Bisnis.com, JAKARTA — Di tengah dunia yang serba digital, perusahaan multifinance turut menghadapi tantangan yang tak kalah besar, yakni potensi adanya serangan siber.
Teranyar, PT Clipan Finance Indonesia Tbk. (CFIN) melaporkan adanya insiden serangan siber terhadap sistem perseroan pada pekan lalu, Rabu (26/11/2025).
Menanggapi hal tersebut, Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) menyebut semua industri memiliki potensi terkena serangan siber sekalipun sistem IT dirasa sudah aman.
“Saya ingin mengingatkan kepada seluruh perusahaan tolong dijaga keamanan sistemnya secara infrastruktur. Kalaupun sudah aman, potensinya pun tetap masih ada dan kita enggak bisa mengelak dari situasi yang ada,” kata Ketua Umum APPI Suwandi Wiratno kepada Bisnis, dikutip pada Selasa (2/12/2025).
Kendati demikian, lanjutnya, bila memang sudah terkena serangan siber maka hal selanjutnya yang bisa dilakukan adalah mencari cara untuk melakukan pemulihan sistem dengan segera.
“Itu yang sedang dilakukan Clipan, yang saya dengar juga. Itu yang saya dengar juga kan secara verbal doang, enggak ada kewajiban [lapor] ke saya,” tegasnya.
Direktur Utama Chandra Sakti Utama Leasing (CSUL) ini mengatakan dirinya mengetahui hal tersebut seusai Clipan sebagai perusahaan terbuka melaporkan insiden ini ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Lebih lanjut, kala ditanyai perihal efek terhadap keamanan data nasabah di perusahaan bila terkena serangan siber, Suwandi menjawab bahwa pasti akan ada proses pemulihan atau recovery.
“Ya pasti akan ada yang namanya proses recovery. Pasti semuanya harus dijalankan dan dilaporkan bagaimana-bagaimana nya ya tentu pasti akan ada jalan prosesnya. Toh, akhirnya kan bisa terselesaikan gitu,” ucap Suwandi.
Namun yang pasti, dirinya yakin bahwa semua perusahaan pembiayaan pasti sudah berusaha untuk menjaga dengan sangat hati-hati terkait sistem perseroan, dengan berbagai investasi teknologi untuk menangkal serangan siber tersebut.
“Siapa sih yang mau kena serangan gitu. Ya, pasti penting investasi teknologi itu ya memang menjadi bagian yang tidak bisa dipungkiri lagi dan itu terus akan berjalan untuk ke depannya,” pungkasnya.
Untuk diketahui, merujuk keterbukaan informasi, Clipan Finance menjelaskan bahwa sebagai langkah antisipatif, dilakukan temporary switch off terhadap beberapa sistem utama. Kebijakan tersebut sempat mengakibatkan gangguan layanan kepada debitur serta hambatan pada sejumlah aktivitas operasional.
"Kami informasikan pada 26 November 2025 perseroan telah mengalami serangan siber," tulis pemberitahuan yang diteken oleh Direktur dan Sekretaris Perusahaan Jahja Anwar, Kamis (27/11/2025).
Clipan Finance menyebut tim Tanggap Insiden Siber (TTIS) Clipan Finance telah berkoordinasi dengan otoritas terkait untuk mengidentifikasi area teknis yang membutuhkan penyesuaian. Saat ini, proses stabilisasi sistem tengah berjalan, dengan langkah pemulihan yang dilakukan secara real time guna meminimalkan potensi gangguan terhadap layanan utama.
Adapun, Bisnis telah mencoba mengonfirmasi kepada Clipan mengenai keadaan sistem perseroan saat ini, tetapi hingga berita ini terbit belum ada jawaban dari perseroan.