Dimitri Eka Mariana sukses memasarkan kue durian khas Makassar hingga ritel modern berkat program binaan BRI, meningkatkan omzet hingga 50%. [653] url asal
Bisnis, MAKASSAR — Di salah satu sudut rak premium Toko Satu Sama dan Hero, berjejer rapi produk andalan milik Dimitri Eka Mariana, kue durian khas Makassar besutan Vinlandak Kitchen.
Bagi perempuan kelahiran Semarang, Jawa Tengah ini, kehadiran produknya di etalase ritel modern bukan sekadar pencapaian estetik, melainkan buah dari konsistensi melintasi masa-masa kritis berbisnis.
Memulai usaha dari nol pada tahun 2020 di kediamannya, Jalan Banta-bantaeng Lorong 3, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar, wanita berusia 38 tahun ini awalnya hanya ingin mengisi waktu luang setelah ikut pindah bersama sang suami.
Namun, geliat bisnis rumahan tak selamanya manis. Memasuki tahun 2023, Vinlandak Kitchen justru dihantam kejenuhan ekstrem. Merasa usahanya jalan di tempat dan didera kelelahan fisik, Dimitri hampir memilih kibarkan bendera putih.
"Waktu itu sempat ingin berhenti karena capek dan bosan, usaha ini begitu-begitu saja," kenangnya saat diwawancarai Bisnis, Kamis (4/6/2026).
Beruntung, sebuah saran dari rekan sejawat untuk bergabung dengan program binaan Rumah BUMN BRI Makassar menjadi titik balik yang mengubah lanskap bisnisnya. Melalui inkubasi selama enam bulan, baik secara daring maupun luring, Dimitri digembleng.
Vinlandak Kitchen tidak hanya dibantu menyelesaikan urusan legalitas seperti Nomor Induk Berusaha (NIB) dan sertifikasi halal, tetapi juga diajarkan packaging, strategi pemasaran digital, hingga taktik menembus jaringan ritel modern dan perhotelan.
Dampak dari pendampingan tersebut langsung tercermin pada performa keuangan perusahaan. Setelah berhasil menembus pasar ritel modern, omzet Vinlandak Kitchen melonjak hingga 50%. Volume produksi harian yang biasanya berada di angka rata-rata 150 kue durian, kini kerap meroket hingga 1.000 kue saat permintaan memuncak.
Karyawan Vinlandak Kitchen sedang mengemas kue durian khas Makassar di rumah produksi./Bisnis-Nugroho Nafika Kassa.
Dimitri menjelaskan, keunggulan produk Vinlandak terletak pada komitmen bahan baku. Dia menggunakan 100% durian asli pilihan asal Palopo, tanpa campuran kelapa maupun bahan pengawet.
Kendati nihil pengawet, formulasi kuenya mampu bertahan hingga dua bulan. Dijual dengan harga Rp25.000 untuk isi 5 dan Rp50.000 untuk isi 10, kue durian ini sukses menjadi ikon.
"Selain itu, kami sekarang tidak hanya menjual kue durian saja. Lini produk Vinlandak juga diperkuat oleh kue bangket kenari seharga Rp20.000, brownies, hingga paket nasi bento," ungkap Dimitri.
Ekspansi pasar Vinlandak kini tidak lagi terbatas di ibu kota Sulawesi Selatan. Produknya telah merambah sektor korporasi dengan menjadi menu di hotel ternama seperti Hotel Claro dan Swiss-Belhotel Makassar.
Bahkan melalui lokapasar Shopee, produk barunya seperti brownies mulai menjangkau wilayah Papua dan provinsi lain di Pulau Sulawesi.
Menariknya, pertumbuhan bisnis Vinlandak Kitchen turut memicu multiplier effect bagi ekonomi domestik sekitar. Selain mempekerjakan dua karyawan tetap, Dimitri secara aktif memberdayakan ibu-ibu tetangga sekitar dan kurir lokal saat pesanan membeludak, khususnya pada momentum Ramadan dan musim liburan.
Owner Vinlandak Kitchen Dimitri Eka Mariana (kanan) bersama karyawannya memperlihatkan penyajian kue durian di dapur produksinya./Bisnis-Nugroho Nafika Kassa.
Koordinator Rumah BUMN BRI Makassar Muhammad Aslidin mengungkapkan bahwa Vinlandak merupakan potret sukses dari total 6.100 UMKM lintas sektor yang telah mereka dampingi secara terjadwal berdasarkan kebutuhan riil pelaku usaha.
Setiap UMKM yang terdaftar sebagai binaan BRI bakal masuk dalam program BRIncubator, begitu juga dengan Vinlandak Kitchen. Pendampingan yang dilakukan berupa fasilitas pelatihan manajemen keuangan, digitalisasi, hingga cara memperluas pasar.
“Selain pendampingan terjadwal, kami juga kerap mengikutkan para UMKM ke beberapa pameran, baik lokal maupun nasional. Tujuannya agar mereka semakin dikenal dan bisa mengembangkan pasar," papar Aslidin.
Langkah maju Vinlandak Kitchen ini pun mendapat apresiasi dari regulator lokal. Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kota Makassar Arlin Ariesta menegaskan bahwa sektor kuliner berbasis komoditas lokal seperti durian memiliki potensi besar.
Ke depan, pemerintah daerah bakal lebih berkomitmen mendorong UMKM yang telah mapan di pasar domestik seperti Vinlandak untuk naik kelas ke pasar global.
"Kami nantinya akan fokus pada pendampingan usaha, optimalisasi ekonomi kreatif, digitalisasi, serta kolaborasi untuk penguatan ekosistem guna meningkatkan daya saing ekspor," pungkas Arlin.
Dari sebuah gang kecil di Banta-bantaeng, Dimitri telah membuktikan bahwa durian lokal mampu naik kasta dan menggerakkan ekonomi warga, asalkan dikelola dengan standar modern dan pendampingan yang tepat.
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56