Bisnis.com, JAKARTA — Terdapat rotasi minat investor dari saham-saham big caps ke saham-saham kelas kedua tahun ini. Bagaimana kemudian risiko yang akan terjadi kepada pasar saham Indonesia atas tren rotasi tersebut?
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham-saham lapis kedua menunjukkan kinerja yang menonjol, mengungguli saham-saham berkapitalisasi besar. Indeks IDX SMC Composite, yang mencerminkan pergerakan saham berkapitalisasi kecil dan menengah, mencatat penguatan signifikan 28,41% sepanjang tahun berjalan (year to date/ytd) hingga perdagangan Selasa (27/10/2025).
Indeks IDX SMC Liquid, yang berisi saham-saham kecil dan menengah dengan likuiditas tinggi, juga meningkat 11,91% (ytd). Beberapa saham bahkan melesat jauh di atas rata-rata kelompoknya. Saham PT Petrosea Tbk. (PTRO), misalnya, melonjak 142,53% (ytd) ke level Rp6.700 per saham pada sesi pertama perdagangan Rabu (28/10/2025). Saham PT Surya Citra Media Tbk. (SCMA) naik 103,59% ke Rp340 per saham, sementara PT Triputra Agro Persada Tbk. (TAPG) menguat 133,99% ke Rp1.790 per saham.
Kinerja cemerlang saham-saham lapis kedua itu kontras dengan saham big caps. Indeks IDX LQ45 yang menaungi saham-saham terlikuid justru melemah 0,49% sepanjang periode yang sama.
Perbedaan kinerja semakin menonjol ketika dilihat dari papan perdagangan. Indeks papan akselerasi tumbuh 134,04 persen (ytd), sedangkan papan pengembangan naik 87,24%. Adapun papan utama hanya meningkat 6,47% (ytd).
Pengamat pasar modal Reydi Octa menilai, rotasi minat investor dari saham big caps ke saham lapis kedua terjadi karena pergeseran pencarian peluang. Saham-saham kecil lebih diminati karena menawarkan volatilitas tinggi dan narasi pertumbuhan yang menarik.
“Selain itu, banyak saham lapis kedua melonjak karena sentimen aksi korporasi seperti akuisisi, rights issue, hingga rumor backdoor listing,” ujar Reydi kepada Bisnis pada Selasa (28/10/2025).
Namun, ia menilai tren ini dapat menimbulkan risiko terhadap stabilitas pasar. “IHSG [indeks harga saham gabungan] berisiko penguatannya tidak mencerminkan kinerja perusahaan karena didorong saham kecil yang tidak likuid. Ketika saham-saham lapis kedua mulai take profit massal, efeknya bisa buat koreksi besar dan investor institusi dan asing cenderung enggan masuk bila pasar terlalu didominasi oleh saham spekulatif,” jelasnya.
Senada, Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menjelaskan, kinerja saham lapis kedua ditopang oleh kombinasi likuiditas ritel yang kuat, rotasi sektor, dan euforia setelah sejumlah penawaran umum perdana (IPO) yang sukses.
“Banyak investor shifting dari big caps yang valuasinya sudah mahal ke saham second liner yang punya upside lebih lebar,” ujar Wafi kepada Bisnis, Senin (27/10/2025).
Meski demikian, Wafi menilai ketergantungan pasar pada saham lapis kedua tidak dapat berlangsung lama. Likuiditas yang tipis membuat harga mudah bergerak dan rawan koreksi ketika terjadi aksi ambil untung.
“Kalau IHSG terlalu ditopang second liner risikonya di stabilitas indeks, volatilitas bakal tinggi dan reli bisa cepat patah kalau ritel keluar. Jadi idealnya rotasi balik ke saham berfundamental besar seperti bank, consumer, energi buat jaga keseimbangan pasar,” kata Wafi.