Bisnis.com, JAKARTA — Emiten pengelola jejaring restoran cepat saji KFC, PT Fast Food Indonesia Tbk. (FAST) mulai bergeliat ekspansi pada tahun depan. FAST menargetkan untuk mengoperasikan 1.000 gerai pada 2030.
Direktur Fast Food Indonesia Wachjudi Martono mengatakan saat ini FAST telah mengoperasikan 687 gerai KFC. Selain itu, ada 8 gerai Taco Bell yang saat ini beroperasi.
Wachjudi mengatakan perseroan menargetkan penambahan sekitar 300-an gerai sampai 2030 dengan rata-rata penambahan 60 gerai tiap tahunnya.
"Aspirasi kami operasikan 1.000 gerai pada 2030," kata Wachjudi dalam public expose pada Jumat (28/11/2025).
Pada 2026, FAST menargetkan pembukaan 60 gerai baru, didominasi oleh gerai KFC. Rata-rata tiap penambahan satu gerai, FAST membutuhkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp5 miliar. Alhasil, pada tahun depan, untuk ekspansi FAST membutuhkan capex sekitar Rp300 miliar.
Dana capex tersebut menurutnya akan berasal dari internal sebesar 30%. Kemudian, 70% lainnya bersumber dari kerja sama usaha atau revenue sharing.
Wachjudi mengatakan geliat ekspansi itu dinilai akan mendongkrak pendapatan serta laba. Pada tahun ini, FAST memproyeksikan dapat meraup pendapatan sebesar Rp4,8 triliun, kemudian mampu tumbuh ke Rp5,42 triliun pada 2025.
FAST juga memproyeksikan masih mencatatkan rugi Rp329 miliar pada 2025. FAST menargetkan mampu meraup laba pada 2026 seiring ekspansi.
"Di dalam forecast kami, kami akan bukukan laba di tahun 2026," kata Wachjudi.
Berdasarkan laporan keuangannya, FAST masih membukukan rugi bersih sebesar Rp239,58 miliar per kuartal III/2025, meskipun ruginya susut 56,99% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan rugi bersih periode yang sama tahun sebelumnya Rp557,08 miliar.
FAST sebenarnya mencatatkan penurunan pendapatan 0,76% YoY menjadi Rp3,56 triliun per kuartal III/2025, dibandingkan dengan Rp3,59 triliun per kuartal III/2024. Namun, FAST juga mencatatkan penyusutan beban pokok pendapatan 4,99% YoY menjadi Rp1,43 triliun.
Selain itu, FAST juga mencatatkan penyusutan pada sejumlah beban. Tercatat, beban penjualan dan distribusi menyusut dari Rp2,09 triliun menjadi Rp1,91 triliun.
Kemudian, beban umum dan administrasi menyusut dari Rp572,03 miliar menjadi Rp523,51 miliar. Lalu, beban operasi lain menyusut dari Rp36,95 miliar menjadi Rp31,97 miliar.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.