#30 tag 24jam
ilustrasi rupiah dan dolar.
Nilai tukar rupiah cenderung melemah terhadap sejumlah mata uang negara tetangga di kawasan Asia Tenggara sejak awal 2026. [257] url asal
#rupiah #dolar-singapura #ringgit #bath #nilai-tukar #kurs #mata-uang #asia-tenggara #garuda #sgd #baht-thailand #ringgit-malaysia #amerika #serikat #keok #pelemahan #as #penutupan #rupiah-keok-l
(CNN Indonesia - Ekonomi) 17/06/26 20:10
v/252566/
Nilai tukar rupiah cenderung melemah terhadap sejumlah mata uang negara tetangga di kawasan Asia Tenggara, seperti dolar Singapura hingga bath Thailand.
Hal itu sejalan dengan tren pelemahan mata uang Garuda terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sejak awal tahun.
Berdasarkan data TradingView hingga Rabu (17/6), kurs dolar AS terhadap rupiah berada di level Rp17.745 per dolar AS atau menunjukkan pelemahan rupiah sebesar 6,16 persen dibandingkan posisi akhir 2025.
Sepanjang tahun ini, rupiah sempat mencatat level terkuatnya di Rp16.690 per dolar AS pada 1 Januari 2026. Namun, tekanan terhadap mata uang Garuda terus berlanjut hingga menyentuh level terlemah tahun ini di Rp18.180 per dolar AS pada 8 Juni 2026.
Di Asia Tenggara, pelemahan rupiah paling besar terjadi terhadap dolar Singapura, disusul ringgit Malaysia dan baht Thailand.
Berikut rincian pergerakan rupiah terhadap tiga mata uang negara tetangga:
Rupiah melemah 6,59 persen terhadap dolar Singapura sepanjang YTD 2026.
Pelemahan tersebut tercermin dari kurs rupiah terhadap dolar Singapura yang melemah dari Rp12.999,995 per SGD pada 31 Desember 2025 menjadi Rp13.838,728 per SGD pada 17 Juni 2026.
Rupiah melemah 6,06 persen terhadap ringgit Malaysia sepanjang tahun berjalan 2026. Kurs rupiah terhadap ringgit Malaysia turun dari Rp4.119,5 per MYR pada posisi penutupan perdagangan 31 Desember 2025 menjadi Rp4.360,9 per MYR pada 17 Juni 2026.
Rupiah melemah 2,73 persen terhadap baht Thailand sepanjang YTD 2026. Kurs rupiah terhadap baht Thailand terdepresiasi dari Rp530,78 per THB pada 31 Desember 2025 menjadi Rp544,95 per THB pada 17 Juni 2026.
Cadangan Devisa Malaysia Turun, Investor Tetap Optimistis pada Ringgit
Cadangan devisa Malaysia mengalami penurunan tipis pada pertengahan Mei 2026. [1,614] url asal
#malaysia #dollar-as #ringgit #cadangan-devisa #ringgit-menguat
(Kompas.com - Money) 26/05/26 08:18
v/232125/
KUALA LUMPUR, KOMPAS.com - Cadangan devisa Malaysia mengalami penurunan tipis pada pertengahan Mei 2026.
Bank Negara Malaysia (BNM) melaporkan posisi cadangan internasional negara itu berada di level 129,5 miliar dollar AS atau sekitar Rp 2.295,8 triliun dengan asumsi kurs Rp 17.728 per dollar AS.
Jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan posisi pada akhir April 2026 yang tercatat sebesar 129,7 miliar dollar AS atau setara Rp 2.299,3 triliun.
PIXABAY/SQUIRREL_PHOTOS Ilustrasi uang ringgit Malaysia. Ringgit Malaysia tercatat sebagai mata uang terkuat di Asia di awal 2026.Dalam pernyataannya, BNM menyebutkan bahwa posisi cadangan devisa tersebut masih memadai untuk menopang kebutuhan eksternal negara.
"Posisi cadangan devisa tersebut cukup untuk membiayai 4,6 bulan impor barang dan jasa, serta setara 0,9 kali total utang luar negeri jangka pendek," tulis BNM, dikutip dari Bernama, Selasa (26/5/2026).
Penurunan cadangan devisa Malaysia terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan volatilitas pasar keuangan internasional. Meski turun tipis, level cadangan devisa Malaysia saat ini masih berada di kisaran tertinggi dalam lebih dari satu dekade.
Dikutip dari The Edge Malaysia, posisi cadangan devisa terbaru itu tetap menjadi level terkuat sejak 2014.
Cadangan devisa adalah salah satu indikator penting yang digunakan untuk mengukur ketahanan eksternal suatu negara.
Besarnya cadangan devisa mencerminkan kemampuan bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar mata uang, membiayai impor, serta memenuhi kewajiban pembayaran luar negeri.
Komponen cadangan devisa Malaysia
BNM merinci komponen utama cadangan devisa Malaysia per 15 Mei 2026 terdiri dari cadangan mata uang asing sebesar 113,5 miliar dollar AS atau sekitar Rp 2.012,1 triliun.
UNSPLASH/NOUR BETAR Ilustrasi pemandangan kota Kuala Lumpur, Malaysia.Selain itu, terdapat posisi cadangan di Dana Moneter Internasional (IMF) sebesar 1,3 miliar dollar AS atau setara Rp 23 triliun.
Malaysia juga memiliki special drawing rights (SDR) sebesar 5,9 miliar dollar AS atau sekitar Rp 104,6 triliun.
Adapun cadangan emas tercatat sebesar 6,4 miliar dollar AS atau sekitar Rp 113,5 triliun. Sementara aset cadangan lainnya mencapai 2,4 miliar dollar AS atau setara Rp 42,5 triliun.
Komposisi tersebut menunjukkan mayoritas cadangan devisa Malaysia masih ditopang oleh aset dalam bentuk mata uang asing.
Cadangan devisa lazim digunakan bank sentral untuk menjaga kestabilan pasar keuangan dan melakukan intervensi apabila terjadi tekanan terhadap mata uang domestik.
Dalam beberapa tahun terakhir, negara-negara berkembang di Asia cenderung menjaga level cadangan devisa tetap tinggi untuk mengantisipasi gejolak pasar global, terutama akibat perubahan arah suku bunga Amerika Serikat, konflik geopolitik, dan ketidakpastian perdagangan internasional.
Cadangan devisa Malaysia turun tipis dibanding akhir April 2026
Sebelumnya, pada 30 April 2026, posisi cadangan devisa Malaysia tercatat sebesar 129,7 miliar dollar AS atau sekitar Rp 2.299,3 triliun.
Pada saat itu, BNM menyatakan posisi cadangan devisa cukup untuk membiayai 4,7 bulan impor barang dan jasa serta setara 0,9 kali total utang luar negeri jangka pendek.
Dengan demikian, penurunan yang terjadi pada pertengahan Mei relatif terbatas, yakni sekitar 200 juta dollar AS atau setara Rp 3,5 triliun.
Meski demikian, penurunan tersebut turut mencerminkan dinamika arus modal dan kebutuhan stabilisasi pasar keuangan di tengah ketidakpastian global.
PIXABAY/PEXELS Ilustrasi pemandangan kota Kuala Lumpur, Malaysia.Sepanjang 2026, pergerakan cadangan devisa Malaysia menunjukkan fluktuasi moderat.
Pada pertengahan April 2026, posisi cadangan devisa tercatat sebesar 128,8 miliar dollar AS atau sekitar Rp 2.283,4 triliun. Angka itu meningkat dibandingkan posisi akhir Maret yang berada di level 126,6 miliar dollar AS.
Kemudian pada akhir April 2026, cadangan devisa kembali meningkat menjadi 129,7 miliar dollar AS sebelum turun tipis menjadi 129,5 miliar dollar AS pada pertengahan Mei 2026.
Pergerakan tersebut menggambarkan bagaimana bank sentral terus mengelola cadangan devisa untuk menjaga stabilitas sistem keuangan dan nilai tukar ringgit.
Ringgit menguat di tengah dinamika global
Di tengah fluktuasi pasar global, mata uang ringgit Malaysia kembali menunjukkan penguatan terhadap dollar AS pada perdagangan akhir Mei 2026.
Mata uang ringgit menguat terhadap dollar AS seiring membaiknya sentimen pasar global.
Penguatan tersebut dipicu harapan tercapainya kesepakatan antara AS dan Iran yang dapat membuka kembali Selat Hormuz, jalur penting pengiriman minyak dunia.
Kepala ekonom Bank Muamalat Malaysia Bhd Mohd Afzanizam Abdul Rashid mengatakan, indikator makroekonomi Malaysia yang relatif membaik turut menopang pergerakan ringgit.
