Bisnis.com, CIREBON - Tingkat kemiskinan di Kota Cirebon menunjukkan tren penurunan dalam satu dekade terakhir. Namun, di balik angka yang tampak membaik itu, tersimpan tantangan struktural yang masih membayangi daya tahan ekonomi warga.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk miskin pada 2025 sebesar 28.120 orang, turun 1.005 orang dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 29.171 orang. Secara persentase, angka kemiskinan Kota Cirebon juga turun dari 9,02% pada 2024 menjadi 8,66% pada 2025.
Penurunan ini melanjutkan tren jangka panjang sejak 2016, meski sempat terganggu lonjakan kemiskinan pada periode 2019–2021 akibat tekanan ekonomi nasional dan pandemi Covid-19.
Plt Kepala BPS Kota Cirebon Ujang Mauludin menjelaskan penurunan kemiskinan tersebut mencerminkan pemulihan ekonomi yang mulai dirasakan sebagian kelompok rentan.
Namun, ia mengingatkan, membaca kemiskinan tidak cukup hanya dari sisi jumlah dan persentase. "Penurunan jumlah penduduk miskin itu penting, tapi yang lebih krusial adalah melihat seberapa jauh pengeluaran mereka dari garis kemiskinan dan bagaimana ketimpangan di antara kelompok miskin itu sendiri,” ujar Ujang, Selasa (30/12/2025).
BPS mencatat, selama 2024–2025 Garis Kemiskinan Kota Cirebon justru naik 4,8%, dari Rp545.592 menjadi Rp571.809 per kapita per bulan. Kenaikan ini mencerminkan meningkatnya biaya kebutuhan dasar, baik makanan maupun nonmakanan, yang harus dipenuhi penduduk agar tidak dikategorikan miskin.
“Artinya, meskipun jumlah penduduk miskin berkurang, beban hidup minimum yang harus dipenuhi masyarakat semakin tinggi,” kata Ujang.
Kondisi ini menunjukkan penurunan kemiskinan belum sepenuhnya sejalan dengan stabilitas harga dan daya beli.
Lebih lanjut, indikator kedalaman dan keparahan kemiskinan menunjukkan perbaikan. Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) turun dari 1,18 pada 2024 menjadi 0,94 pada 2025. Sementara Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) menurun dari 0,25 menjadi 0,16 pada periode yang sama.
Menurut Ujang, penurunan dua indeks tersebut mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin semakin mendekati garis kemiskinan, serta ketimpangan pengeluaran di antara kelompok miskin makin menyempit.
“Ini sinyal positif. Artinya, penduduk miskin tidak semakin tertinggal jauh, dan jarak pengeluaran mereka terhadap garis kemiskinan mengecil,” ujarnya.
Namun demikian, penurunan indeks tidak serta-merta menandakan kemiskinan telah tertangani secara fundamental. Struktur ekonomi Kota Cirebon yang didominasi sektor jasa, perdagangan kecil, dan pekerja informal membuat kelompok miskin tetap rentan terhadap gejolak harga dan perlambatan ekonomi.