Bisnis.com, KAMPAR — Para petani di Kelompok Tani (Poktan) Cagar, Desa Koto Garo, Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar, Riau masih menghadapi sejumlah kendala dalam mengembangkan pertanian cabai sejak dulu hingga kini.
Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Cagar, Sayfuddin, mengatakan tantangan utama yang dihadapi petani di wilayahnya terletak pada kondisi cuaca panas ekstrem di Riau dan keterbatasan sumber air untuk penyiraman. Situasi ini membuat petani harus berinovasi agar tanaman cabai tetap produktif.
“Riau ini panasnya luar biasa, jadi petani seperti menantang alam. Kalau di Sumbar atau Medan mereka diuntungkan dengan pegunungan dan udara sejuk, makanya hasilnya bisa di atas satu kilogram per batang. Di sini kami harus menjaga penyiraman minimal tiga kali seminggu,” ungkapnya kepada tim Jelajah Ketahanan Pangan Riau 2025 Bisnis Indonesia, Senin (20/10/2025).
Menurutnya selain cuaca dan biaya produksi, kesulitan lain yang dihadapi petani adalah akses air dan keterbatasan alat pertanian. Sebelum mendapatkan bantuan mesin pompa dan sistem pengairan modern, para petani masih menyiram tanaman secara manual menggunakan ember dan gayung.
“Dulu kami nyiram manual, jelas tidak efektif. Setelah ada bantuan pompa air bertekanan tinggi dan selang drip, baru bisa lebih efisien,” katanya.
Meskipun demikian, upaya mengembangkan pertanian cabai di Koto Garo terus berlanjut. Gapoktan kini menaungi empat kelompok tani aktif dengan luas lahan sekitar 10 hektare dan total tanaman mencapai 100.000 batang cabai.
Sementara itu, Ketua Poktan Rawit Tani Mandiri, Ariswanto menjelaskan sistem digital farming yang diterapkan sejak 2024 telah membantu meningkatkan efisiensi dan hasil panen.
Dengan sistem tetes air dan alat pengukur kualitas tanah berbasis wifi, produktivitas tanaman cabai naik dari 0,5 kilogram menjadi 0,7 hingga 0,8 kilogram per batang. Meski begitu, tantangan dalam pembiayaan dan hama tanaman masih terus membayangi.
“Untuk satu batang cabai, biaya modalnya sekitar Rp7.000 sampai Rp10.000, dari bibit sampai panen. Kalau harga jual di bawah Rp30.000 per kilogram, kami bisa rugi. Belum lagi kalau musim penyakit seperti antraknosa datang, bisa bikin buah busuk,” jelasnya.
Petani berharap dukungan dari pemerintah daerah bisa lebih diperkuat, terutama dalam penyediaan sumur bor dan sarana angkutan hasil panen. “Kami juga berharap bantuan untuk becak roda tiga agar hasil panen bisa diangkut lebih mudah,” ujarnya.