Menurut dia, surplus transaksi berjalan yang meningkat serta defisit fiskal yang menyempit pada kuartal I 2026 menunjukkan risiko Malaysia menjadi negara dengan twin deficit masih rendah.
Selain itu, ringgit juga ditopang oleh masuknya aliran modal asing ke pasar keuangan domestik.
Pada perdagangan 25 Mei 2026, ringgit dilaporkan ditutup lebih tinggi terhadap dollar AS didorong optimisme pasar atas potensi tercapainya kesepakatan AS-Iran.
PIXABAY/WALKERSSK Ilustrasi pemandangan kota Kuala Lumpur, Malaysia.Harapan meredanya tensi geopolitik global mendorong investor kembali masuk ke aset berisiko dan mengurangi permintaan terhadap aset safe haven seperti dollar AS.
Penguatan ringgit turut menjadi faktor penting yang menopang persepsi investor terhadap stabilitas eksternal Malaysia.
Di tengah kondisi tersebut, cadangan devisa yang tetap tinggi dinilai memberikan ruang lebih besar bagi Bank Negara Malaysia untuk menjaga stabilitas pasar keuangan dan nilai tukar.
Cadangan devisa menjadi salah satu instrumen penting yang menopang stabilitas ringgit ketika terjadi tekanan di pasar valuta asing.
Dengan cadangan devisa yang tetap berada di atas 129 miliar dollar AS, BNM dinilai masih memiliki ruang yang cukup untuk menjaga stabilitas pasar keuangan dan meredam gejolak nilai tukar.
Penguatan ringgit juga turut membantu memperbaiki persepsi investor terhadap ketahanan eksternal Malaysia.
Di sisi lain, level cadangan devisa yang tinggi memberikan sinyal bahwa Malaysia masih memiliki bantalan yang memadai untuk menghadapi potensi arus keluar modal maupun tekanan eksternal lainnya.
Ketidakpastian global bayangi pasar keuangan
Di tengah tekanan global, posisi cadangan devisa menjadi salah satu bantalan utama bagi negara-negara berkembang.
Bank sentral biasanya menggunakan cadangan devisa untuk menstabilkan pergerakan mata uang domestik ketika terjadi gejolak di pasar keuangan internasional.
Malaysia sendiri menghadapi tantangan dari dinamika suku bunga global, pergerakan dollar AS, hingga perubahan arus modal asing.
Dalam tinjauan ekonominya sebelumnya, BNM menyebut ringgit berpotensi mengalami volatilitas lebih tinggi akibat ketidakpastian kebijakan global dan fluktuasi arus modal.
FREEPIK/FREEPIK Ilustrasi suku bunga, bunga kredit. Media Asing Soroti Kenaikan Suku Bunga di Indonesia di Tengah Melemahnya RupiahBNM menilai arus masuk asing yang didorong penyempitan selisih suku bunga dapat membantu menopang ringgit.
Namun, suku bunga tinggi di AS dan meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven dollar AS tetap menjadi faktor yang membebani mata uang negara berkembang.
Tekanan terhadap mata uang domestik bukan hanya terjadi di Malaysia. Sejumlah negara di Asia juga menghadapi tantangan serupa seiring menguatnya dollar AS dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik global.
Di Indonesia, Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis points menjadi 5,25 persen untuk menjaga stabilitas rupiah.
Langkah tersebut dilakukan di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level terendah baru terhadap dollar AS.
Fungsi strategis cadangan devisa
Cadangan devisa memiliki peran strategis dalam menjaga kepercayaan pasar terhadap perekonomian suatu negara.
Selain digunakan untuk membiayai impor dan memenuhi kewajiban pembayaran luar negeri pemerintah, cadangan devisa juga menjadi instrumen penting bagi bank sentral untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Ketika terjadi tekanan terhadap mata uang domestik, bank sentral dapat menggunakan cadangan devisa untuk melakukan intervensi di pasar valuta asing.
Ketersediaan cadangan devisa yang memadai juga sering menjadi indikator kesehatan eksternal suatu negara di mata investor global.
Karena itu, rasio kecukupan cadangan devisa terhadap impor dan utang luar negeri jangka pendek menjadi indikator yang diperhatikan pelaku pasar.
SHUTTERSTOCK/AUN PHOTOGRAPHER Ilustrasi impor.Dalam kasus Malaysia, posisi cadangan devisa saat ini dinilai masih cukup aman karena mampu membiayai impor lebih dari empat bulan.
Selain itu, level cadangan devisa Malaysia juga hampir setara dengan total utang luar negeri jangka pendek negara tersebut.
BNM secara berkala memperbarui data cadangan devisa sebanyak dua kali dalam sebulan untuk memberikan gambaran terkini mengenai posisi eksternal negara.
Data pemerintah Malaysia menunjukkan cadangan devisa negara itu terus berada di atas level 120 miliar dollar AS sepanjang beberapa tahun terakhir.
Posisi tersebut menjadikan Malaysia sebagai salah satu negara dengan bantalan eksternal relatif kuat di kawasan Asia Tenggara.
Mayoritas berbentuk cadangan mata uang asing
Dari keseluruhan cadangan devisa Malaysia, porsi terbesar masih berasal dari cadangan mata uang asing.
Nilainya mencapai 113,5 miliar dollar AS atau sekitar 87 persen dari total cadangan devisa.
Sementara itu, cadangan emas hanya menyumbang sekitar 6,4 miliar dollar AS.
Komposisi tersebut mencerminkan strategi pengelolaan cadangan devisa yang menempatkan likuiditas dan fleksibilitas sebagai prioritas utama.
Aset dalam bentuk mata uang asing lebih mudah digunakan untuk intervensi pasar maupun pembayaran kewajiban internasional dibandingkan aset lain seperti emas.
Di sisi lain, kepemilikan emas tetap dipertahankan sebagai bagian dari diversifikasi aset cadangan.
PEXELS/KARTHIKEYAN PERUMAL Ilustrasi mata uang.Selain emas dan valuta asing, Malaysia juga memiliki SDR yang merupakan aset cadangan internasional yang diterbitkan IMF.
SDR dapat digunakan negara anggota IMF untuk memperoleh mata uang asing guna memenuhi kebutuhan likuiditas internasional.
Keberadaan SDR dan posisi cadangan di IMF menjadi bagian penting dari struktur cadangan devisa modern yang dimiliki banyak bank sentral di dunia.
Cadangan devisa masih jadi perhatian investor
Pergerakan cadangan devisa terus menjadi perhatian investor dan pelaku pasar karena berkaitan langsung dengan stabilitas makroekonomi.
Negara dengan cadangan devisa besar umumnya dinilai memiliki kemampuan lebih baik dalam menghadapi gejolak eksternal.
Sebaliknya, penurunan tajam cadangan devisa dalam waktu singkat kerap dianggap sebagai sinyal meningkatnya tekanan terhadap sektor eksternal dan nilai tukar.
Meski cadangan devisa Malaysia turun tipis pada pertengahan Mei 2026, levelnya masih berada di kisaran tinggi dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
BNM menegaskan posisi cadangan saat ini masih memadai untuk mendukung kebutuhan pembiayaan eksternal negara serta menjaga stabilitas pasar keuangan.
Dengan posisi tersebut, Malaysia masih memiliki ruang untuk menghadapi volatilitas global yang dipicu perubahan kebijakan moneter negara maju, pergerakan harga komoditas, maupun ketidakpastian geopolitik internasional.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Saat Rupiah Dipermalukan Ringgit dan Dolar Singapura
Saat rupiah juga melemah atas ringgit dan dolar Singapura, persoalannya bukan lagi sekadar fluktuasi kurs. Ini cermin daya tawar ekonomi Indonesia. [817] url asal
#rupiah #ringgit #dollar-singapura
(Kompas.com - Money) 24/04/26 06:30
v/201235/
RUPIAH yang melemah terhadap dolar AS masih bisa dijelaskan dengan kepala dingin. Dolar AS sedang kuat, pasar global gelisah, investor berlari ke aset aman, lalu mata uang negara berkembang ikut terseret.
Namun, semuanya berubah ketika rupiah tidak hanya jatuh terhadap dolar AS, tetapi juga tampak tak berdaya di hadapan ringgit Malaysia dan dolar Singapura.
Per 23 April 2026, JISDOR sudah menyentuh Rp 17.308 per dolar AS. Pada hari yang sama, kurs acuan Bank Indonesia menempatkan 1 dolar Singapura di Rp 13.565,86 dan 1 ringgit Malaysia di Rp 4.367,95.
Angka-angka itu menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah tidak lagi sekadar cermin kuatnya dolar Amerika, melainkan juga tanda bahwa rupiah sedang kalah pamor terhadap mata uang tetangga.
Itulah ironi. Indonesia gemar membicarakan dirinya sebagai ekonomi besar Asia Tenggara. Namun, pasar valuta asing tidak pernah tersentuh oleh kebanggaan verbal.
