Bisnis.com, JAKARTA — Perusahaan tambang global Anglo American menyepakati penjualan portofolio tambang batu bara metalurgi di Australia kepada Dhilmar Limited milik Alexander Ramlie dengan nilai transaksi mencapai hingga US$3,875 miliar.
Nilai transaksi tersebut terdiri atas pembayaran tunai awal sebesar US$2,3 miliar yang akan dibayarkan saat penyelesaian transaksi, serta tambahan earnout berbasis harga komoditas hingga US$1,575 miliar.
Chief Executive Officer Anglo American Duncan Wanblad mengatakan hasil penjualan akan digunakan untuk menurunkan utang bersih perseroan.
“Kesepakatan ini merupakan langkah besar lainnya dalam penyederhanaan portofolio kami menjelang penyelesaian merger dengan Teck,” ujar Wanblad dalam keterangannya, Senin (18/5/2026).
Menurutnya, melalui transaksi tersebut Anglo American akan sepenuhnya keluar dari bisnis batu bara metalurgi setelah sebelumnya menyelesaikan penjualan kepemilikan di tambang Jellinbah senilai sekitar US$1 miliar.
Secara total, perseroan memperkirakan akan memperoleh dana hingga US$4,9 miliar dari divestasi aset batu bara metalurgi.
Portofolio yang dilepas mencakup kepemilikan mayoritas di sejumlah tambang batu bara metalurgi di Australia, antara lain 88% saham pada joint venture Moranbah North dan Grosvenor, 70% saham Capcoal, serta berbagai kepemilikan lainnya di Dawson, Roper Creek, hingga Moranbah South.
Wanblad menilai Dhilmar memiliki pengalaman panjang dalam pengelolaan aset tambang besar, termasuk batu bara metalurgi di Asia Tenggara dan Kanada.
Perseroan menargetkan transaksi dapat rampung pada kuartal I/2027 setelah memperoleh persetujuan regulator dan memenuhi berbagai persyaratan kompetisi usaha.
Di sisi lain, Anglo American masih melanjutkan proses arbitrase dengan Peabody Energy terkait perjanjian akuisisi portofolio batu bara metalurgi yang diteken pada November 2024.
Anglo American menyatakan tetap yakin bahwa insiden di tambang Moranbah North yang dijadikan dasar penghentian perjanjian oleh Peabody tidak memenuhi kategori material adverse change.
Alexander Ramlie
Dhilmar Limited sendiri merupakan perusahaan tambang swasta baru yang berbasis di Inggris. Perusahaan tersebut dipimpin oleh CEO sekaligus Managing Director Alexander Ramlie dan didukung jajaran direksi yang memiliki pengalaman puluhan tahun di industri pertambangan, baik tambang terbuka maupun bawah tanah, pada berbagai komoditas.
Sebelum berkiprah di industri tambang, miliarder termuda di Indonesia itu meraih gelar sarjana dan magister ekonomi dari University of Boston, dan memulai kariernya sebagai bankir investasi di Lazard Frères & Co.
Sebelum mendirikan Amman pada 2015, Alexander menjabat sebagai Presiden Direktur dan Chief Executive Officer PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk. (BORN), produsen batu bara metalurgi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Selama masa jabatannya di Borneo, beliau memainkan peran penting dalam mengakuisisi saham pengendali di Bumi PLC yang terdaftar di Bursa Efek London (LSE) pada tahun 2011.
Kemudian dari tahun 2012 hingga 2015, beliau menjabat sebagai Direktur Non-Eksekutif di Bumi dan memegang posisi dewan direksi di berbagai anak perusahaan Bumi seperti PT Berau Coal Energy Tbk. (BRAU) yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, PT Berau Coal, PT Bumi Resources Tbk. (BUMI), PT Kaltim Prima Coal, dan PT Arutmin Indonesia.
Pada 2015 dia menjadi salah satu pendiri PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) dan kemudian diangkat sebagai Komisaris di AMMAN pada Juni 2025. Di bawah kepemimpinannya, entitas AMMAN, yakni PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) mengalami transformasi yang signifikan dan mencapai pertumbuhan operasional.
Dia juga memainkan peran penting dalam akuisisi saham pengendali AMMAN di Macmahon Holdings Ltd yang terdaftar di Bursa Efek Australia (ASX) dan menjabat sebagai Direktur Non-Eksekutif dari tahun 2017 hingga 2023.
Melalui Amman, Alexander juga menjadi salah satu orang terkaya dan miliarder termuda di Indonesia dengan kekayaan mencapai US$2,4 miliar atau sekitar Rp39,77 triliun.