Bisnis.com, JAKARTA – Tren fast fashion yang kian agresif tak lagi sekadar soal selera dan siklus mode yang cepat berganti. Industri ini kini berada di bawah sorotan dunia karena kontribusinya terhadap krisis lingkungan global.
Menghadapi persoalan ini, Perserikatan Bangsa-Bangsa sudah menyerukan tindakan segera untuk menekan dampak industri tekstil terhadap bumi. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres bahkan pernah melontarkan pernyataan keras perihal dampak konsumsi tekstil yang bisa menjadi pembunuh bagi bumi.
Menurut PBB, industri mode menyumbang sekitar 8% emisi gas rumah kaca global dan mengonsumsi sekitar 215 triliun liter air per tahun atau setara 86 juta kolam renang Olimpiade.
Setiap detik, jumlah pakaian digambarkan setara satu truk sampah dibakar atau dikirim ke tempat pembuangan akhir. Di tengah model bisnis yang mengutamakan kecepatan dan sekali pakai, limbah tekstil tumbuh tak terkendali.
Namun di balik krisis tersebut, peluang transformasi juga terbuka. Menggandakan masa pakai pakaian diperkirakan dapat memangkas emisi hingga 44%. Desainer mulai bereksperimen dengan bahan daur ulang, konsumen semakin sadar keberlanjutan, dan pasar resale tumbuh pesat di berbagai negara.
Di tengah tekanan global itu, emiten tekstil dan garmen nasional, PT Pan Brothers Tbk (PBRX), menangkap peluang baru, membangun lini bisnis tekstil daur ulang berbasis kemitraan internasional.
Dari Shredded Clothing ke Recycled Fiber
Di sela rangkaian kunjungan Presiden RI Prabowo Subianto ke Amerika Serikat, Pan Brothers menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Ravel Holdings Inc pada Rabu (18/2/2026) waktu setempat.
Vice President Director Pan Brothers Anne Patricia Susanto menjelaskan kerja sama tersebut mencakup pemanfaatan worn clothing yang telah melalui proses shredding di negara asal untuk kemudian dikelola dan didaur ulang menjadi serat (recycled fiber) di Indonesia.
“Kerja sama ini bukan dalam bentuk impor pakaian bekas utuh untuk diperjualbelikan di pasar domestik,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (19/2/2026).
Anne mengungkapkan, permintaan awal dari pihak AS agar Indonesia menampung pakaian bekas tidak dapat dipenuhi. Sebagai jalan tengah, proses penghancuran dilakukan di AS, sehingga material yang masuk ke Indonesia berbentuk tekstil cacah sebagai bahan baku industri.
Material tersebut nantinya dimanfaatkan dalam kerangka investasi dan penguatan teknologi ekonomi sirkular di dalam negeri.
Siapa Ravel?
Berdasarkan profil korporasinya, Ravel Holdings Inc. merupakan perusahaan holding yang melalui anak usahanya menyediakan mesin dan teknologi daur ulang limbah tekstil.
Perusahaan yang berbasis di Negara Bagian Washington itu mengembangkan teknologi pemurnian daur ulang (purification recycling technology) untuk mengolah tekstil berbahan campuran.
Teknologi tersebut diklaim mampu memisahkan kontaminan dan zat pewarna, serta mengubah material tekstil campuran kembali menjadi bahan baku mono-material.
Prosesnya disebut hemat energi dan berbasis sistem tertutup (closed-loop process), yang dirancang untuk meminimalkan limbah dan memungkinkan integrasi kembali ke rantai pasok global.
Dengan teknologi ini, limbah tekstil tidak lagi diposisikan sebagai beban lingkungan, melainkan sebagai sumber daya bernilai tambah.
Nilai Tambah dan Daya Saing
Anne, yang juga menjabat Ketua Umum Asosiasi Garment dan Textile Indonesia (AGTI), menegaskan bahwa kerja sama ini merupakan bagian dari strategi yang lebih luas untuk memperkuat industri tekstil dan garmen nasional.
“Secara struktur industri dan dampak makro, penguatan pasokan kapas tetap menjadi fokus utama karena berdampak langsung terhadap daya saing industri garmen dan tekstil nasional secara keseluruhan,” katanya.
Meski demikian, pengembangan recycled fiber dinilai dapat menjadi pelengkap strategis. Selama ini, industri tekstil Indonesia masih bergantung pada bahan baku impor, baik kapas maupun serat sintetis.
Di pasar ekspor utama seperti Eropa dan Amerika Utara, standar keberlanjutan dan transparansi rantai pasok semakin ketat. Produk dengan kandungan recycled content menjadi nilai jual tersendiri.
MoU dengan Ravel menjadi satu dari total 11 kesepakatan yang diteken dalam Indonesia–US Business Summit, dengan nilai total mencapai US$38,4 miliar atau sekitar Rp650,07 triliun.
Anne menilai kerja sama tersebut sebagai fondasi untuk memperkuat integrasi rantai pasok garmen dan tekstil nasional.
“Kami melihat kerja sama ini sebagai fondasi untuk memperkuat integrasi rantai pasok garmen dan tekstil, meningkatkan nilai tambah ekspor, serta mendorong daya saing global industri nasional,” ujarnya.
Di tengah sorotan dunia terhadap dampak fast fashion, langkah Pan Brothers menunjukkan bahwa transformasi menuju fesyen berkelanjutan bukan lagi sekadar wacana reputasi, melainkan strategi bisnis jangka panjang.
Pasar Uni Eropa
Jika dikelola dengan regulasi dan pengawasan yang tepat, lini tekstil daur ulang ini berpotensi menggeser peran Indonesia dari sekadar basis manufaktur konvensional menjadi pemain penting dalam ekonomi sirkular global.
Upaya mendorong ekonomi sirkular di bidang tekstil ini juga menyasar pasar Uni Eropa. Pasalnya, dorongan menuju fesyen berkelanjutan juga semakin menguat di kawasan Eropa.
Dalam beberapa tahun terakhir, melalui berbagai kebijakan yang digodok oleh European Parliament, Uni Eropa menempatkan sektor tekstil sebagai salah satu prioritas dalam peta jalan ekonomi sirkular menuju 2050.
Merujuk EU Strategy for Sustainable and Circular Textiles yang dikutip dari laman European Parliament, Uni Eropa menargetkan agar pada 2030 seluruh produk tekstil yang beredar di pasar Eropa harus lebih tahan lama, dapat diperbaiki, dan dapat didaur ulang.
Kebijakan ini juga mendorong penggunaan serat daur ulang dalam komposisi produk, memperketat praktik greenwashing, serta memperluas skema extended producer responsibility (EPR) yang mewajibkan produsen bertanggung jawab atas siklus hidup produknya hingga tahap limbah.
Selain itu, Uni Eropa mulai menerapkan kewajiban pemilahan limbah tekstil secara terpisah dan melarang penghancuran barang tekstil tak terjual oleh perusahaan besar. Langkah-langkah tersebut menjadi bagian dari target jangka panjang netralitas karbon dan efisiensi sumber daya pada 2050.