Ia hanya percaya pada ketahanan eksternal, disiplin kebijakan, kekuatan institusi, dan kemampuan negara menjaga martabat moneternya saat badai datang.
Karena itu, ketika rupiah juga melemah terhadap ringgit dan dolar Singapura, persoalannya bukan lagi sekadar fluktuasi kurs. Ini adalah cermin bahwa daya tawar ekonomi Indonesia sedang menyusut.
Lebih dari Sekadar Dolar yang Kuat
Selama ini, pelemahan rupiah terlalu sering dipersempit menjadi cerita tentang superioritas dolar AS. Padahal, jika mata uang kita juga tertinggal dari dolar Singapura dan ringgit Malaysia, penjelasan itu tidak lagi cukup.
Sebab yang sedang terjadi bukan hanya penguatan satu mata uang global, melainkan perbandingan di antara negara-negara Asia Tenggara. Pasar sedang membuat penilaian: siapa yang paling meyakinkan, dan siapa yang paling mudah diguncang.
Di titik inilah data menjadi penting. Pada Maret 2026, investor asing menarik 1,8 miliar dollar AS dari obligasi Indonesia.
Dalam periode yang sama, obligasi Malaysia justru menerima aliran masuk 1,52 miliar dollar AS. Artinya, pasar tidak hanya sedang menjauhi risiko, tetapi juga sedang memilih.
Malaysia dinilai lebih layak menerima kepercayaan, sementara Indonesia justru dilepas. Pelemahan rupiah, dengan demikian, bukan sekadar akibat badai global, melainkan akibat posisi Indonesia yang dibaca rapuh.
Dalam dunia keuangan, reputasi bukan ornamen. Reputasi adalah modal. Mata uang yang kuat lahir dari keyakinan bahwa negara yang berdiri di belakangnya tahu apa yang sedang dijaga, dan tahu bagaimana menjaganya.
Singapura dan Malaysia memberi pelajaran yang keras. Pada 14 April 2026, Monetary Authority of Singapore menaikkan sedikit laju apresiasi band S$NEER.
Langkah ini mengirim pesan yang jelas: Singapura memilih menjaga kredibilitas moneternya dengan disiplin.
Dolar Singapura pun ditopang bukan hanya oleh kebijakan, tetapi juga oleh kepercayaan bahwa otoritasnya tidak memberi ruang lebar bagi ketidakpastian.
Malaysia menawarkan ketahanan berbeda. Bank Negara Malaysia masih memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2026 di kisaran 4 sampai 5 persen.
Di saat yang sama, Malaysia memperoleh bantalan dari struktur ekonominya, terutama ketika energi dan komoditas kembali mendapat perhatian akibat ketegangan geopolitik.
Ringgit tidak semata diangkat oleh sentimen, tetapi juga oleh keyakinan bahwa struktur ekonomi Malaysia masih memiliki penyangga yang cukup.
Indonesia berdiri di tengah dengan beban yang lebih berat. Bank Indonesia memang masih menahan BI-Rate di 4,75 persen dan cadangan devisa akhir Maret 2026 masih tinggi di level 148,2 miliar dollar AS, setara 5,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Namun, cadangan devisa yang besar tidak otomatis menghapus keraguan pasar.
Besar sebagai Pasar, Rapuh sebagai Keyakinan
Di sinilah kekeliruan baca paling sering muncul. Indonesia kerap merasa cukup percaya diri hanya karena ukuran ekonominya besar. Seolah-olah skala otomatis berbanding lurus dengan daya tawar.
Padahal, ukuran ekonomi hanya memberi volume; ia tidak otomatis memberi ketahanan. Yang menentukan daya tawar bukan semata besar-kecilnya produk domestik bruto, melainkan kualitas struktur eksternal, kedalaman institusi, disiplin kebijakan, dan kemampuan menghasilkan devisa secara konsisten.
Data Indonesia justru memperlihatkan kerentanan itu. Pada triwulan IV 2025, transaksi berjalan kembali defisit 2,5 miliar dollar AS atau 0,7 persen dari PDB.
Pada Januari-Februari 2026, surplus perdagangan memang masih tercatat 2,23 miliar dollar AS, tetapi defisit migas mencapai 3,19 miliar dollar AS.
Lebih problematis lagi, ekspor kumulatif hanya tumbuh 2,19 persen, sementara impor melonjak 14,44 persen. Ini berarti kebutuhan devisa domestik tumbuh lebih cepat daripada kemampuan menciptakan penyangga devisa baru.
Dalam kalimat yang lebih lugas, kita besar sebagai pasar, tetapi belum kuat sebagai jangkar keyakinan.
Karena itu, persoalan rupiah tidak boleh diperlakukan hanya sebagai urusan teknis bank sentral.
Ia adalah soal yang lebih mendasar: seberapa jauh Indonesia masih dipercaya, seberapa kokoh fondasi ekonominya dibaca, dan seberapa besar wibawanya di hadapan pasar kawasan.
Pada akhirnya, kurs memang hadir sebagai angka, tetapi ia bekerja sebagai penghakiman. Ketika rupiah dipermalukan oleh ringgit serta dolar Singapura, pesan yang sampai tidak disamarkan dengan istilah volatilitas.
Ini bukan sekadar gejolak. Ini adalah teguran keras bahwa Indonesia belum berhasil mengubah kebesarannya menjadi kehormatan ekonomi.
Jika peringatan ini terus gagal dibaca, maka yang hilang kelak bukan hanya kekuatan rupiah, melainkan juga marwah Indonesia di hadapan kawasan.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarangMalaysia Gelontorkan US$1,27 miliar untuk Dukung UMKM Atasi Dampak Konflik Timur Tengah
Malaysia mengalokasikan US$1,27 miliar untuk mendukung UMKM menghadapi dampak konflik Timur Tengah, dengan peningkatan jaminan finansial hingga 80% selama 10 tahun. [556] url asal
#malaysia-umkm #dukung-umkm #dampak-konflik-timur-tengah #kebijakan-malaysia #instabilitas-energi-global #perang-asia-barat #dana-5-miliar-ringgit #stimulus-umkm-malaysia #anwar-ibrahim #syarikat-jamin
(Bisnis.Com - Ekonomi) 23/04/26 07:08
v/199920/
Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah Malaysia merilis beberapa kebijakan baru untuk mendukung usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di negara tersebut akibat instabilitas energi global akibat perang di Asia Barat atau Timur Tengah. Dalam rencana baru itu, Pemerintah Malaysia menggelontorkan stimulus hingga 5 miliar ringgit atau US$1,27 miliar.
Pengumuman tersebut dirilis oleh Kementerian Keuangan Malaysia pada Senin (20/4), 7 pekan setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel menyerang Iran dan menimbulkan suatu perang yang menjalar ke wilayah sekitarnya, termasuk Selat Hormuz, salah satu jalur perairan terpenting untuk distribusi energi global.
Dalam alokasi stimulus tersebut, Pemerintah Malaysia memberikan pertanggungan finansial hingga 80% dan masa penjaminan hingga 10 tahun bagi UMKM-UMKM yang terdampak, seperti dikutip dariChannel NewsAsia (CNA)pada Rabu (22/4/2026). Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, menurut laporanThe Star,mengatakan bahwa angka pertanggungan itu naik dari 70% dan masa penjaminan selama 7 tahun.
Anwar, yang juga merupakan Menteri Keuangan Malaysia, menyebut bahwa fasilitas penjaminan pinjaman itu akan beroperasi di bawah Syarikat Jaminan Pembiayaan Perniagaan (SJPP), yaitu sebuah badan yang sepenuhnya dimiliki oleh Kementerian Keuangan. SJPP akan bertugas untuk mengelola dan mengatur skema penjaminan pemerintah tersebut.
Menurut kantor berita Bernama, fasilitas keuangan itu akan mendukung sektor-sektor yang terdampak krisis energi global, termasuk sektor konstruksi, pertanian, pangan, logistik, transportasi, dan pariwisata.
“Dalam menghadapi tekanan global yang semakin meningkat, pemerintah Madani [visi pemerintahan Anwar] sedang bertindak cepat, dipandu oleh umpan balik langsung dari para pelaku industri, untuk memastikan bahwa setiap langkah menjangkau mereka yang paling membutuhkannya,” terang Anwar dalam sebuah pernyataan pada Senin (20/4/2026).
Di samping bantuan melalui pinjaman, Kementerian Keuangan Malaysia, dalam pernyataannya, juga menyatakan bahwa masa transisi untuk penerapane-invoicingalias faktur elektronik akan diperpanjang hingga 31 Desember 2027. Hal itu berlaku untuk bisnis-bisnis dengan penjualan tahunan antara RM1 juta dan RM5 juta, seperti dikutip dariThe Edge Malaysia.
