Bisnis.com, JAKARTA - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Jakarta untuk mengatasi keluhan masyarakat yang terdampak uji coba operasional proyek Refuse Derived Fuel (RDF) Plant Rorotan.
Sebanyak 20 anak yang berdomisili RT 18 Cakung Timur dilaporkan mengalami sakit yang diduga terdampak uji coba operasional RDF Plant Rorotan yang menghasilkan pencemaran udara di sekitar kawasan tersebut. Penyakit yang dialami warga mulai dari sakit mata, batuk, pilek, muntah, Bronchopneumonia, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
“Hari Senin [3/11] sore sudah berkoordinasi dengan Kadis Kesehatan. Dari Selasa [4/11], tim kesehatan dari Puskesmas Rotan ataupun dari Cakung sudah memberikan pelayanan kesehatan kepada warga. Itu yang saya terima dari laporan dari Bu Kadis Kesehatan,” ujar Kepala DLH DKI Jakarta Asep Kuswanto di Balai Kota Jakarta, Rabu (5/11/2025), dikutip dari Antara.
Menurut Asep, Puskesmas Cakung melayani 11 pasien yang terdampak RDF Rorotan. Beberapa orang dari 20 anak yang terdampak diketahui sudah sembuh.
Asep mengaku tak bisa memastikan apakah penyakit tersebut hanya disebabkan karena pencemaran udara yang ditimbulkan RDF Rorotan.
“Mungkin sama-sama kita ketahui bahwa memang kondisi saat ini kan kondisi pancaroba. Jadi memastikan bahwa memang itu akibat dari dampak RDF Rorotan, ya kita juga nggak bisa memastikan itu,” kata Asep.
Kendati demikian, Asep mengatakan, pihaknya tetap menangani keluhan yang dilaporkan oleh masyarakat setempat. Selain memeriksa sumber bau dari air lindi yang menetes, pihak DLH DKI juga memeriksa sumber kebauan lainnya di RDF Rorotan.
Hal itu dilakukan agar ke depannya pengoperasian RDF Rorotan tak lagi mendapatkan protes dari masyarakat.
“Kok masyarakat sedemikian masifnya, padahal ada beberapa masyarakat yang sudah ke RDF Rorotan. Itu tidak ada hal-hal yang menimbulkan keresahan pada saat masyarakat ke sana,” jelas Asep.
Diberitakan Antara sebelumnya, warga Cakung Timur mengeluhkan bau busuk dari pengoperasian RDF Plant Rorotan.
“Jarak perumahan saya sekitar 800 meter dari lokasi dan merasakan dampak. Di perumahan lain juga ikut merasakan hal yang sama,” kata Ketua RT 18 Cakung Timur Andre Maryono.
Dia mengajak Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung untuk datang dan hadir langsung di perumahan ini agar dapat merasakan langsung dampak lokasi pengolahan sampah berkapasitas 2.500 ton tersebut.
“Jangan hanya datang ke RDF saja, tapi datang ke sini dan kalau perlu lakukan sidak,” kata dia.
Dia mengatakan, pihaknya masih menunggu jawaban dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terkait kelanjutan persoalan ini.
Pihaknya juga telah bersurat dan memohon audiensi langsung dengan gubernur untuk menyampaikan hal yang sebenarnya. "Kami khawatir gubernur hanya mendapat laporan yang baik-baik saja selama ini, padahal kondisi sudah memburuk,” kata dia.
Dia meminta agar RDF ini ditutup karena walaupun sudah melakukan serangkaian uji coba tapi hasilnya membawa dampak buruk bagi warga.
“Apa yang dirasakan hari ini sama dengan sewaktu uji coba di awal tahun lalu dan beberapa bulan setelah itu,” kata dia.
Menurut dia, pengelola RDF menjanjikan akan mengikuti standar operasional prosedur (SOP) dan juga melakukan perbaikan (improve) seperti peninggian cerobong asap, perbaikan alat pengangkutan dan lainnya.
“Tapi faktanya mereka melanggar SOP yang mereka buat,” kata dia.
Ia mengatakan, warga tersebut sebagian besar menjalani pengobatan mandiri dan ada juga yang berobat ke rumah sakit.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo telah memerintahkan agar commisioning RDF Plant Rorotan dihentikan sementara hingga memiliki kendaraan pengangkut sampah yang baik.
Dia sudah meminta kepada Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jakarta untuk sementara komisioningnya dihentikan terlebih dahulu.
"Dipersiapkan sampai adanya truk yang 'compact' yang bisa membawa sampah ke Rorotan. Karena persoalannya di sana,” kata Pramono di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Selasa.
Pemprov DKI Jakarta sebenarnya sedang mendalami persoalan yang timbul di RDF Rorotan. Pramono mengklaim masyarakat tidak memprotes terkait hasil komisioning yang dilakukan beberapa hari ini.
Menurut Pramono, yang menjadi masalah adalah ketika sampahnya dilakukan mobilisasi atau pengangkutan, truknya tidak compact sehingga air lindinya tumpah. "Dan inilah yang menyebabkan bau," katanya.