Bisnis.com, JAKARTA — Badan pengawas data di Inggris, Information Commissioner's Office (ICO), mengingatkan para orang tua agar menganggap privasi anak di internet sama pentingnya dengan melindungi mereka dari orang asing di dunia nyata.
Menurut survei ICO terhadap 1.000 orang tua di Inggris yang memiliki anak berusia 4 hingga 11 tahun, terdapat kekhawatiran besar terkait keamanan data anak. Sekitar 35% orang tua percaya anak mereka bersedia membagikan informasi pribadi hanya untuk mendapatkan hadiah atau item dalam permainan.
Survei ini juga menemukan 22% anak pernah membagikan informasi sensitif, seperti data kesehatan, ke alat berbasis AI. Sementara itu, 24% anak pernah membagikan nama asli atau alamat mereka secara online, dan anak usia 8 hingga 9 tahun disebut paling rentan.
ICO menekankan privasi online tidak hanya soal nama atau alamat. Data pribadi anak juga mencakup riwayat pencarian, foto dan rekaman suara, aktivitas di media sosial dan game, serta kebiasaan sehari-hari, bahkan hingga pola tidur.
Semua data ini bisa membentuk jejak digital yang tersimpan lama dan berpotensi disalahgunakan.
Menurut ICO, satu klik saja bisa membuka banyak informasi tentang anak, mulai dari minat hingga kondisi emosional. Jika tidak dilindungi, data ini bisa dimanfaatkan oleh pihak yang berniat buruk.
Risikonya tidak main-main, seperti kontak dari orang asing, pelecehan, hingga potensi radikalisasi.
Survei juga menemukan banyak orang tua merasa belum cukup siap. Sebanyak 46% mengaku tidak percaya diri melindungi privasi anak, 44% merasa sudah berusaha tetapi belum yakin cukup, dan 42% jarang memeriksa pengaturan privasi anak.
Ironisnya, topik privasi justru jarang dibahas. Sebanyak 21% orang tua belum pernah membicarakannya dengan anak, dan 38% hanya membahasnya kurang dari sebulan sekali.
Padahal, sebagian besar orang tua rutin membahas waktu penggunaan layar.
ICO menekankan privasi online harus diajarkan sejak dini. Hal ini dianggap sebagai keterampilan hidup penting, sama seperti mengajarkan anak menyeberang jalan dengan aman.
Wakil Komisaris ICO Emily Keaney, menilai banyak keluarga belum terbiasa membicarakan isu ini, sehingga diperlukan pendekatan yang lebih luas dari masyarakat.
“Internet menawarkan peluang luar biasa bagi anak, tetapi setiap klik dapat meninggalkan jejak data tersembunyi dan jejak digital ini dapat bertahan selamanya,” ujarnya dikutip dari Independent, Selasa (7/4/2026).
Sementara itu, Komisaris Anak untuk Inggris Rachel de Souza, menegaskan tanggung jawab tidak hanya ada pada orang tua, tetapi juga pada perusahaan teknologi. Mereka harus memastikan layanan digital dirancang dengan mengutamakan keselamatan dan privasi anak sejak awal. (Nur Amalina)