Sebagai informasi,e-invoicingawalnya diperkenalkan sebagai platform digital untuk menyederhanakan penagihan dan meningkatkan kepatuhan pajak.E-invoicingpun mewajibkan bisnis untuk membuat dan mengirimkan faktur secara elektronik untuk meningkatkan efisiensi pelaporan dan pemungutan pajak, sekaligus mengurangi kebocoran.
Pernyataan itu juga menambahkan bahwa Pemerintah federal Malaysia pun akan mempertimbangkan pembebasan sementara bea masuk dan pajak penjualan hingga 31 Desember 2026 untuk barang-barang Malaysia yang diimpor kembali. Fenomena reimpor tersebut terjadi karena barang-barang itu tidak bisa menyelesaikan proses ekspor akibat gangguan yang disebabkan oleh perang di Asia Barat.
Sang Perdana Menteri mengatakan bahwa pemerintahannya akan terus memantau situasi itu dan menilai kebutuhan untuk memfasilitasi perlakuan pajak bagi bisnis yang terdampak oleh perang tersebut.
Pemerintah, katanya, akan terus memperkuat kerja sama dengan para lembaga keuangan, pelaku industri, dan pengusaha untuk memastikan bahwa langkah-langkah dari pemerintah akan membantu menjaga operasi bisnis dan melindungi lapangan kerja.
“Ini bukan situasi sementara; kita harus bersiap untuk perubahan yang bertahap dan berkepanjangan,” ungkap Anwar.
Langkah ini memang merupakan bagian dari upaya yang sedang dilakukan Pemerintah Malaysia untuk meredakan dampak dari perang di Asia Barat, yang telah membuat Selat Hormuz diblokade oleh Iran dan AS.
Selat Hormuz merupakan tempat berlayarnya seperlima dari keseluruhan pengiriman energi dunia, seperti dilansir dariBBC News. Penutupan pelayaran di selat itu pun membuat harga energi global, termasuk minyak, melambung.
Sebelumnya, pada Senin, Perdana Menteri Anwar telah mengadakan pertemuan dengan komunitas bisnis etnis China dan India. Berdasarkan laporanMalay Mail, acara itu menyusul pertemuannya dengan pelaku UMKM Bumiputera, yaitu komunitas etnis Melayu dan penduduk asli Malaysia. (Laurensius Katon Kandela)
Berkat Optimisme AI, Ringgit Malaysia Diproyeksi Terus Menguat di 2026
Penguatan mata uang ringgit Malaysia menjadi fokus pelaku pasar pada awal tahun 2026. [1,046] url asal
#ringgit #malaysia #indepth #ringgit-malaysia #penguatan-ringgit
(Kompas.com - Money) 18/02/26 13:00
v/139473/
JAKARTA, KOMPAS.com - Penguatan mata uang ringgit Malaysia menjadi fokus pelaku pasar pada awal tahun 2026.
Setelah bertahun-tahun mengalami tekanan, nilai tukar ringgit menunjukkan performa yang kuat, menembus level tertinggi sejak 2018 terhadap dollar AS.
Dinamika ini dipengaruhi oleh faktor global, fundamental domestik, serta sentimen baru yang muncul terkait peran Malaysia di rantai pasok kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).(Trading Economics)
SHUTTERSTOCK/FOCAL POINT Ilustrasi mata uang ringgit Malaysia.Penguatan ringgit hingga level tertinggi dalam lebih dari tujuh tahun
Laporan Bloomberg menyebutkan, pada 26 Januari 2026, ringgit menguat hingga 3,9678 terhadap dolar AS, level terkuat sejak Mei 2018.
Dalam perdagangan harian tersebut, ringgit sempat naik hampir 1 persen, sementara indeks saham utama Kuala Lumpur juga mencatat kenaikan tajam.
Bloomberg mewartakan, aset Malaysia melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari tujuh tahun, didorong oleh meningkatnya kepercayaan terhadap peran negara tersebut dalam rantai pasokan AI dan prospek ekonomi yang semakin kuat.
Penguatan ringgit bukan hanya terjadi terhadap dollar AS tetapi juga relatif terhadap mata uang lain di kawasan dalam periode tertentu.
Sektor teknologi, investasi asing, serta optimisme atas peran Malaysia dalam ekosistem AI disebut sebagai faktor yang memperkuat permintaan terhadap ringgit.
Ringgit vs konsensus pasar: sudah capai target?
Sejumlah analis memberikan pandangan mereka terkait reli ringgit yang sudah melampaui ekspektasi pasar.
KOMPAS.com/HENDRA CIPTA Mata uang negara ASEAN ringgit Malaysia.Neoh Jia Man, fund manager dari Tradeview Capital mengatakan, berdasarkan konsensus Bloomberg, ringgit telah mencapai target akhir tahunnya di angka 4,00 terhadap dollar AS.
"Pada level saat ini, ringgit sudah diperdagangkan lebih kuat daripada perkiraan konsensus, sehingga potensi kenaikan lebih lanjut tidak akan terlalu besar," ujarnya, dikutip dari The Star.
Pernyataan ini menunjukkan ruang kenaikan tambahan bisa menjadi lebih terbatas dalam jangka pendek karena target pasar sudah tercapai.
Pandangan historis: rata-rata nilai tukar dan ruang penguatan
Sejak Malaysia menghapus sistem patokan nilai tukar terhadap dollar AS pada 21 Juli 2005, nilai tukar rata-rata dollar AS terhadap ringgit sekitar 3,8219.
Dengan pergerakan nilai tukar di bawah rata-rata historis ini, narasi pasar menunjukkan masih terdapat landasan statistik bagi kemungkinan penguatan lanjutan bila kondisi fundamental mendukung.
Peran kebijakan moneter AS dan risiko eksternal
Kebijakan moneter bank sentral AS Federal Reserve (The Fed) juga disebut sebagai faktor eksternal yang berpengaruh pada volatilitas mata uang global, termasuk ringgit.
Mohd Afzanizam Abdul Rashid, Kepala Ekonom Bank Muamalat Malaysia Bhd mengatakan, The Fed mungkin ingin mempertahankan kebijakan moneter ketat dengan menjaga Suku Bunga Dana Federal (Fed Funds Rate) pada tingkat yang berlaku atau dapat menaikkan suku bunga karena tingkat inflasi masih tinggi.
"Hal ini dapat menyebabkan dollar AS menguat, dan akibatnya ringgit melemah," kata Afzanizam.
Fundamental domestik: stabilitas moneter Malaysia
Namun, beberapa analis melihat penguatan ringgit saat ini tidak semata ditopang oleh pergerakan dollar AS.
KOMPAS.com/Ardito Ramadhan Pemandangan gedung-gedung pencakar langit di Kuala Lumpur dari Hotel Mercure Kuala Lumpur Shaw Parade, Kuala Lumpur, Malaysia, Rabu (3/12/2025).Mohd Sedek Jantan, Director of Investment Strategy and Country Economist di IPPFA Sdn Bhd, menyatakan, Malaysia kini dipandang oleh lembaga-lembaga global sebagai negara dengan kinerja relatif lebih baik di Asia, bukan hanya sekadar kisah pemulihan siklikal.
"Yang penting, pelonggaran kebijakan The Fed yang diantisipasi bukanlah pendorong utama kinerja ringgit," tuturnya.
“Meskipun suku bunga AS disesuaikan, stabilitas moneter relatif Malaysia, prospek pertumbuhan yang membaik, dan dinamika inflasi yang terkendali memberikan jangkar yang lebih tahan lama bagi mata uang tersebut," imbuh dia.
Proyeksi penguatan ringgit hingga akhir 2026
Pandangan optimistis juga muncul dari analis mata uang di MUFG Bank Ltd, Lloyd Chan.
Ia memperkirakan ringgit akan memasuki siklus apresiasi kuat hingga akhir 2026, dengan potensi nilai tukar sekitar 3,70 per dollar AS pada penutupan tahun.
"Kami memperkirakan USDMYR akan terus cenderung menurun menuju 3,7000 pada akhir tahun 2026, didukung oleh siklus apresiasi ringgit yang lebih berkelanjutan yang didorong oleh fundamental struktural," tulis Lloyd dalam laporannya.
Chan mengaitkan prospek ini dengan peningkatan aliran investasi asing serta fundamental ekonomi domestik yang makin stabil, termasuk aliran modal ke sektor manufaktur, jasa, dan Teknologi Informasi & Komunikasi (ICT).
Menurut dia, ekonomi Malaysia tetap berada dalam siklus investasi yang dipimpin oleh sektor teknologi informasi, dengan total persetujuan investasi di sektor manufaktur dan jasa meningkat 14,7 persen secara tahunan (yoy) pada periode Januari sampai September 2025.
