Bisnis.com, JAKARTA — Mata uang ringgit Malaysia masih di dalam jalur untuk mengungguli atau outperform dari mata uang Asia lainnya pada 2026, memperpanjang apresiasi yang bergulir tahun ini.
Berdasarkan data Bloomberg, ringgit melesat lebih dari 9% di hadapan dolar AS di sepanjang tahun ini yang menjadikannya sebagai mata uang berkinerja terbaik di Asia. Ringgi dibuka relatif tidak berubah di level 4,0982 per dolar AS pada Senin (15/12/2025) setelah mencatatkan apresiasi selama dua sesi sebelumnya.
Analis melihat penopang apresiasi ringgit tahun ini berasal dari keterkaitan kuat Malaysia dengan rantai pasok teknologi global, prospek pertumbuhan yang positif, serta dorongan berkelanjutan pemerintah terhadap konsolidasi fiskal. Kebijakan bank sentral Malaysia yang diperkirakan tetap stabil tahun depan juga memberikan dukungan tambahan.
Analis di Bank of Singapore Ltd. dan MUFG Bank Ltd. memperkirakan ringgit akan diperdagangkan mendekati level 4,00 per dolar AS pada akhir 2026. Sementara itu, Goldman Sachs Group Inc. memproyeksikan penguatan mata uang tersebut hingga 3,95 per dolar AS, yang akan menjadi level tertinggi dalam tujuh tahun terakhir.
“Ringgit diperkirakan akan melanjutkan penguatannya tahun depan, didukung oleh ekspor teknologi yang kuat seiring lonjakan permintaan kecerdasan buatan serta meningkatnya arus investasi asing langsung, khususnya ke sektor pusat data,” ujar Moh Siong Sim, analis valuta asing di Bank of Singapore, dikutip Bloomberg pada Senin (15/12/2025).
Lebih lanjut, Malaysia telah menjadi pusat pembangunan pusat data di kawasan regional yang menciptakan peluang pertumbuhan baru bagi perekonomian. Data bank sentral Malaysia menunjukkan nilai ekspor jasa pusat data melonjak menjadi 10,7 miliar ringgit (US$2,6 miliar) dalam sembilan bulan pertama tahun ini, dari 1,2 miliar ringgit pada periode yang sama tahun 2024.
Goldman Sachs melihat Bank Negara Malaysia juga dinilai berkemungkinan kecil untuk melonggarkan kebijakan moneter, sehingga membantu mempersempit selisih imbal hasil bahkan ketika Federal Reserve mengisyaratkan satu kali pemangkasan suku bunga lagi pada 2026.
“Berdasarkan model valuasi valuta asing kami, ringgit dinilai sangat undervalued,” tulis analis Goldman Sachs, termasuk Danny Suwanapruti, dalam sebuah catatan.
Indikator teknikal juga menunjukkan sinyal yang positif. Pasangan dolar AS-ringgit telah menembus level dukungan di 4,0947 yang menjadi level terendah pada September 2024. Posisi ini membuka peluang pergerakan menuju level kunci 4,00.
Data perdagangan Malaysia yang dijadwalkan rilis pada 19 Desember 2025 turut berpotensi menjadi katalis tambahan jika kekuatan ekspor teknologi Malaysia ternyata berlanjut.
“Apresiasi ringgit tahun ini didukung oleh kombinasi ketahanan ekonomi domestik dan meredanya tekanan eksternal,” kata Lloyd Chan, analis valuta asing di MUFG Bank.
Chan menambahkan bahwa faktor-faktor pendukung penguatan ringgit tahun in iakan berlanjut hingga 2026, sehingga pihaknya tetap optimistis terhadap prospek ringgit.