Bisnis.com, JAKARTA — Harga saham maskapai pelat merah PT Garuda Indonesia Tbk. (GIAA) melorot pada hari ini, Rabu (15/10/2025) di tengah momentum perombakan pengurus melalui rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB).
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), harga saham GIAA turun 7,02% ke level Rp106 per lembar pada penutupan perdagangan hari ini, Rabu (15/10/2025).
Meski begitu, harga saham GIAA masih kokoh di zona hijau, menanjak 92,73% sepanjang tahun berjalan (year to date/ytd) atau sejak perdagangan perdana 2025.
Melorotnya saham GIAA pada perdagangan hari ini terjadi di tengah momentum perombakan pengurus. Dalam RUPSLB GIAA hari ini, para pemegang saham resmi menyetujui pengangkatan Glenny H. Kairupan sebagai Direktur Utama Garuda Indonesia yang baru. RUPSLB pun memberhentikan dengan hormat Wamildan Tsani yang menjabat sebagai Direktur Utama sejak 15 November 2024 lalu.
Selain itu, agenda perubahan pengurus perseroan turut menunjuk Thomas Sugiarto Oentoro sebagai Wakil Direktur Utama serta Frans Dicky Tamara sebagai Komisaris.
Terdapat pula nama baru dalam agenda RUPSLB GIAA hari ini. Balagopal Kunduvara ditunjuk sebagai Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Garuda Indonesia.
Dia sebelumnya merupakan petinggi Singapore Airlines. Sejak 2021 sampai tahun ini, Balagopal menjabat sebagai Divisional Vice President Financial Services Singapore Airlines.
Nama lain yang muncul adalah Neil Raymond Mills sebagai Direktur Transformasi Garuda Indonesia. Sebelumnya, Neil juga telah malang melintang di industri aviasi.
“Agenda perubahan susunan pengurus ini merupakan bagian dari langkah strategis perseroan dalam memperkuat proses restrukturisasi penyehatan,” tulis Manajemen Garuda Indonesia dalam keterangan tertulis yang diterima Bisnis pada Rabu (15/10/2025).
Di sisi lain, Analis Sinarmas Sekuritas Isfhan Helmy dalam risetnya menilai harga saham GIAA masih berpeluang terbang didorong oleh injeksi dana jumbo dari Danantara.
Selain perombakan pengurus, GIAA memang tengah ancang-ancang restrukturisasi melalui gelaran penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD) atau private placement.
Aksi tambah modal GIAA itu akan dijalankan oleh PT Danantara Asset Management (Persero) melalui dua skema. Pertama setoran modal dalam bentuk uang tunai. Kedua, konversi pinjaman pemegang saham (shareholder loan/SHL) menjadi saham baru. Total dana private placement itu mencapai US$1,84 miliar atau Rp30,31 triliun (kurs Rp16.421 per dolar AS).
Secara rinci, Danantara akan melakukan penyetoran modal secara tunai kepada GIAA sebanyak-banyaknya US$1,44 miliar atau Rp23,66 triliun dan konversi SHL menjadi saham baru sebesar US$405 juta atau Rp6,65 triliun.
“Berdasarkan perkiraan kami, dengan asumsi operasi bisnis seperti biasa, Garuda Indonesia seharusnya dapat membangun penyangga kas yang cukup besar. Dengan suntikan modal penuh yang telah selesai tahun ini, kami memproyeksikan tingkat kas akhir tahun 2025 akan melebihi US$1 miliar,” tulis Isfhan dalam riset terbarunya beberapa waktu lalu.
Saldo kas GIAA diperkirakan akan meningkat setelah injeksi Danantara melalui private placement. GIAA kemudian mampu bergerak menuju profitabilitas. Sinarmas Sekuritas memproyeksikan laba bersih GIAA mampu diraih pada 2027.
GIAA memang masih membukukan rugi bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$143,7 juta atau Rp2,33 triliun (kurs Jisdor Rp16.231 per dolar AS 30 Juni 2025) pada semester I/2025. Rugi bersih GIAA membengkak 41,36% secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan rugi periode yang sama tahun sebelumnya US$101,65 juta atau Rp1,64 triliun.
Seiring dengan sentimen positif suntikan Danantara terhadap saham GIAA, Isfhan dalam risetnya pun memproyeksikan adanya lompatan lanjutan saham GIAA ke depan. Isfhan memberikan rekomendasi beli untuk GIAA dengan target harga saham di level Rp180 per lembar.
Sebelumnya, Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia mengatakan prospek saham GIAA memang cenderung membaik seiring dengan dukungan simultan dari kebijakan pemerintah dan potensi restrukturisasi manajemen.
Kemudian, sentimen positif juga datang dari penandatanganan Indonesia–EU CEPA dan Indonesia–Canada CEPA yang membuka peluang peningkatan arus perdagangan, investasi, serta pariwisata lintas kawasan. Efeknya bisa langsung terasa pada sektor penerbangan, terutama Garuda Indonesia, karena meningkatnya kunjungan bisnis dan wisatawan asing akan memperluas pangsa pasar penerbangan internasional.
“Ditambah lagi, suntikan modal dari Danantara sebesar Rp6,65 triliun memperkuat posisi kas GIAA dan menjadi ruang bagi peremajaan armada serta ekspansi rute yang sempat tertunda. Kombinasi stimulus fiskal dan pembukaan akses dagang global ini menjadi katalis yang berpotensi mendongkrak pendapatan di semester II/2025 normalisasi volume penerbangan dan penurunan tekanan biaya bahan bakar,” ujar Liza kepada Bisnis pada beberapa waktu lalu.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.