"Secara khusus, ICT telah muncul sebagai kontributor terbesar untuk investasi yang disetujui, didukung oleh partisipasi asing yang kuat, dengan persetujuan investasi TIK tumbuh sekitar 32 persen (yoy) selama periode yang sama," ungkap Chan.
Stabilitas makroekonomi juga menekan premi risiko.
UNSPLASH/ESMONDE YONG Ilustrasi Kuala Lumpur, Malaysia. Malaysia unggul dalam bidang wisata medis.Inflasi tetap terkendali meskipun ada rasionalisasi subsidi bahan bakar RON95 dan penyesuaian pajak penjualan dan jasa, memungkinkan Bank Negara Malaysia (BNM) untuk mempertahankan stabilitas kebijakan.
Disiplin fiskal menjaga risiko kedaulatan tetap terkendali, mendukung kepercayaan investor di pasar keuangan lokal.
"Dengan valuasi ekuitas yang wajar, latar belakang makro yang solid, dan siklus naik teknologi yang berkelanjutan, Malaysia berada pada posisi yang baik untuk menarik minat ekuitas asing kembali, yang memberikan katalis positif tambahan bagi ringgit," jelas Chan.
Optimisme AI dan peran Malaysia dalam ekonomi digital
Laporan Bloomberg menyoroti kepercayaan pasar terhadap posisi Malaysia sebagai bagian dari rantai pasokan kecerdasan buatan global turut mendorong penguatan aset nasional, termasuk ringgit.
Optimisme ini muncul dari persepsi negara semakin terintegrasi ke dalam industri teknologi dan menarik investasi yang berkaitan dengan AI serta infrastruktur data.
Data lain menunjukkan, ringgit menjadi salah satu mata uang dengan performa terbaik di Asia pada Januari 2026, yang didorong oleh sektor teknologi, permintaan domestik yang kuat, dan minat investor asing terhadap aset lokal.
Aliran modal asing dan persepsi pasar
Return investor global ke pasar Malaysia menjadi faktor tambahan yang mendukung penguatan ringgit.
Data Bloomberg menyebut, dana asing membeli 256 juta dollar AS saham lokal secara bersih pada Januari 2026, yang menjadi yang tertinggi di antara negara-negara pasar berkembang di kawasan.
Penguatan indeks saham lokal FTSE Bursa Malaysia KLCI menunjukkan bahwa pasar modal turut bergerak seiring nilai tukar yang lebih kuat.
Risiko volatilitas dan faktor lain
Meski pasar menunjukkan tren positif, sejumlah analis tetap memperingatkan kemungkinan volatilitas seiring dinamika global yang terus berubah.
Kebijakan moneter di luar negeri, geopolitik, dan ekspektasi investor global tetap menjadi faktor yang dapat mempengaruhi arah nilai tukar ringgit di sepanjang 2026.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Ringgit Jadi Mata Uang Terkuat di Asia, Rupiah Masuk Tiga Terlemah
Kinerja mata uang Asia awal 2026 beragam. Ringgit Malaysia jadi yang terkuat, sementara rupiah Indonesia masuk tiga mata uang terlemah. [374] url asal
#malaysia #indonesia #ringgit #ringgit-malaysia #rupiah-indonesia #ringgit-mata-uang-terkuat-di-asia #kinerja-mata-uang-asia
(Kompas.com - Money) 21/01/26 14:50
v/109531/
KOMPAS.com – Pergerakan nilai tukar mata uang di kawasan Asia pada awal tahun 2026 menunjukkan kinerja yang beragam.
Di tengah volatilitas pasar global, ringgitMalaysia tercatat sebagai mata uang dengan performa paling kuat di kawasan, sementara rupiah Indonesia berada di kelompok mata uang yang mengalami tekanan.
Data kinerja pasar valuta asing menunjukkan ringgit mencatatkan penguatan tertinggi dibandingkan mata uang Asia lainnya, mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Malaysia.
Sentimen positif tersebut muncul ketika pelaku pasar semakin selektif menempatkan dana di negara-negara dengan fundamental ekonomi yang dinilai lebih stabil.
Dalam daftar mata uang dengan kinerja terbaik, ringgit Malaysia memimpin dengan penguatan sekitar 0,27 persen. Posisi berikutnya ditempati yuan China yang menguat sekitar 0,23 persen, disusul baht Thailand dengan kenaikan 0,20 persen.
Data tersebut merujuk pada pergerakan mata uang Asia di pasar global berdasarkan pemantauan lembaga keuangan internasional dan data pasar valuta asing.
Sebaliknya, sejumlah mata uang Asia justru mencatatkan pelemahan signifikan. Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan kinerja terburuk setelah terdepresiasi sekitar 1,31 persen, diikuti yen Jepang yang melemah 1,10 persen.
Tekanan tersebut mencerminkan tantangan ekonomi yang masih dihadapi beberapa negara Asia, mulai dari perbedaan kebijakan moneter hingga ketidakpastian pasar global.
Rupiah Indonesia juga berada di kelompok mata uang dengan kinerja terlemah di Asia, berada di posisi tiga terbawah setelah tercatat melemah sekitar 1,07 persen.
Tekanan terhadap rupiah dipengaruhi oleh kehati-hatian investor terhadap aset negara berkembang, seiring dinamika arus modal, kondisi eksternal global, serta sentimen pasar yang masih fluktuatif.
Perbedaan kinerja mata uang di Asia ini menegaskan bahwa pemulihan ekonomi di Asia berlangsung tidak merata.
Kebijakan makroekonomi, dinamika perdagangan, serta perubahan sentimen investor global terus menjadi faktor utama yang membentuk arah pergerakan nilai tukar mata uang di kawasan tersebut.
Adapun daftar kinerja mata uang Asia awal 2026 sebagai berikut:
- Ringgit Malaysia (+0,27%)
- Yuan China (+0,23%)
- Baht Thailand (+0,20%)
- Dong Vietnam (+0,08%)
- Kip Laos (+0,04%)
- Kyat Myanmar (0%)
- Dolar Brunei (-0,19%)
- Dolar Hong Kong (-0,19%)
- Dolar Singapura (-0,19%)
- Riel Kamboja (-0,29%)
- Peso Filipina (-0,83%)
- Rupiah Indonesia (-1,07%)
- Yen Jepang (-1,10%)
- Won Korea Selatan (-1,31%)
Nilai Tukar Ringgit Malaysia Diperkirakan Makin Perkasa pada 2026
Ringgit Malaysia diprediksi menguat hingga 2026, didukung ekspor teknologi dan investasi asing, dengan proyeksi mencapai 3,95 per dolar AS. [426] url asal
#ringgit-malaysia #nilai-tukar-ringgit #mata-uang-asia #ringgit-2026 #ringgit-dolar-as #apresiasi-ringgit #bank-sentral-malaysia #ekspor-teknologi-malaysia #investasi-asing-malaysia #pusat-data-malaysi
(Bisnis.Com - Ekonomi) 15/12/25 17:45
v/73485/
Bisnis.com, JAKARTA — Mata uang ringgit Malaysia masih di dalam jalur untuk mengungguli atau outperform dari mata uang Asia lainnya pada 2026, memperpanjang apresiasi yang bergulir tahun ini.
Berdasarkan data Bloomberg, ringgit melesat lebih dari 9% di hadapan dolar AS di sepanjang tahun ini yang menjadikannya sebagai mata uang berkinerja terbaik di Asia. Ringgi dibuka relatif tidak berubah di level 4,0982 per dolar AS pada Senin (15/12/2025) setelah mencatatkan apresiasi selama dua sesi sebelumnya.
Analis melihat penopang apresiasi ringgit tahun ini berasal dari keterkaitan kuat Malaysia dengan rantai pasok teknologi global, prospek pertumbuhan yang positif, serta dorongan berkelanjutan pemerintah terhadap konsolidasi fiskal. Kebijakan bank sentral Malaysia yang diperkirakan tetap stabil tahun depan juga memberikan dukungan tambahan.
Analis di Bank of Singapore Ltd. dan MUFG Bank Ltd. memperkirakan ringgit akan diperdagangkan mendekati level 4,00 per dolar AS pada akhir 2026. Sementara itu, Goldman Sachs Group Inc. memproyeksikan penguatan mata uang tersebut hingga 3,95 per dolar AS, yang akan menjadi level tertinggi dalam tujuh tahun terakhir.
“Ringgit diperkirakan akan melanjutkan penguatannya tahun depan, didukung oleh ekspor teknologi yang kuat seiring lonjakan permintaan kecerdasan buatan serta meningkatnya arus investasi asing langsung, khususnya ke sektor pusat data,” ujar Moh Siong Sim, analis valuta asing di Bank of Singapore, dikutip Bloomberg pada Senin (15/12/2025).
