Bisnis.com, JAKARTA — Minat masyarakat membeli smartphone, khususnya di segmen flagship, disinyalir meningkat pada Ramadan dan Idulfitri tahun ini.
Momentum tunjangan hari raya (THR), peluncuran produk baru, hingga promosi agresif dari vendor dinilai menjadi pendorong utama lonjakan permintaan.
Berdasarkan paparan data Mandiri Spending Index (MSI) Februari 2026, proporsi belanja handphone tercatat mencapai 13,3%. Angka tersebut melonjak signifikan dibandingkan periode yang sama pada 2024 yang hanya sekitar 3,3% dan 2025 di kisaran 4,1%.
Pengamat dan Analis Pasar Smartphone Indonesia Aryo Meidianto Aji mengatakan peningkatan minat terhadap smartphone selama Ramadan sebenarnya merupakan fenomena yang berulang setiap tahun. Namun, pola musim belanja kali ini mengalami pergeseran.
Sebelumnya, lonjakan pembelian smartphone biasanya terjadi pada kuartal kedua atau April–Juni. Kini, pergeseran kalender Hijriah sekitar 10–12 hari lebih awal setiap tahun membuat Ramadan dan Lebaran kini sepenuhnya berada di kuartal pertama.
“Kuartal pertama menjadi peak season penjualan smartphone yang baru, termasuk perangkat flagship. Hal ini juga didukung dengan kehadiran beberapa perangkat flagship yang muncul pada kuartal I,” ujar Aryo kepada Bisnis, dikutip Rabu (11/3/2026).
Dia menjelaskan, tambahan likuiditas dari THR menjadi salah satu katalis utama yang mendorong konsumen membeli smartphone baru, terutama di segmen premium. Dana tersebut kerap digunakan masyarakat untuk membeli perangkat yang sebelumnya sudah diincar.
Selain faktor finansial, terdapat pula faktor psikologis yang memengaruhi keputusan pembelian. Aryo menilai smartphone flagship masih dipandang sebagai simbol pencapaian, terutama ketika masyarakat pulang kampung dan bertemu kerabat saat Lebaran.
“Smartphone bisa diibaratkan kartu nama saat pulang kampung. Memegang flagship terbaru akan memberikan kepercayaan diri saat bertemu keluarga,” katanya.
Fenomena lain yang ikut mendorong permintaan smartphone premium adalah meningkatnya aktivitas pembuatan konten selama periode Lebaran. Banyak masyarakat mendokumentasikan momen keluarga, makanan khas, hingga perjalanan mudik untuk dibagikan di media sosial.
Menurut Aryo, perangkat non-flagship sering kali dianggap belum mampu memberikan kualitas visual yang sama untuk menghasilkan konten yang lebih estetik.
Di sisi lain, konsumen smartphone flagship di Indonesia kini juga semakin selektif sebelum memutuskan pembelian. Mereka cenderung melakukan riset lebih mendalam terkait fitur yang ditawarkan.
Kemampuan kamera, daya tahan baterai, serta dukungan fitur kecerdasan buatan (AI) menjadi faktor yang paling banyak dipertimbangkan. Jika sebelumnya konsumen hanya berfokus pada jumlah megapiksel, kini mereka juga memperhatikan fitur pemrosesan gambar otomatis, seperti penghapusan objek atau bayangan pada latar belakang foto.
Aryo juga melihat munculnya tren baru berupa minat terhadap perangkat compact flagship, yakni ponsel premium dengan ukuran lebih ringkas namun tetap memiliki performa tinggi.
“Tidak semua orang ingin perangkat berukuran besar. Banyak yang mulai mencari smartphone flagship dengan ukuran lebih compact tetapi tetap bertenaga,” ujarnya.
Dari sisi promosi, program tukar tambah atau trade-in menjadi salah satu strategi yang paling efektif menarik minat konsumen. Skema ini memungkinkan pengguna menukar perangkat lama dan menambahkan dana dari THR untuk mendapatkan model terbaru.
Selain itu, bundling paket data dari operator telekomunikasi juga semakin diminati, terutama karena kebutuhan komunikasi dan hiburan digital meningkat selama periode mudik dan libur Lebaran.
Aryo menilai Ramadan hingga Lebaran merupakan momentum krusial bagi industri smartphone. Ia mengibaratkan periode tersebut sebagai “pertandingan final” bagi para vendor untuk merebut perhatian konsumen.
Vendor biasanya menyiapkan berbagai strategi mulai dari memastikan ketersediaan stok, meluncurkan produk baru, hingga menawarkan promo agresif untuk menangkap lonjakan permintaan. Persaingan pada 2026 pun diperkirakan semakin ketat, meskipun tidak lagi semata-mata mengandalkan perang harga.