Bisnis.com, SOLOK SELATAN - Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) mendorong pemerintah daerah di Provinsi Sumatra Barat untuk mengoptimalkan eksplorasi potensi energi baru terbarukan (EBT).
Direktur Panas Bumi, Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (Ditjen EBTKE), Kementerian ESDM Gigih Udi Atmo mengatakan hal itu sembari mengapresiasi manfaat pengembangan pembangkit tenaga listrik panas bumi (PLTP) oleh PT Supreme Energy Muara Laboh (SEML).
"Jadi kalau potensi energi yang ada di Sumbar ini bisa dimanfaatkan secara optimal, maka akan memberikan dampak ekonomi bagi daerah, dan bahkan kepada masyarakat juga," katanya dalam keterangan resmi, Jumat (17/10/2025).
Dia menjelaskan melihat sejak 2019, proyek panas bumi 86 MW (MegaWatt) hingga akhir 2024, tercatat PNPB lebih dari Rp200 miliar yang ditransfer ke daerah dalam bentuk DBH (dana bagi hasil), ada juga bonus produksi sebesar Rp56 miliar untuk daerah sekitar.
"Hal itu terlihat ada manfaat langsung yang diterima daerah. Bagaimana pengembangan energi transisi ini memberikan manfaat langsung ke daerah,” ujar Gigih.
Dikatakannya Provinsi Sumbar memiliki potensi geothermal yang sangat besar, proyek di Muara Laboh adalah salah satunya yang berhasil. Kemudian, Solok Selatan juga memiliki potensi baru panas bumi. Dari penciutan wilayah kerja panas bumi dari seluas 56.000 hektar menjadi 2.000 hektar, ada potensi baru di Balun.
“Hal ini telah dilakukan survey oleh Supreme Energy dikembalikan kepada pemerintah, jadi bisa segera kami kembangkan dan setelah kembali ke Jakarta, melalui Dirjen kami laporkan kepada Menteri ESDM,” ucapnya.
Menurut data yang disampaikan, potensi panas bumi di Balun ini diperkirakan sebesar 40 MW. Potensi lainnya juga ada di daerah lainnya di Sumatera Barat seperti di Pasaman, Pasaman Timur, Bonjol, Solok, dan lainnya.
Kemudian, Anggota Komisi V DPR RI, Zigo Rolanda menyampaikan melihat pada investasi PT. SEML untuk Unit 2 sebesar Rp7 triliun di Solok Selatan tentunya memberi peluang bagi daerah untuk mendapatkan tambahan potensi PAD. Apalagi pemerintah pusat telah melakukan perubahan skema penganggaran. Pemerintah daerah didorong untuk kemandirian fiskal, termasuk dalam PAD
“Ketahanan energi salah satu program nasional pemerintah, mudah-mudahan adanya investasi ini, beredarnya uang di Solok Selatan bisa memberikan dampak positif untuk masyarakat Sumatera Barat, Solsel khususnya,” kata Zigo.
Dalam kesempatan itu, Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah juga menilai keberadaan investasi panas bumi di Solok Selatan memberikan dampak ekonomi yang luar biasa. Mulai dari pemberian beasiswa, penyerapan tenaga kerja hingga Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan untuk daerah.
Buya, sapaan akrab Gubernur Sumbar itu menyebut bahwa proyek panas bumi adalah salah satu penyumbang energi hijau atau green energy, selain PLTA, PLTS dan lainnya.
“Energi hijau ini telah menjadi prioritas nasional, maka potensi yang luar biasa tersebut perlu investasi dari investor,” ujarnya dalam kesempatan yang sama.
Di Sumbar sendiri, pemanfaatan energi terbarukan panas bumi baru sebesar 5% dan energi dari air sebesar 30%.
Dalam kesempatan yang sama, Bupati Solok Selatan Khairunas memberikan apresiasi kepada PT Supreme Energy atas proyek panas bumi Unit 2 ini, dan manfaat besar kehadiran PT SEML, tidak hanya dirasakan secara nasional, bagi daerah perusahaan memberikan dampak positif yang signifikan dari sisi pendapatan daerah.
“Dana bonus produksi dan dana bagi hasil mencapai Rp30 miliar setiap tahunnya untuk Solok Selatan, selain itu juga memberikan peluang tenaga kerja, 85% adalah tenaga kerja putra putri terbaik Solok Selatan,” ungkapnya.
Kemudian, kehadiran PT SEML melalui berbagai program CSR telah berperan aktif dalam mendukung Pembangunan daerah bidang di antaranya bidang pendidikan, infrastruktur, kesehatan dan pemberdayaan ekonomi.