JAKARTA, KOMPAS.com - Dua perusahaan ritel modern Arab Saudi, Bin Dawood dan Lulu akan menyerap beras premium produksi perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Perum Bulog.
Direktur Utama PT Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyebut, penyerapan bakal dilakukan setelah musim ibadah haji 1447 hijriah.
“Di sana namanya Bin Dawood dengan Lulu yang besar di sana. Ini sudah konfirmasi dan akan menyerap beras kita dalam waktu dekat setelah kegiatan musim haji,” kata Rizal saat ditemui di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, Senin (23/2/2026).
Menurut Rizal, berdasarkan pertemuannya dengan para importir dan pengusaha di Arab Saudi, peluang pasar beras premium Indonesia di sana sangat besar.
Ceruk itu terbentuk akibat banyaknya warga negara Indonesia (WNI) di Saudi dan jumlah jemaah umrah tanah air yang mencapai 2 juta orang per tahun.
Mereka memiliki lebih menyukai nasi dari beras lokal yang pulen, alih-alih beras timur tengah yang cenderung pera.
Rizal mengungkapkan, kedua perusahaan ritel di Saudi itu telah mengkonfirmasi bakal menjual beras Bulog.
“Untuk ritel-ritel modern yang sudah konfirmasi adalah dari Bin Dawood dan dari Lulu,” tutur Rizal.
Berdasarkan situs resminya, Bin Dawood Holding, memiliki 27 hypermarket, supermarket, dan express stores di seluruh penjuru Saudi.
Perusahaan itu mencatatkan revenue 5,67 miliar Ringgit Arab Saudi (SAR) atau senilai Rp 25,3 triliun dengan kurs 1 SAR setara Rp 4.479,32.
Sementara, Lulu Retail mengoperasikan 252 jaringan toko, 116 hypermarket, 192 express stores, dan 22 minimarket di Dewan Kerjasama untuk Negara Arab di Teluk (Gulf Cooperation Council/GCC).
Selama 9 bulan pada 2025, perusahaan ini mencatatkan revenue 6 miliar dollar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp 100,8 triliun dengan kurs 1 dollar AS setara Rp 16.802.
Dalam waktu dekat, Bulog akan terlebih dahulu mengekspor 2.280 ton beras untuk memenuhi kebutuhan petugas dan jemaah haji Indonesia.
Beras akan dikirim pada 28 Februari dan 4 Maret mendatang dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara ke Pelabuhan Jeddah.
Pengiriman akan dilakukan dalam dua tahap karena mempertimbangkan risiko gangguan dalam pengiriman.
“Estimasi perjalanan dari Indonesia dari Priok ke Jeddah itu paling cepat 1 bulan 1 minggu, paling lambat 1 bulan setengah,” ujar Rizal.
Pengiriman untuk jemaah haji itu akan menjadi ekspor beras pertama Indonesia.
Meski nilainya baru Rp 150 miliar namun ekspor akan dilanjutkan untuk kebutuhan komersial, yakni pasar jemaah umrah dan WNI di Saudi.
“Angkanya sekitar Rp 150 miliar. Ini juga ekspor perdana,” kata Rizal.
KOMPAS.com/Syakirun Ni'am Direktur Utama PT Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani saat ditemui di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, Senin (23/2/2026). Sebagai informasi, rencana ekspor ke Arab Saudi mulai bergulir setelah pemerintah mengumumkan swasembada beras pada awal Januari lalu.
Produksi beras yang naik membuat serapan dan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) mencapai 3,4 juta ton.
Setelah memastikan beras surplus, pemerintah lalu menjajaki ekspor ke luar negeri, salah satunya Arab Saudi.
Menurut Rizal, banyak jemaah haji dan umrah asal Indonesia yang lebih menyukai beras lokal, alih-alih beras timur tengah.
Adapun beras yang diekspor memiliki kualitas premium dengan tingkat pecahan 5 persen dan kadar air di bawah 14 persen.
Untuk memproduksi beras tersebut, Bulog meminjam pabrik PT Padi Indonesia Maju (PIM) milik PT Wilmar International Limited.
Perusahaan itu saat ini tengah tersandung kasus pidana dugaan beras premium oplosan di Bareskrim Polri.
“Dan kami sudah pinjam pakai pabrik tersebut dengan Kabareskrim dan sudah diizinkan oleh Kabareskrim untuk kita pakai,” kata Rizal.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang