Bisnis.com, JAKARTA – Sejak beberapa tahun belakangan, PT Agung Podomoro Land Tbk. (APLN) secara bertahap melepas aset-asetnya di Tanah Air. Sedikitnya terdapat empat aset yang telah dilepas oleh APLN sejak 2023.
Aksi-aksi pelepasan aset tersebut, dinilai sejalan dengan rencana Agung Podomoro untuk meningkatkan nilai terhadap aset yang mereka bangun dan menadah berkah hasil investasi tersebut. Dus, penjualan aset-aset ternama APLN lebih dipandang sebagai aksi perseroan untuk menangkap peluang baru di industri properti.
Pada 2023, misalnya, APLN melalui anak usahanya PT Tiara Metropolitan Indah, menjual aset Mal Neo Soho kepada PT NSM Assets Indonesia. Harga yang saat itu disepakati kedua belah pihak, termasuk PPN senilai Rp1,44 triliun.
Saat itu, Corporate Secretary Agung Podomoro Justini Omas menegaskan bahwa transaksi penjualan itu sebagai bagian dari strategi jangka panjang perseroan untuk memperkuat bisnis.
Pasalnya, dana hasil divestasi itu digunakan Tiara Metropolitan Indah untuk melakukan penyertaan saham baru seri B ke NSM Assets Indonesia (NSMAI) yang akan mewakili 28,58% dari seluruh modal diterbitkan dan disetor penuh dalam perusahaan.
Dengan penyertaan modal tersebut, NSMAI akan dimiliki oleh NSM Asset Japan LLC dan Tiara Metropolitan Indah dengan kepemilikan saham masing-masing 71,42% dan 28,58%.
NSM Asset Japan LLC merupakan perusahaan yang dimiliki langsung oleh Hankyu Hanshin Properties Corporation (HHP) Jepang. Hankyu sebelumnya juga telah membangun kemitraan strategis dengan APLN melalui transaksi penjualan Central Park Mall pada tahun 2022.
Selain itu, dana hasil penjualan aset juga digunakan untuk melunasi sebagian pinjaman APLN kepada Bank Danamon. Alokasi pelunasan utang itu mencapai Rp850 miliar.
Pada medio November 2024, aksi serupa dilakukan APLN terhadap dua aset milik anak usahanya PT Putra Adhi Prima kepada PT Bangun Loka Indah. Aset yang dijual berupa tanah dan bangunan yang berkaitan dengan Hotel Pullman Ciawi Vimala Hills Resorts Spa & Convention serta bidang tanah lainnya.
Manajemen saat itu menegaskan bahwa transaksi divestasi itu akan menambah posisi kas APLN untuk mendukung operasional dan pengembangan usaha perseroan, serta membantu untuk mengurangi beban utang perseroan.
Setahun berselang, aksi penjualan aset dilakukan APLN dengan menjual 100% saham di PT Karya Pratama Propertindo kepada PT Puri Dibya Property dan PT Hartons Property Development.
Merujuk laporan keuangan perseroan per 30 September 2025, PT Karya Pratama Propertindo merupakan pemilik dan pengelola hotel Sofitel Bali Ubud Resort and Spa. Jumlah aset PT Karya Pratama Propertindo sebelum eliminasi mencapai Rp301,93 miliar pada periode tersebut.
“Transaksi memiliki dampak positif terhadap kegiatan operasional dan kondisi finansial perseroan di mana secara keuangan akan menambah posisi kas perseroan untuk mendukung operasional dan pengembangan usaha perseroan serta akan mengurangi beban utang perseroan,” kata Wakil Direktur Utama APLN Noer Indradjaja dalam keterbukaan informasi, Kamis (11/12/2025).
Teranyar, APLN kembali melepas kepemilikan asetnya terhadap Mal Deli Park, Medan. Manajemen menjelaskan bahwa anak usaha APLN, PT Sinar Menara Deli yang mengelola Mall Deli Park telah menyelesaikan penjualan kepada PT DPM Assets Indonesia (DPMAI) melalui penandatanganan akta-akta jual beli.
APLN kemudian mendapatkan keuntungan secara finansial yang diperoleh dari transaksi. Sebagian besar dana yang diperoleh oleh Sinar Menara Deli dalam transaksi penjualan mal ini akan dibagikan kepada APLN sebagai dividen, untuk kemudian digunakan oleh APLN untuk melakukan pembayaran kembali atas sebagian utang kepada pemberi pinjaman berdasarkan perjanjian kredit.
Strategi Divestasi APLN
Adapun, langkah divestasi aset memang menjadi salah satu strategi APLN dalam rangka memperkuat fundamental dan mendukung ekspansi pada proyek-proyek bernilai tinggi.
Selama periode 2017–2024, total terdapat tujuh aset hotel, mal, dan tanah yang telah dijual APLN dengan nilai sekitar Rp14 triliun. Sebagian besar hasil penjualan digunakan untuk membiayai proyek ataupun membayar kewajiban utang.
Direktur Utama APLN Bacelius Ruru menuturkan, proyek yang dibangun APLN antara lain Podomoro Park (Bandung), Parkland Podomoro (Karawang), hingga Bukit Podomoro Jakarta. Adapun, kewajiban yang dilunasi sekitar Rp4 triliun.
Dia menyatakan strategi penjualan tidak membuat aset APLN turun signifikan. Sebagai gambaran, total aset perusahaan tercatat Rp28,79 triliun pada 2017. Namun, hingga kuartal III/2024, total aset perusahaan masih mencapai Rp27,14 triliun.
“Inilah yang sebenarnya kami lakukan sejak tahun 2017 dengan menjual beberapa aset baik mal, hotel, maupun tanah,” katanya, Rabu (19/2/2025).
Sejak 2021, total pinjaman berbunga APLN kemudian terus menurun dari Rp10 triliun menjadi Rp5,5 triliun per September 2025 atau berkurang hingga sekitar Rp4,5 triliun. Salah satu sumber pelunasan utang tersebut berasal divestasi aset strategis yang nilainya tinggi.
Pada saat yang sama, APLN pun bergeliat mengembangkan berbagai proyek properti bernilai tinggi di berbagai kota seperti Podomoro Park Bandung, Bukit Podomoro Jakarta, Podomoro Golf View Cimanggis, Parkland Podomoro Karawang, Podomoro City Deli Medan dan Borneo Bay Residence Balikpapan.