Lebih lanjut, Malaysia telah menjadi pusat pembangunan pusat data di kawasan regional yang menciptakan peluang pertumbuhan baru bagi perekonomian. Data bank sentral Malaysia menunjukkan nilai ekspor jasa pusat data melonjak menjadi 10,7 miliar ringgit (US$2,6 miliar) dalam sembilan bulan pertama tahun ini, dari 1,2 miliar ringgit pada periode yang sama tahun 2024.
Goldman Sachs melihat Bank Negara Malaysia juga dinilai berkemungkinan kecil untuk melonggarkan kebijakan moneter, sehingga membantu mempersempit selisih imbal hasil bahkan ketika Federal Reserve mengisyaratkan satu kali pemangkasan suku bunga lagi pada 2026.
“Berdasarkan model valuasi valuta asing kami, ringgit dinilai sangat undervalued,” tulis analis Goldman Sachs, termasuk Danny Suwanapruti, dalam sebuah catatan.
Indikator teknikal juga menunjukkan sinyal yang positif. Pasangan dolar AS-ringgit telah menembus level dukungan di 4,0947 yang menjadi level terendah pada September 2024. Posisi ini membuka peluang pergerakan menuju level kunci 4,00.
Data perdagangan Malaysia yang dijadwalkan rilis pada 19 Desember 2025 turut berpotensi menjadi katalis tambahan jika kekuatan ekspor teknologi Malaysia ternyata berlanjut.
“Apresiasi ringgit tahun ini didukung oleh kombinasi ketahanan ekonomi domestik dan meredanya tekanan eksternal,” kata Lloyd Chan, analis valuta asing di MUFG Bank.
Chan menambahkan bahwa faktor-faktor pendukung penguatan ringgit tahun in iakan berlanjut hingga 2026, sehingga pihaknya tetap optimistis terhadap prospek ringgit.
Penguatan Ringgit Malaysia Sepanjang 2025: Kini Jawara Asia
Sepanjang 2025, ringgit Malaysia (MYR) berbalik arah dari tekanan berkepanjangan menjadi salah satu mata uang dengan kinerja terbaik di Asia. [1,709] url asal
#indepth #ringgit-malaysia #mata-uang #nilai-tukar-ringgit #kurs-ringgit-ke-rupiah
(Kompas.com - Money) 28/11/25 18:43
v/54174/
JAKARTA, KOMPAS.com - Sepanjang 2025, ringgit Malaysia (MYR) berbalik arah dari tekanan berkepanjangan menjadi salah satu mata uang dengan kinerja terbaik di Asia.
Penguatan ringgit bukan hanya soal angka di layar perdagangan, tetapi juga terkait kombinasi faktor fundamental, kebijakan bank sentral, hingga perubahan sentimen global terhadap aset berdenominasi ringgit.
Lonjakan nilai tukar ringgit
Data historis kurs USD/MYR menunjukkan bahwa pada awal tahun, tepatnya 2 Januari 2025, 1 dollar AS masih setara sekitar 4,47 ringgit, bahkan sempat menyentuh kisaran tertinggi tahun ini di sekitar 4,51 ringgit per dollar AS pada 6 Januari 2025.
SHUTTERSTOCK/FOCAL POINT Ilustrasi mata uangringgit Malaysia.Menjelang akhir November 2025, posisi itu berubah drastis.
Situs data pasar Trading Economics mencatat kurs USD/MYR di sekitar 4,13 pada akhir November 2025, setelah ringgit menguat sekitar 6,9 persen dalam 12 bulan terakhir.
Gambaran yang sama muncul dalam referensi kurs Bank Negara Malaysia (BNM), yang menunjukkan ringgit stabil di kisaran 4,16 sampai 4,13 per dollar AS pada rentang 20 sampai 25 November 2025.
Secara year-to-date, beberapa lembaga keuangan global memperkirakan apresiasi ringgit terhadap dolar AS berada di kisaran 7 sampai 8 persen.
Laporan riset MUFG Research pada awal November 2025 menyebut ringgit telah menguat sekitar 7 persen sejak awal tahun, dan menilai target proyeksi akhir tahun di 4,15 per dolar AS “kian realistis”.
Per 12 November 2025, ringgit tercatat menguat 8,15 persen terhadap dollar AS secara year-to-date, menjadikannya mata uang dengan kenaikan tertinggi di antara mata uang Asia yang dipantau.
Adapun saat ini, kurs ringgit berada di level Rp 4.031 pada Jumat (28/11/2025). Jika dibandingkan, pada 1 Januari 2025, kurs ringgit setara Rp 3.628.
KOMPAS.com/HENDRA CIPTA Mata uang negara ASEAN ringgit Malaysia.Kemudian, pada 11 Mei 2025, kurs ringgit berada di level Rp 3.849. Lalu, pada 16 Juni 2025, ringgit melemah terhadap rupiah, ke level Rp 3.726.
Penguatan rupiah terhadap ringgit terlihat lagi pada 18 Juni 2025, ke level Rp 3.669. Setelah itu, ringgit melemah kembali terhadap rupiah, mencapai level Rp 3.470 pada 24 Juli 2025.
Namun demikian, ringgit kembali menguat secara perlahan. Pada 8 September 2025, kurs ringgit mencapai level Rp 3.905, kemudian mencapai Rp 3.961 pada 28 September 2025.
Akhirnya, kurs ringgit ke rupiah menembus level Rp 4.012 pada 10 November 2025.
Status baru: “Mata uang dengan kinerja terbaik di Asia”
Narasi penguatan ringgit semakin menguat ketika pejabat tertinggi Malaysia ikut menegaskannya.
Perdana Menteri yang juga Menteri Keuangan Malaysia Anwar Ibrahim, dalam sesi tanya jawab di Dewan Rakyat pada 11 November 2025 mengatakan ringgit berada di posisi 4,16 per dollar AS dan menjadi mata uang dengan kinerja terbaik di Asia.
Media lokal Malaysia New Strait Times menyoroti ringgit sebagai “Asia’s best-performing currency” alias mata uang dengan kinerja terbaik di Asia sepanjang 2025.
Ringgit kian perkasa dan menempati posisi mata uang dengan kinerja terbaik di Asia, sementara rupiah justru mengalami depresiasi terdalam di kawasan.
Penguatan ringgit disebut sebagai cerminan membaiknya momentum ekonomi Malaysia serta meredanya ketegangan perdagangan global yang mendorong investor asing masuk ke pasar obligasi lokal.
Perubahan bertahap: ringgit menguat sejak kuartal I 2025
Penguatan ringgit bukan terjadi secara tiba-tiba di akhir tahun.
PIXABAY/SQUIRREL_PHOTOS Ilustrasi uang ringgit Malaysia.Laporan ekonomi Bank Negara Malaysia yang dirangkum McKinsey menunjukkan bahwa pada kuartal I 2025 ringgit sudah menguat sekitar 0,8 persen terhadap dollar AS, sebelum reli makin kencang 5,1 persen pada kuartal II 2025.
BNM dalam Buletin Kuartalan Q2 dan Q3 2025 mencatat bahwa nilai tukar efektif nominal (NEER) ringgit menguat terhadap sebagian besar mata uang mitra dagang.
Penguatan tersebut didukung oleh prospek ekonomi domestik yang dinilai masih positif serta pandangan pasar bahwa dollar AS akan melemah seiring kekhawatiran atas prospek fiskal dan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat.
Menurut BNM, ringgit di kuartal III 2025, ringgit menguat terhadap mata uang mayoritas mitra dagang Malaysia, termasuk dollar Singapura.
Fondasi domestik: pertumbuhan, inflasi rendah, dan cadangan devisa
Dari sisi fundamental, sejumlah indikator domestik dinilai mendukung penguatan ringgit.
Laporan McKinsey mengenai ekonomi Asia Tenggara merangkum proyeksi Bank Negara Malaysia bahwa inflasi 2025 diperkirakan berkisar 1,5 sampai 2,5 persen, lebih rendah dari proyeksi sebelumnya, di tengah tekanan biaya eksternal yang mereda dan permintaan domestik yang stabil.
Di sisi lain, cadangan devisa Malaysia naik ke level tertinggi dalam tiga tahun pada pertengahan 2025.
Bloomberg melaporkan bahwa peningkatan cadangan ini memperkuat kemampuan bank sentral untuk menstabilkan ringgit di tengah volatilitas pasar global.
Kombinasi cadangan devisa yang kuat, pertumbuhan ekonomi yang terjaga, surplus neraca dagang, aliran masuk investasi asing langsung (FDI), dan kebijakan suku bunga yang relatif stabil sebagai faktor utama yang menopang sentimen positif investor terhadap ringgit.
