Bisnis.com, JAKARTA — Bank Indonesia melaporkan Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia mencapai US$431,9 miliar atau sekitar Rp7.160 triliun (asumsi kurs JISDOR 14 Oktober 2025 Rp16.577 per dolar AS). Posisi ULN Indonesia pada bulan kedelapan 2025 itu lebih rendah dari bulan sebelumnya yakni US$432,5 miliar.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Ramdan Denny Prakoso melaporkan bahwa secara tahunan, posisi utang eksternal itu tumbuh 2% secara tahunan atau year on year (YoY). Pertumbuhannya lebih rendah dari bulan lalu yang mencapai 6,3% YoY.
"Perkembangan ini terutama bersumber dari melambatnya pertumbuhan ULN sektor publik dan kontraksi pertumbuhan ULN sektor swasta," terang Denny dalam keterangannya, Senin (15/10/2025).
Adapun, ULN terbagi ke utang pemerintah dan swasta. ULN pemerintah tercatat sebesar US$213,9 miliar atau tumbuh 6,7% YoY pada Agustus 2025. Pertumbuhannya juga melambat dari bulan sebelumnya yang mencapai 9%.
Perkembangan ULN pemerintah itu dipengaruhi oleh melambatnya pertumbuhan aliran masuk modal asing pada Surat Berharga Negara (SBN) seiring ketidakpastian pasar keuangan global yang tetap tinggi.
Lebih lanjut, Denny menyebut ULN diarahkan untuk mendukung pembiayaan program-program prioritas yang mendorong keberlanjutan dan penguatan perekonomian nasional.
Berdasarkan sektornya, ULN pemerintah dimanfaatkan untuk Sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial (23,4% dari total ULN pemerintah); Jasa Pendidikan (17,2%); Administrasi Pemerintah, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib (15,7%); Konstruksi (12,3%); Transportasi dan Pergudangan (9,0%); Jasa Keuangan dan Asuransi (8,0%); serta Pergudangan (8,9%).
"Posisi ULN pemerintah tersebut tetap terjaga karena didominasi utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,9% dari total ULN pemerintah," paparnya.
Sementara itu, ULN swasta sebesar US$194,2 miliar. Angka itu mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 1,1% YoY pada Agustus 2025, lebih besar dibandingkan kontraksi bulan sebelumnya sebesar 0,2% YoY.
Perinciannya, kontraksi pertumbuhan terjadi kepada ULN bukan lembaga keuangan (nonfinancial corporations) yakni 1,6% YoY pada Agustus 2025. Sementara itu, ULN lembaga keuangan (financial corporations) tumbuh melambat menjadi 0,8% YoY.
Berdasarkan sektor ekonomi, pangsa ULN swasta terbesar berasal dari Sektor Industri Pengolahan; Jasa Keuangan dan Asuransi; Pengadaan Listrik dan Gas; serta Pertambangan dan Penggalian, dengan pangsa mencapai 81,2% terhadap total ULN swasta.
Sejalan dengan itu, rasio ULN Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB) turun menjadi 30% pada Agustus 2025, relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 29,9%.
Dominasi ULN jangka panjang juga sebesar 85,9% terhadap total ULN, sedikit meningkat dari bulan sebelumnya sebesar 85,5%.
"Bank Indonesia dan Pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN. Peran ULN juga akan terus dioptimalkan untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan. Upaya tersebut dilakukan dengan meminimalkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian," tutup Denny.