Bisnis.com, JAKARTA — Presiden Amerika Serikat Donald Trump memprediksi perang dengan Iran akan “berakhir dengan cepat” dan menyebut sebagian besar pihak memahami tujuannya untuk menghentikan ambisi nuklir Teheran.
Pernyataan itu disampaikan di tengah pembahasan proposal Amerika Serikat untuk mengakhiri konflik yang hingga kini masih dipertimbangkan Iran.
Melansir BBC, Kamis (7/5/2026), media AS Axios melaporkan Gedung Putih disebut tengah mendekati kesepakatan memorandum of understanding (MoU) berisi 14 poin dengan Iran. Dokumen tersebut dikabarkan dapat menjadi kerangka awal bagi negosiasi nuklir yang lebih rinci antara kedua negara.
Namun, seorang anggota senior parlemen Iran menepis proposal tersebut dan menyebutnya hanya sebagai “wish list”. Sementara itu, juru bicara kementerian luar negeri Iran mengatakan Teheran akan menyampaikan pandangannya terkait proposal AS melalui mediator dari Pakistan.
Menteri luar negeri Pakistan menyatakan negaranya tengah berupaya mengubah gencatan senjata sementara menjadi penghentian perang secara permanen.
Dalam laporannya, Axios menyebut memorandum tersebut berbentuk dokumen satu halaman dengan 14 poin utama yang dapat menjadi dasar pembicaraan nuklir lanjutan. Beberapa poin di antaranya mencakup penghentian sementara pengayaan uranium Iran, pencabutan sanksi, serta pemulihan jalur pelayaran bebas di Selat Hormuz.
Axios mengutip dua pejabat AS dan dua sumber lain yang mengetahui pembahasan tersebut. Seluruh sumber tidak disebutkan identitasnya. Disebutkan pula bahwa banyak ketentuan dalam memorandum tersebut bergantung pada tercapainya kesepakatan final antara kedua pihak.
Berbicara dalam acara kampanye virtual pada Rabu (6/5) malam waktu setempat, Trump mengatakan kepada Partai Republik di Negara Bagian Georgia bahwa dirinya optimistis perang akan segera berakhir. Dia menambahkan mayoritas masyarakat memahami langkahnya menolak Iran memiliki senjata nuklir.
Sebelumnya pada hari yang sama, Trump menyebut AS telah melakukan “pembicaraan yang sangat baik dengan Iran dalam 24 jam terakhir” dan peluang tercapainya kesepakatan masih terbuka. Dia juga menegaskan dampak terhadap warga AS akibat lonjakan harga energi hanya bersifat sementara.
”Proposal Amerika masih sedang dikaji oleh Iran dan setelah proses tersebut selesai, Iran akan menyampaikan pandangannya kepada pihak Pakistan,” ungkap Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Ismail Baghaei kepada Iranian Students' News Agency (ISNA).
Menanggapi laporan Axios, juru bicara Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Ebrahim Rezaei, menulis di platform X bahwa “Amerika tidak akan memperoleh apa pun dari perang yang sedang mereka kalahkan yang sebelumnya tidak mereka dapatkan melalui negosiasi tatap muka.”
Dia juga menyatakan Iran selalu siap “menarik pelatuk” serta memperingatkan bahwa jika AS tidak menyerah dengan mengabulkan seluruh permintaan, Iran akan memberikan respons keras yang membuat Washington menyesal.
Trump juga menyatakan Operation Epic Fury, yakni ofensif awal AS-Israel terhadap Iran, akan dihentikan “dengan asumsi Iran setuju memenuhi apa yang telah disepakati”. Pernyataan itu muncul setelah Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan operasi tersebut telah selesai karena targetnya telah tercapai.
Untuk kesekian kalinya, Trump kembali mengklaim Iran telah sepakat untuk tidak memiliki senjata nuklir “di antara berbagai hal lainnya”, meskipun klaim tersebut belum dikonfirmasi Teheran. Program nuklir Iran selama ini menjadi salah satu isu utama yang menghambat negosiasi kedua negara.
“Mereka [Iran] ingin mencapai kesepakatan. Kami telah melakukan pembicaraan yang sangat baik dalam 24 jam terakhir dan sangat mungkin kami akan mencapai kesepakatan di sana,” kata Trump. Dia menambahkan, “Saya pikir kami menang.”
Trump pada Selasa lalu juga mengumumkan penghentian sementara Project Freedom, hanya beberapa hari setelah proyek itu diumumkan. Operasi tersebut dirancang untuk membantu memulihkan distribusi minyak dan menormalkan kembali perekonomian global dengan mengawal kapal-kapal yang terjebak keluar dari Teluk melalui Selat Hormuz.
Iran belum memberikan respons resmi terkait penghentian sementara proyek tersebut. Namun, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memberi sinyal Selat Hormuz dapat kembali dibuka apabila terdapat “berakhirnya ancaman dari pihak agresor”.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Jalur tersebut praktis diblokade Iran sejak AS dan Israel melancarkan serangan pada akhir Februari.
Pada awal April, AS dan Iran sempat mengumumkan gencatan senjata yang membuat Iran menghentikan serangan drone dan rudal ke negara-negara Teluk, termasuk Uni Emirat Arab. Meski demikian, hanya sedikit kapal yang mampu melintas di Selat Hormuz sejak saat itu.
AS juga memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dan mengklaim telah menghentikan puluhan kapal. Komando Pusat AS pada Rabu menyatakan pihaknya menembaki dan melumpuhkan kapal tanker berbendera Iran di Teluk Oman yang diduga mencoba menembus blokade.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan terdapat “koordinasi penuh” antara dirinya dan Trump terkait Iran.
“Tidak ada kejutan. Kami memiliki tujuan yang sama, dan sasaran terpenting adalah penghapusan seluruh material yang telah diperkaya dari Iran serta pembongkaran kemampuan pengayaan nuklir Iran,” ujar Netanyahu.