Sebagai informasi, ekspektasi pasar terhadap pemangkasan agresif suku bunga BNM mulai memudar, sehingga imbal hasil aset ringgit tetap menarik bagi investor portofolio.
FREEPIK/FREEPIK Ilustrasi suku bunga, bunga kredit.Peran kebijakan moneter dan persepsi pasar
Di tengah gejolak tarif dan ketidakpastian global, Bank Negara Malaysia beberapa kali menegaskan fokusnya pada stabilitas.
Dikutip dari Reuters, pada April 2025, Gubernur BNM Abdul Rasheed Ghaffour mengatakan bahwa perekonomian Malaysia cukup terdiversifikasi untuk menahan dampak tarif impor AS.
Ghaffour pun menekankan pentingnya reformasi struktural serta kebijakan yang memberikan dukungan bagi ringgit di tengah volatilitas.
Pada Juli 2025, BNM memangkas suku bunga acuan (OPR) sebesar 25 basis poin menjadi 2,75 persen. Ini adalah pemangkasan suku bunga pertama dalam lima tahun, karena risiko perlambatan pertumbuhan di tengah perang dagang dan tarif baru AS.
Namun, inflasi yang tetap rendah memberi ruang bagi bank sentral untuk menjaga keseimbangan antara mendukung pertumbuhan dan menjaga daya tarik aset berdenominasi ringgit.
Meski ada pemangkasan suku bunga, beberapa analis yang dikutip media Malaysia menilai bahwa kredibilitas kebijakan BNM, disiplin fiskal pemerintah, dan rating kredit Malaysia yang stabil turut memperkuat kepercayaan pasar.
Menurut Anwar Ibrahim, lembaga pemeringkat internasional mempertahankan peringkat A-/A3 Malaysia, dan hal itu memberi sinyal prospek yang kuat dan stabil bagi perekonomian dan mata uang negara tersebut.
Arus modal dan faktor eksternal: dollar AS melemah, obligasi Malaysia diminati
Penguatan ringgit juga berkaitan dengan pergeseran sentimen global.
The Straits Times menulis bahwa ringgit menjadi mata uang berkinerja terbaik di Asia pada 2025 dan mendekati level tertinggi dalam empat tahun, seiring menguatnya momentum ekonomi Malaysia dan meredanya ketegangan perdagangan global.
UNSPLASH/ESMONDE YONG Ilustrasi Kuala Lumpur, Malaysia. Malaysia unggul dalam bidang wisata medis.Kondisi itu mendorong investor asing untuk meningkatkan kepemilikan obligasi pemerintah Malaysia, yang nilainya disebut mendekati 4 miliar dollar AS sepanjang 2025.
Selain itu, pelemahan dollar AS setelah data ekonomi yang lebih lemah, kekhawatiran pasar terhadap defisit fiskal dan ketidakpastian tarif baru AS.
Menurut The Edge Malaysia, ini membuat aset di pasar berkembang dengan fundamental relatif kuat, termasuk Malaysia, menjadi tujuan aliran dana.
Laporan McKinsey yang merujuk data BNM juga menyebut bahwa reli ringgit pada kuartal II 2025 terutama dipicu oleh melemahnya dollar AS secara luas di tengah ekspektasi perlambatan ekonomi AS dan kekhawatiran atas keberlanjutan fiskal negara tersebut.
Perspektif Indonesia: kontras dengan rupiah
Di Indonesia, penguatan ringgit sering dibandingkan dengan kinerja rupiah.
Hingga 12 November 2025, ringgit menguat 8,15 persen terhadap dolar AS, sementara rupiah tercatat melemah sekitar 3,5 persen. Ini menjadikan rupiah mata uang dengan depresiasi terdalam di Asia dalam periode tersebut.
Ringgit mencapai level terkuat dalam 13 bulan terakhir dan mencetak rekor baru terhadap rupiah.
Fundamental ekonomi Malaysia yang membaik dan disiplin kebijakan fiskal disebut sebagai beberapa faktor yang membedakan pergerakan ringgit dibandingkan mata uang regional lain, termasuk rupiah.
Dampak ke sektor riil: importir diuntungkan, pariwisata tertekan
Penguatan ringgit tidak berdampak seragam ke semua sektor. Sebab, fluktuasi mata uang dipandang sebagai pisau bermata dua.
Dok. Unsplash/Wengang Zhai Ilustrasi Kuala Lumpur, Malaysia.Importir Malaysia diuntungkan karena biaya pembelian barang dari luar negeri, mulai dari bahan baku industri hingga barang konsumsi, menjadi lebih murah dalam denominasi ringgit.
Sebaliknya, pelaku ekspor dan industri pariwisata menghadapi tantangan.
Ringgit yang kuat membuat produk Malaysia relatif lebih mahal di pasar global dan mengurangi daya tarik Malaysia sebagai destinasi wisata murah bagi turis asing.
Meskipun sejumlah sektor tertekan, penguatan ringgit secara keseluruhan tetap dinilai positif karena mencerminkan kepercayaan investor terhadap ekonomi Malaysia.
Selain itu, The Straits Times menulis bahwa ringgit yang menguat terhadap dollar Singapura membuat sebagian pekerja Malaysia di Singapura menerima nilai konversi yang lebih kecil ketika mengirim uang ke kampung halaman.
Dengan demikian, ini memunculkan perhitungan ulang soal biaya dan manfaat bekerja di luar negeri.
Ringgit terhadap rupiah: rekor baru di 2025
Selain terhadap dollar AS, penguatan juga terlihat pada kurs ringgit terhadap rupiah.
Pada November 2025, nilai 1 ringgit sempat setara sekitar Rp 4.000, yang digambarkan sebagai salah satu posisi terkuat ringgit terhadap rupiah dalam beberapa tahun terakhir.
Sepanjang 2025, ringgit menjadi salah satu mata uang dengan kinerja terbaik di Asia, sementara rupiah justru berkinerja sebaliknya.
Proyeksi: tren penguatan ringgit dinilai bisa berlanjut, dengan risiko
Sejauh ini, beberapa analis internasional menilai tren penguatan ringgit masih berpotensi berlanjut, meskipun laju apresiasi bisa melambat.
THINKSTOCK IlustrasiMUFG dalam risetnya pada 7 November 2025 menyebut bahwa penguatan sekitar 7 persen year-to-date membuat proyeksi kurs ringgit akhir tahun di 4,15 per dollar AS hampir tercapai.
Ada kemungkinan ringgit menguat lebih jauh menuju level tertinggi 2024 di sekitar 4,09 per dollar AS.
Ekonom ASEAN di OCBC Bank, yang dikutip CNA, memproyeksikan ringgit di kisaran 4,16 per dolar AS pada akhir 2025 dan berpotensi menguat ke sekitar 4,04 per dollar AS pada akhir 2026, selama fundamental Malaysia tetap solid dan dollar AS tidak kembali menguat tajam.
Bank Negara Malaysia dalam Buletin Kuartalan Q3 2025 menyatakan bahwa apresiasi ringgit didukung oleh prospek ekonomi domestik yang positif dan melemahnya outlook dollar AS.
BNM menegaskan bahwa bank sentral akan terus memantau risiko global, termasuk kelanjutan perang tarif dan volatilitas pasar keuangan.
Di sisi lain, penguatan ringgit yang terlalu tajam juga menimbulkan “pusing” bagi beberapa sektor di Malaysia, terutama eksportir dan pelaku pariwisata, sehingga otoritas kemungkinan akan berhati-hati agar apresiasi tidak mengganggu daya saing.
Sejauh ini, data dan pernyataan resmi menunjukkan bahwa penguatan ringgit sepanjang 2025 banyak dikaitkan dengan kombinasi faktor fundamental domestik yang relatif kuat, disiplin kebijakan, serta perubahan sentimen global terhadap dollar AS dan aset pasar berkembang.
Sejumlah analis menilai keberlanjutan tren tersebut akan sangat bergantung pada arah kebijakan moneter global, perkembangan perang tarif, dan konsistensi reformasi ekonomi yang dijalankan pemerintah Malaysia.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang
Video: IHSG Anjlok Hingga Rupiah Kalah Lawan Ringgit Malaysia, Kenapa?
IHSG Anjlok Hingga Rupiah Kalah Lawan Ringgit Malaysia, Ada Apa? [75] url asal
(CNBC Indonesia - Market) 18/11/25 16:24
v/42267/
Jakarta, CNBC Indonesia- Indeks harga saham gabungan menutup perdagangan Selasa, 18 November 2025 di zona merah ke level 8.361 sementara Rupiah terdepresiasi 0,09% ke level Rp16.735 per Dolar AS.
