Bisnis.com, SIAK -- Meski menjadi salah satu daerah dengan potensi pertanian terbesar di Riau, sektor pertanian padi di Kabupaten Siak masih menghadapi berbagai kendala mendasar, terutama terkait ketersediaan air atau irigasi pertanian, akses modal, dan ketergantungan terhadap tengkulak.
Bupati Siak, Afni Zulkifli, mengungkapkan bahwa kondisi pertanian di wilayahnya masih belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan pangan lokal, terutama untuk komoditas beras.
Dirinya menyoroti meski Kabupaten Siak memiliki kelimpahan sumber air, pada musim kering justru banyak lahan sawah yang kekurangan pasokan air akibat alih fungsi lahan dan belum optimalnya sistem irigasi.
“Kelimpahan air di Siak ini sebenarnya luar biasa, tapi saat musim kering justru banyak sawah yang kekurangan air. Salah satu penyebabnya karena alih fungsi lahan yang mempengaruhi tata kelola air,” ujarnya Senin (3/11/2025).
Dia menambahkan, daerah penghasil padi seperti di Kecamatan Bunga Raya masih menjadi tulang punggung produksi gabah di Siak. Namun, sebagian besar petani di wilayah tersebut hanya menjual gabah mentah ke luar daerah karena keterbatasan modal dan fasilitas penggilingan beras.
Menurutnya petani di Bunga Raya ini rajin dan produktif, bisa menanam sampai indeks pertanaman (IP) 2,5 meskipun sawahnya tadah hujan. Tapi masalahnya, para petani masih bergantung pada tengkulak karena tidak punya modal sendiri.
"Akibatnya, uang hasil penjualan gabah sekitar Rp100 miliar justru keluar dari Siak,” ungkapnya.
Dia mengakui memang harga gabah yang ditawarkan pemerintah saat ini mencapai Rp6.500 per kilogram, namun tengkulak bisa membeli dengan harga lebih tinggi, antara Rp6.800 hingga Rp7.000. Hal inilah yang membuat petani lebih memilih menjual hasil panennya ke tengkulak daripada ke pemerintah daerah.
Selain itu, keterbatasan modal juga menjadi penghambat utama bagi petani untuk meningkatkan produktivitas. Pemkab Siak kini tengah berupaya membuka akses pembiayaan murah dengan bunga 6% - 7% yang akan ditanggung oleh pemerintah daerah.
“Kami sedang rencanakan agar petani bisa mendapat kredit murah tanpa bunga tinggi. Harapannya, petani bisa mandiri dan tidak lagi bergantung pada tengkulak. Kalau petani punya modal dan pengairan cukup, kami yakin Siak bisa swasembada beras. Tujuan kami jelas yaitu pertumbuhan ekonomi yang dirasakan langsung oleh masyarakat, bukan hanya angka di atas kertas,” ujarnya.