Bisnis.com, JAKARTA — Kinerja emiten operator jalan tol BUMN, PT Jasa Marga (Persero) Tbk. (JSMR) diproyeksikan meraih suntikan tenaga di kuartal akhir 2025 berkat peningkatan mobilitas masyarakat jelang libur akhir tahun.
Berdasarkan Laporan Keuangan Januari–September 2025, JSMR meraih pendapatan usaha Rp14,52 triliun, naik 4,83% year on year (YoY). Pencapaian ini didukung pendapatan tol sebesar Rp13,42 triliun dan pendapatan usaha lain Rp1,11 triliun.
Analis Infovesta Kapital Advisori Ekky Topan mengatakan bahwa untuk kuartal IV/2025, prospek JSMR relatif positif seiring musim libur akhir tahun yang berpotensi mendorong kenaikan volume lalu lintas di berbagai ruas tol utama.
“Ditambah, adanya potensi realisasi penyesuaian tarif di beberapa ruas baru juga bisa memperbaiki margin. Namun, tekanan biaya keuangan dan proyek ekspansi yang masih tinggi menjadi tantangan,” ujarnya kepada Bisnis, baru-baru ini.
Dia menyatakan bahwa saham JSMR juga menarik karena secara valuasi sudah terkoreksi cukup dalam sepanjang tahun berjalan (year to date/YtD). Adapun fundamental bisnis tol perseroan dinilai tetap defensif.
Ruang pemulihan JSMR juga disebut masih terbuka apabila trafik jalan tol pada kuartal akhir tahun ini tumbuh sesuai dengan ekspektasi. Saham JSMR direkomendasikan buy on weakness di level Rp3.450 – Rp3.500, dengan target harga jangka menengah di kisaran Rp4.200 hingga Rp4.400 per saham.
Sementara itu, Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata menilai prospek JSMR jelang kuartal IV/2025 cukup positif karena didukung momentum libur akhir tahun dan stimulus perjalanan dari pemerintah. Seluruh faktor tersebut diyakini bakal meningkatkan mobilitas masyarakat.
Namun, dampak itu diperkirakan tidak signifikan karena kemampuan belanja masyarakat masih terbatas dan pendapatan riil yang belum penuh sepenuhnya. Artinya, kenaikan trafik tol hanya bersifat musiman daripada struktural.
“Secara keseluruhan, JSMR berpeluang mencatat pemulihan moderat di akhir 2025, terutama didorong oleh lonjakan trafik musiman, efisiensi biaya, serta potensi monetisasi aset tol baru,” pungkas Liza kepada Bisnis.
Dia menambahkan bahwa saham JSMR menarik untuk diakumulasi jangka menengah lantaran valuasi saham sudah relatif murah. Kendati demikian, beban bunga yang tinggi tetap menjadi tantangan dalam jangka pendek.
Di sisi lain, JSMR mencatat laba yang dapat diatribusikan ke entitas induk sebesar Rp2,72 triliun atau turun 17,33% dari Rp3,3 triliun pada kuartal III/2024. Laba per saham juga terkoreksi ke level Rp375,95 dari Rp454,74.
Adapun emiten pelat merah ini meraih laba inti sebesar Rp2,74 triliun sepanjang Januari-September 2025 atau naik 5,02% dari periode sama tahun lalu.
Harapan Laba Inti
Liza memandang penurunan laba bersih Jasa Marga sebesar 17% pada kuartal III/2025 terutama disebabkan kenaikan beban keuangan dan rugi selisih kurs. Sementara itu, laba inti yang naik 5% mencerminkan operasional tol yang masih solid dengan volume lalu lintas stabil dan efisiensi biaya yang mulai terlihat.
Adapun Ekky juga berpandangan serupa. Menurutnya, penurunan laba bersih perseroan yang mencapai 17% YoY disebabkan oleh faktor non-operasional, seperti kenaikan beban bunga dan rugi selisih kurs. Di sisi lain, kenaikan laba inti yang tumbuh 5% justru menunjukkan kinerja operasional yang masih solid.
“Jadi, dalam konteks tersebut, laba inti lebih mencerminkan kinerja fundamental JSMR karena menggambarkan efisiensi bisnis tol dan stabilitas pendapatan inti dari ruas-ruas utama,” pungkas Ekky.
Direktur Utama Jasa Marga Rivan A. Purwantono menyampaikan bahwa peningkatan laba inti perseroan mencerminkan kekuatan fundamental perseroan dalam menjaga performa bisnis secara berkelanjutan.
“Capaian tersebut mencerminkan kekuatan fundamental perseroan dalam menjaga performa bisnis secara konsisten,” ucap Rivan.
Perseroan juga menyoroti EBITDA yang meningkat 4,93% menjadi Rp9,73 triliun, dengan margin EBITDA stabil di level 67,01%.
Kinerja tersebut turut mempengaruhi penurunan biaya keuangan secara konsolidasi sebesar 14,21% YoY setelah aksi korporasi equity financing di PT Jasamarga Transjawa Tol (JTT) pada kuartal IV/2024.
Hingga akhir kuartal III/2025, JSMR tetap menjadi pemimpin pasar di industri dengan panjang jalan tol beroperasi mencapai 1.294 km atau sekitar 42% dari total ruas beroperasi nasional. Total konsesi yang dikelola mencapai 1.736 km.
Pada Juli 2025, perseroan juga telah menuntaskan adendum perjanjian pemegang saham dengan PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI) di PT Jasamarga Jogja Solo (JMJ). Aksi itu memungkinkan JMJ dikonsolidasikan ke laporan keuangan Jasa Marga tanpa perubahan struktur kepemilikan.
Di sisi lain, Jasa Marga saat ini masih berfokus pada lima proyek jalan tol yang tengah berjalan, yakni Jalan Tol Jakarta-Cikampek II Selatan, Jalan Tol Akses Patimban, Jalan Tol Yogyakarta-Bawen, Jalan Tol Solo-Yogyakarta-NYIA Kulonprogo, dan Jalan Tol Probolinggo-Banyuwangi.
Pada Agustus 2025, Jasa Marga telah mengoperasikan Jalan Tol Solo-Yogyakarta-NYIA Kulonprogo segmen Klaten-Prambanan sepanjang 7,85 km
“Di tengah semakin banyaknya proyek jalan tol baru yang telah selesai serta mulai beroperasi, Jasa Marga tetap mampu menjaga keseimbangan antara kapasitas keuangan dan kesehatan finansial perseroan yang tercermin dari stabilitas rasio keuangan yang baik pada kuartal III/2025,” ucap Rivan.
Analis CGS International Sekuritas Indonesia Bob Setiadi menuturkan bahwa ke depan, JSMR akan fokus pada dua prioritas utama yakni meningkatkan kualitas jalan tol dan rest area sesuai mandat Danantara Indonesia.
Perseroan, lanjut Bob, juga menargetkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp10 triliun hingga Rp11 triliun hingga akhir tahun ini.
“JSMR terbuka terhadap peluang investasi proyek brownfield, namun tidak berencana melakukan aksi korporasi jangka pendek, termasuk akuisisi jalan tol milik kontraktor BUMN,” pungkas Bob melalui riset pada September 2025.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.