI) memimpin dengan kenaikan 444,97% YtD. [420] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Kinerja 48 saham sektor perbankan di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang 2025 memperlihatkan perbedaan mencolok antara bank berkapitalisasi kecil dan bank besar.
Sejumlah saham bank lapis dua dan tiga mencatatkan lonjakan harga signifikan secara year to date (YtD), yakni perubahan harga saham sejak awal tahun berjalan hingga posisi perdagangan terakhir, sementara saham bank-bank besar justru masih berada di zona koreksi hingga akhir perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (30/12/2025).
Berdasarkan data perdagangan BEI, PT Bank Permata Tbk. (BNLI) menjadi saham perbankan dengan kinerja paling tinggi sepanjang 2025. Secara year to date, saham BNLI melonjak 444,97%, dengan harga penutupan berada di level Rp5.150 per saham. Capaian ini mencerminkan lonjakan harga saham BNLI sejak awal Januari 2025 hingga akhir Desember 2025.
Kinerja positif juga ditunjukkan sejumlah saham bank digital dan bank skala kecil lainnya. PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB) mencatatkan kenaikan 120,18% secara YtD, disusul PT Allo Bank Indonesia Tbk. (BBHI) yang menguat 112,86% YTD.
Selain itu, PT Bank Capital Indonesia Tbk. (BACA) naik 78,63%, serta PT Bank Oke Indonesia Tbk. (DNAR) menguat 64,6% secara YtD, mencerminkan tingginya minat investor terhadap saham bank berkapitalisasi kecil sepanjang tahun berjalan.
Di kelompok menengah, saham PT Bank Ganesha Tbk. (BGTG) menguat 56,58% YtD, PT Super Bank Indonesia Tbk. (SUPA) naik 47,24%, dan PT Bank KB Indonesia Tbk. (BBKP) bertambah 42,59% sejak awal 2025.
Big Banks Masih Tertahan
Sebaliknya, kinerja saham bank-bank besar atau big banks masih tertahan. PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) tercatat turun 16,54% secara YtD, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) melemah 10,53%.
Selain itu, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) terkoreksi 10,29% sepanjang tahun berjalan. Adapun PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) relatif stagnan dengan kenaikan tipis 0,46% secara YtD.
Tekanan juga terlihat pada saham perbankan syariah dan bank digital besar. PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) turun 18,32% secara year to date, sementara PT Bank Jago Tbk. (ARTO) melemah 18,72% YtD hingga akhir 2025.
Sementara itu, sejumlah saham bank mencatatkan kinerja terburuk sepanjang tahun ini. PT Bank of India Indonesia Tbk. (BSWD) anjlok 68,4% secara YtD, diikuti PT Bank Pan Indonesia Tbk. (PNBN) yang melemah 41,94%, serta PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk. (SDRA) yang turun 33,17% sejak awal tahun.
Secara keseluruhan, rapor kinerja saham perbankan secara year to date (YTD) menunjukkan rotasi minat investor ke saham bank berkapitalisasi kecil dan menengah yang memiliki katalis korporasi maupun ruang pertumbuhan lebih besar.
Saham-saham dengan dividen tinggi dinilai bisa menjadi salah satu alternatif bagi investor saat pasar dihadapkan pada ketidakpastian. Simak saham pilihannya! [55] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Saham-saham dengan dividen tinggi dinilai dapat menjadi pilihan bagi investor saat ketidakpastian pasar meningkat akibat sederet sentimen eksternal beberapa waktu terakhir.
Head of Research RHB Sekuritas Indonesia Andrey Wijaya menyarankan kepada investor agar di tengah situasi pasar saat ini untuk berfokus pada perusahaan dengan fundamental kuat sambil memantau sejumlah katalis penting.
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56