Seperti apa sentiment yang mempengaruhi pasar keuangan RI? Bagaimana Analisa pelemahan Rupiah yang performanya kala dibanding Ringging Malaysia? Selengkapnya simak dialog Safrina Nasution dan Dina Gurning dengan Equity Analyst CNBC Indonesia, Susi Setiawati dalam Closing Bell, CNBC Indonesia Awards (Selasa, 18/11/2025)
Video: 3 Senjata Rahasia Ini Buat Ringgit & Malaysia Perkasa
3 Senjata Rahasia Ini Buat Ringgit & Malaysia Perkasa [49] url asal
(CNBC Indonesia - News) 17/11/25 11:49
v/40526/
Jakarta, CNBC Indonesia - Kinerja Rupiah pekan lalu cenderung datar dan belum mampu menunjukkan penguatan yang signifikan terhadap Dolar Amerika Serikat. Meski melemah tipis secara mingguan, Rupiah masih lebih baik dibandingkan sejumlah mata uang Asia lainnya.
Simak informasi selengkapnya dalam program Profit CNBC Indonesia (Senin 17/11/2025) berikut ini.
Tiga Faktor Utama Dorong Ringgit Malaysia Tembus Level Tertinggi
Ringgit Malaysia menunjukkan penguatan signifikan, didorong faktor domestik yang solid, kebijakan perdagangan global yang menguntungkan, dan minat kuat dari investor asing, mencapai level tertinggi. [320] url asal
#ringgit #rupiah #malaysia #give-me-perspective #analis #ekonomi #asia
Ringgit Malaysia terus menunjukkan performa impresif dan kini mendekati level tertinggi dalam empat tahun terakhir. Penguatan ini tidak terjadi tiba-tiba, melainkan didorong oleh tiga faktor utama yaitu kombinasi fundamental domestik yang solid, perubahan kebijakan perdagangan global, serta derasnya minat investor asing.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai kekuatan ringgit sangat ditopang oleh fondasi ekonomi Malaysia yang stabil. Menurutnya, cadangan devisa kuat, pertumbuhan ekonomi terjaga, surplus neraca dagang konsisten, foreign direct investment (FDI) mengalir masuk, dan suku bunga acuan dipertahankan stabil oleh Bank Negara Malaysia.
“Semua itu mendukung sentimen positif bagi investor,” ujar Lukman kepada Katadata.co.id, Jumat (14/11).
Dari sisi eksternal, pengamat pasar uang Ariston Tjendra menyoroti peran kebijakan tarif 0% dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang ikut menguntungkan Malaysia.
“Tarif nol ini mendorong ekspor Malaysia dan otomatis memperkuat prospek pertumbuhan ekonominya. Sementara Indonesia masih dalam proses negosiasi," kata Ariston.
Momentum Ekonomi yang Menguat
Mengutip Bloomberg, sejumlah analis menyebut ringgit menjadi mata uang dengan kinerja terbaik di Asia, ditopang oleh meningkatnya momentum ekonomi dalam negeri. Hal ini mendorong investor asing kembali memborong obligasi Malaysia sepanjang tahun ini dan memperkuat nilai tukarnya.
“Sentimen ringgit tetap positif. Momentum telah terbangun,” tulis para ahli strategi Maybank yang dipimpin Saktiandi Supaat dalam sebuah catatan.
Pertumbuhan ekonomi Malaysia pada kuartal III 2025 bahkan melampaui ekspektasi, didorong rebound permintaan global atas barang ekspor. Bank Negara Malaysia yang mempertahankan suku bunga menunjukkan kepercayaan pada ketahanan ekonomi domestik, membuat ringgit menguat lebih dari 8% sepanjang tahun ini.
Senior Ahli Strategi BNY Wee Khoon Chong menilai penguatan ringgit masih memiliki ruang untuk terus berlanjut karena valuasinya tetap menarik. Penguatan ini dinilai sejalan dengan pemulihan setelah periode pelemahan tajam pada 2021–2023.
Dengan kombinasi fundamental kokoh, permintaan ekspor yang kembali kuat, kondisi global lebih ramah, hingga kebijakan tarif yang memberi angin segar, ringgit sedang berada dalam momentum emasnya. Jika tren ini berlanjut, Malaysia berpeluang mempertahankan posisinya sebagai salah satu pasar keuangan paling menarik di Asia.
DPR Cecar BI, Rupiah Kok Keok Lawan Dolar hingga Ringgit
Wakil Ketua Komisi XI DPR Dolfie Palit mempertanyakan efektivitas kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang terus tertekan. [580] url asal
#bank-indonesia #dpr #nilai-tukar #ringgit-malaysia #rupiah #stabilitas-ekonomi #intervensi-moneter #cadangan-devisa #pelemahan-mata-uang #ketidakpastian-ekonomi
(CNBC Indonesia - Market) 14/11/25 09:19
v/38280/
Jakarta, CNBC Indonesia - Wakil Ketua Komisi XI DPR Dolfie Othniel Frederic Palit mempertanyakan efektivitas kebijakan stabilitas nilai tukar rupiah yang dilakukan Bank Indonesia (BI), karena menganggap kurs rupiah saat ini tidak hanya tertekan terhadap dolar Amerika Serikat, bahkan sampai melawan ringgit Malaysia.
Dolfie mengatakan, selama dua dekade terakhir, pergerakan kurs rupiah terus tertekan terhadap mata uang lainnya, khususnya dolar. Bahkan, pada tahun ini sempat tembus level Rp 17.000/US$ jauh di atas asumsi rata-rata kurs dalam Anggaran Tahunan Bank Indonesia (BI) 2025 Rp 15.285/US$.
"Jadi stabil melemah ini arahnya, sementara indikator yang bapak gunakan dalam hal nilai tukar rupiah selalu menggunakan volatilitas, gejolak rupiah pada angka tertentu, gejolak terus, tapi gejolaknya makin lama makin melemah," ucap Dolfie saat rapat kerja dengan dewan gubernur BI, sebagaimana kembali dikutip pada Jumat (14/11/2025).
Ia pun menekankan, terhadap mata uang negara tetangga, seperti ringgit Malaysia, kurs rupiah juga terpantau kalah. Melansir data Refinitiv, pada perdagangan Selasa (11/11/2025) per pukul 09.40 WIB, rupiah terpantau mengalami pelemahan sebesar 0,37% ke level Rp 4.011/MYR. Level ini sekaligus mencatatkan titik terendah rupiah, setidaknya sejak 2007.
Tak cuma terhadap ringgit, nilai tukar mata uang Garuda juga tercatat tertekan terhadap mata uang negara tetangga lainnya, yakni baht Thailand. Pada Rabu (12/11/2025) pukul 09.55 WIB, rupiah terpantau telah melemah 10,16% terhadap baht secara tahun berjalan (year-to-date/ytd) dari Rp 466/THB menjadi Rp 523,57/THB.
"Kita bandingkan nilai tukar kita dengan misalnya dengan ringgit, mata uang Thailand, atau apa di antara negara-negara G20 seperti ini juga gak (melemah)? Kalau terhadap mata uang nilai rupiah kita seperti ini berarti ada sesuatu pak," kata Dolfie kepada Gubernur BI Perry Warjiyo.
Gubernur BI Perry Warjiyo pun menjawab pertanyaan itu dengan mengungkapkan makin tingginya ketidakpastian ekonomi di dunia saat ini. Tingginya ketidakpastian ekonomi pada tahun ini membuat proyeksi kurs sepanjang 2025 yang telah digariskan BI melenceng jauh dari kenyataannya.
Sebagaimana diketahui, pada 7 April 2025 kurs rupiah sempat diperdagangkan di level Rp 17.261 dan menjadi posisi terendah. Kondisi itu terjadi di tengah keputusan Presiden AS Donald Trump mengenakan tarif resiprokal perdagangan yang tinggi kepada mitra dagang utamanya.
"Pada waktu itu kita pandang rerata nilai tukar tahun 2025 itu cukup realistis pada reratanya Rp15.285," kata Perry saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR, Rabu (12/11/2025).
"Pada waktu itu tapi kita juga tidak tahu 2 April ada kebijakan tarif yang sangat tinggi. Sehingga kemudian rupiah bahkan di offshore sudah Rp 17.000. Sehingga kami harus melakukan intervensi yang dalam jumlah yang besar," tegasnya.
Tertekannya kurs rupiah pada 2025 ini kata Perry membuat Bank Indonesia harus menguras cadangan devisa untuk menjalankan kebijakan intervensi stabilisasi rupiah.
Cadangan devisa Indonesia dari yang posisi per Maret 2025 senilai US$ 157 miliar merosot hingga ke level US$ 149 miliar per akhir September 2025, meskipun pada Oktober 2025 kembali naik menjadi US$ 149,9 miliar.
"Sehingga kami harus melakukan intervensi dalam jumlah yang besar. Terutama di offshore non-delivery forward maupun domestic," papar Perry.
(arj/haa)
[Gambas:Video CNBC]
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56