Bisnis.com, JAKARTA — Seorang teman dalam diskusi pagi sambil menghirup kopi menjelaskan panjang lebar bagaimana bisnis berkembang luar biasa dan berubah cepat. Sebagai salah satu petinggi perusahaan yang menuntut untuk terus berinovasi, menciptakan produk atau service baru merupakan salah satu tugasnya. Tentu saja konsep keunggulan bersaing (competitive advantage) menjadi arah dan pegangannya.
Barney (1995), memang menekankan pentingnya kemampuan organisasi dalam memanfaatkan sumber daya melalui VRIO untuk mendapatkan keunggulan bersaing. VRIO yang merupakan kependekan dari V (valuable), R (rare), I (imitable), dan O (organization) memang sering dipakai untuk pertimbangan perkembangan bisnisnya.
Pengaruh sistem dan teknologi informasi yang berkembang sangat cepat memang menjadikan semua organisasi harus berpikir ulang untuk strategi bisnisnya.
Saat ini, siklus hidup produk maupun jasa menjadi lebih pendek. Produk atau jasa yang baru diluncurkan dalam waktu singkat, ternyata sudah memiliki peniru, dan pengikut (follower)-nya lebih cepat muncul. Jadinya, konsep VRIO terutama unsur I (imitable) alias tidak bisa ditiru, menjadi dipertanyakan kembali.
Lalu apa yang harus diperbuat perusahaan agar tetap berkelanjutan? Alih-alih bersaing untuk tidak bisa ditiru, bisa jadi ada cara lain agar bisnis terus bisa berlanjut dan berkembang.
Membangun Ekosistem
Satu hal yang kini ramai diperbincangkan adalah ekosistem bisnis, seperti ekosistem bisnis kendaraan listrik, ekosistem bisnis kerumah-sakitan, atau ekosistem bisnis industri hijau. Konsep ekosistem bisnis sebetulnya sudah dicetuskan oleh James Moore pada 1993, yang menyamakan perusahaan dengan organisme dalam ekosistem alami yang harus beradaptasi dengan lingkungan yang terus berkembang dan saling bergantung untuk bertahan hidup dan berkembang.
Secara praktis maka ekosistem bisnis menjadi jaringan organisasi yang dinamis, saling terhubung dan berkolaborasi -termasuk pemasok, distributor, pelanggan, pesaing, dan bahkan lembaga pemerintah- untuk bersaing, memberikan, berbagi, dan menciptakan nilai bersama bagi sekelompok pelanggan yang sama.
Perang ekosistem bisnis adalah bentuk konflik kompetitif di mana perusahaan atau platform tidak bersaing sendirian, tetapi seluruh jaringan mitra, pemasok, pengembang, distributor, data, standar, dan pengguna bersaing melawan ekosistem saingan untuk mengendalikan, mendominasi, atau bertahan hidup di pasar. Artinya, perang ekosistem bisnis lebih fokus pada persaingan antara jaringan bisnis yang saling bergantung, di mana kemenangan bergantung pada pengaturan ekosistem daripada mengungguli satu perusahaan saingan.
Sebagai contoh paling nyata adalah bagaimana Android yang dikembangkan Google bersaing dengan iOS yang dikembangkan Apple. Hampir semua perangkat gadget kini memang terbelah oleh dua ekosistem ini. Android dan iOS terus berusaha mengembangkan semua perangkat jaringannya, mulai dari produk, pemasok dan konsumennya. Sehingga dalam perang semacam ini, ekosistem bukan hanya produk tetapi senjatanya.
Begitu juga kendaraan listrik BYD versus Wuling, mereka berdua juga sedang bersaing melalui ekosistem yang sedang dibangun. Tidak hanya produk, tetapi pemasok, jaringan SPKLU, jaringan distribusi dan mitra mereka buat untuk menjaga ekosistemnya.
Ada benang merah dari penciptaan ekosistem tersebut terutama adalah menciptakan nilai untuk konsumen (consumer value) juga adanya saling ketergantungan dan kolaborasi yang terintegrasi antar ‘peserta’ ekosistem.
Oleh karenanya, membangun ekosistem dimulai dengan menghubungkan mitra, baik sebagai pemasok maupun distributor, juga memilih atau mensegmentasi konsumen dan membangun nilai untuknya.
Kuncinya, Kolaborasi
Membangun sebuah ekosistem memang perlu perjuangan. Membuat orkestrasi antara semua pihak, mitra, distributor, pemasok dan standar juga semua yang terlibat menjadi upaya tersendiri. Trust dan kolaborasi menjadi kunci dari orkestrasi tersebut, apalagi pihak yang menjadi orkestrator.
Kompetisi bukan lagi sekader perusahaan versus perusahaan, produk/jasa versus produk/jasa, tetapi platform versus platform. Sehingga semua elemen yang terlibat di ekosistem akan bersifat jangka panjang. Itulah kolaborasi menjadi penting. Kolaborasi juga memungkinkan peningkatan inovasi, memungkinkan solusi yang lebih cepat, lebih beragam, dan inovatif.
Hal yang menjadi manfaat ketika perusahaan-perusahaan bersepakat bersama membangun ekosistem adalah dapat meningkatkan skala bisnis. Setiap perusahaan peserta ekosistem dapat memanfaatkan sumber daya dan akses pasar dari anggota perusahaan lainnya.
Dengan demikian perusahaan menjadi punya kemampuan meningkatkan ketangkasan (agility) dan ketahanan (resilience)-nya dengan memanfaatkan jaringan yang fleksibel dan dapat beradaptasi lebih baik terhadap perubahan atau gangguan pasar.
Kolaborasi dan pembentukan ekosistem, pada ujungnya adalah mengupayakan juga peningkatan pengalaman pelanggan (customer experience), yaitu dengan memberikan solusi terintegrasi yang memberikan pengalaman lebih baik dan lebih lancar. Kita juga paham karena customer experience adalah bibit dari intensi membeli, loyalitas dan word of mouth yang penting dalam pemasaran.
Dalam praktik, hal yang mungkin menarik untuk dicermati adalah membangun ekosistem pelari (runner). Jika digunakan pisau analisis lebih rinci, perkara pelari ini tidak hanya terlihat seperti yang tampak. Kebutuhan mulai perlengkapan dari sepatu, jersey, kaos kaki, makanan sampai aksesori tempat minum, juga memerlukan banyak pihak pemasok.
Belum lagi event kebersamaan, mulai dari event lari tingkat lokal, nasional bahkan internasional hingga sekadar kumpul di kafe langganan. Bisa dibayangkan berapa banyak diperlukan bisnis atau perusahaan membangun kolaborasi.
Perang ekosistem bisnis adalah persaingan antarjaringan bisnis yang saling bergantung, di mana kemenangan bergantung pada pengkoordinasian ekosistem daripada mengungguli kinerja satu perusahaan pesaing. Sudah kah saatnya kita berpikir membangun ekosistem bisnis dan berperang di dalamnya?