Bisnis.com, MEDAN – Kesadaran konsumen terhadap isu keberlanjutan perlahan mengubah pola produksi para pengrajin. Kini banyak penenun mulai memanfaatkan kembali pewarna alami, seiring meningkatnya permintaan terhadap produk ramah lingkungan yang tak hanya menarik dipandang, tetapi juga lebih bertanggung jawab terhadap alam.
Eka Malia, perwakilan kelompok penenun Hilwa Tenun, mengatakan bahwa selama ini penenun mulai meninggalkan pewarna alami dan beralih ke pewarna sintetis, yang mayoritas didatangkan dari luar negeri alias impor.
Namun, seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap isu keberlanjutan, warna-warna alami mulai kembali mewarnai kain tenun Nusantara. Tren ini lantas mendorong para penenun untuk kembali menggunakan pewarna alami, alih-alih pewarna sintetis.
“Saya sudah melihat juga beberapa customer, calon customer, mereka suka dengan kain-kain yang sustainable, mendukung keberlanjutan. Itu salah satu yang kita targetkan sekarang,” kata Eka ketika ditemui di Istana Maimoon, Medan, Sumatra Utara, dikutip Rabu (5/11/2025).
Potensi Pasar
Perkumpulan Warna Alam Indonesia (Warlami) memandang pasar untuk produk berbasis pewarna alami sejatinya sudah mulai terbentuk. Meski masih tergolong niche market, permintaan terhadap kain berwarna alami perlahan menunjukkan arah yang menjanjikan. Apalagi, tren global saat ini mengarah pada eco-fashion, menjadikan pewarna alami sebagai potensi yang bagus.
“Tinggal bagaimana teman-teman di sini bisa beralih dari tenun songket yang menggunakan bahan warna sintetis itu menjadi pewarna alam,” kata Sekretaris Jenderal Warlami Suroso.
Namun, peralihan dari pewarna sintetis ke pewarna alami tidak bisa terjadi begitu saja. Dia mengatakan setelah menguasai teknik pewarnaan alami, penenun juga perlu memahami cara menjual produknya.
Menurutnya, kemampuan untuk membangun narasi inilah yang kerap menjadi tantangan tersendiri bagi penenun dalam memasarkan produknya.
“Ini perlu sedikit kemampuan tentang bagaimana untuk bercerita. Karena tanpa bercerita, maka akan menjadi sama saja dengan warna sintetis,” ujarnya.
Dukungan dari berbagai lembaga, termasuk melalui program tanggung jawab sosial perusahaan dan jejaring komunitas seperti Warlami, turut membantu memperkenalkan para penenun ke pasar yang lebih luas.
Dari situ, kata dia, para penenun mulai melihat bahwa produk tenun dengan pewarna alami memiliki nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan dengan tenun sintetis.
Meski dia mengakui bahwa proses peralihan dari pewarna sintetis ke pewarna alami tak selalu instan, perubahan perlahan tetap terjadi.
Suroso mengungkap, banyak penenun yang memulai secara bertahap sebelum akhirnya beralih sepenuhnya. Tak semua mampu bertahan, tetapi sebagian berhasil menemukan peluang baru dan terus menekuni pewarna alami sebagai identitas produknya.
Upaya Melestarikan Pewarna Alam
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn menilai tren eco-fashion saat ini membawa peluang bagi tenun songket Melayu Sumatra Utara agar semakin dikenal masyarakat luas.
Oleh karena itu, dia mengharapkan para penenun dapat mengimplementasikan teknik pewarnaan menggunakan warna alam, serta menjaga keberlangsungan agar tenun songket Melayu Sumatra Utara kian dikenal sebagai kain tradisional ramah lingkungan.
Untuk mendukung pelestarian penggunaan pewarna alam, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) bersama Warlami melakukan sejumlah upaya untuk membantu para penenun menguasai teknik pewarnaan alam, menggunakan material ramah lingkungan, serta menghasilkan produk tenun berkelanjutan.
Melalui pembinaan pembuatan kain tradisional (wastra) menggunakan pewarna alam, keduanya memberikan pelatihan kepada 32 penenun songket Melayu dari lima komunitas asal Kabupaten Deli Serdang dan Batu Bara, Sumatra Utara.
“Oleh karena itu, BCA bersama Warlami mendukung upaya pelestarian sekaligus pemberdayaan penenun songket Melayu Sumatra Utara menggunakan warna alam,” ujar Hera.