Bisnis.com, JAKARTA – Presiden Amerika Serikat Donald Trump resmi menghentikan seluruh kontrak federal dengan Anthropic setelah perusahaan pengembang AI tersebut menolak permintaan Departemen Pertahanan AS terkait klausul penggunaan teknologi untuk pengawasan domestik massal dan sistem senjata otonom.
Diketahui, AS tengah mengembangkan senjata otonom atau sistem senjata yang setelah diaktifkan dapat memilih dan menyerang target sendiri tanpa intervensi manusia lebih lanjut. Proyel tersebut berjalan di bawah Departemen Pertahanan AS.
Ketegangan antara Anthropic dan Pentagon sebenarnya telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir. Perselisihan bermula dari terkuaknya penggunaan model AI Claude dalam operasi AS yang berkaitan dengan penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro.
Seiring waktu, Departemen Pertahanan mengajukan klausul "segala penggunaan yang sah" dalam kontrak militer, yang mencakup izin untuk pengawasan domestik skala besar dan pengoperasian senjata otonom.
Anthropic menolak keras klausul tersebut karena dinilai bertentangan dengan prinsip etika AI yang dipegang perusahaan. CEO Dario Amodei juga menilai sistem AI saat ini belum memiliki keandalan yang cukup untuk menjalankan senjata otonom tanpa pengawasan manusia yang terlatih.
Penolakan itu memicu respons keras dari pemerintahan Trump. Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump mengumumkan penghentian seluruh kontrak federal dengan Anthropic dan menegaskan pemerintah tidak akan lagi menjalin hubungan bisnis dengan perusahaan tersebut di masa depan.
Pemerintah AS memberikan masa transisi enam bulan bagi seluruh lembaga federal untuk menghapus produk Anthropic dari operasional mereka.
Menteri Pertahanan Pete Hegseth turut memperkuat keputusan itu dengan menetapkan Anthropic sebagai "Risiko Rantai Pasokan bagi Keamanan Nasional". Status itu melarang seluruh kontraktor dan mitra militer AS untuk melakukan aktivitas komersial dengan perusahaan yang dipimpin Amodei.
Merespons tekanan tersebut, Amodei menegaskan posisi perusahaannya tidak akan goyah.
"Kami tidak akan dengan sengaja menyediakan produk yang membahayakan pejuang perang dan warga sipil Amerika," kata Amodei, dikutip dari TechCrunch, Minggu (1/3/2026).
Wakil Menteri Pertahanan Emil Michael menampik kekhawatiran itu. Dia menyebut penggunaan AI yang dipersoalkan Anthropic sebenarnya sudah dibatasi oleh hukum dan kebijakan Pentagon yang berlaku.
Michael justru menuduh Amodei mencoba mengendalikan militer secara personal dan membahayakan keselamatan nasional di tengah persaingan teknologi dengan China.
Setelah keputusan itu resmi diumumkan, dinamika AI di sektor pertahanan AS langsung bergerak cepat.
Hanya beberapa jam setelah Trump memutus hubungan dengan Anthropic, OpenAI mengumumkan kesepakatan baru dengan Pentagon.
CEO Sam Altman mengklaim kontrak tersebut tetap memuat batasan terhadap pengawasan domestik dan senjata ofensif otonom, namun dalam kerangka kerja yang dapat diterima pemerintah.
Meski harus keluar dari ekosistem federal, Anthropic menyatakan komitmennya untuk membantu proses transisi ke penyedia lain guna menghindari gangguan pada perencanaan militer atau misi kritis yang sedang berjalan.
Sementara itu, raksasa teknologi lain seperti Google yang juga memegang kontrak pertahanan sejak Juli lalu masih enggan berkomentar, meski sejumlah karyawannya dilaporkan menyatakan dukungan terhadap sikap yang diambil Anthropic.