Bisnis.com, Jakarta — Kecerdasan buatan (AI) kini tidak hanya membawa manfaat, tetapi juga dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber untuk mengkloning suara seseorang sebagai sarana penipuan.
Mungkin Anda sering menerima panggilan dari nomor asing yang tidak dikenal. Panggilan semacam ini kerap dilakukan berulang kali, mengganggu, dan memancing rasa penasaran sehingga mendorong seseorang untuk mengangkatnya.
Namun, perlu diwaspadai bahwa satu kata sederhana seperti “halo” dapat dimanfaatkan peretas sebagai bahan untuk mengkloning suara Anda. Biasanya, panggilan anonim tersebut tidak memberikan respons dan hanya terdengar hening.
Pada saat itulah pelaku merekam suara korban, lalu memanfaatkannya untuk proses kloning menggunakan teknologi AI.
Teknologi berbasis AI mampu mereplikasi suara manusia dengan tingkat kemiripan yang sangat tinggi. Sistem ini bekerja dengan menganalisis sampel audio untuk mempelajari karakteristik unik suara, seperti nada, intonasi, aksen, dan kecepatan bicara, kemudian menggunakannya untuk menghasilkan suara tiruan dari teks atau menciptakan narasi baru yang terdengar alami dan realistis.
Jika suara Anda berhasil diperoleh peretas, risiko yang dihadapi sangat besar. Rekaman suara palsu dapat digunakan untuk melakukan penipuan, pemerasan, hingga menyebarkan informasi bohong.
Selain itu, suara tiruan juga dapat dimanfaatkan untuk membuat pernyataan fitnah atau ujaran jahat yang berpotensi merusak reputasi seseorang.
Cara kerja pelaku mengkloning suara
Langkah pertama yang dilakukan pelaku adalah mendapatkan suara calon korban dengan berbagai cara, dengan harapan terjadi percakapan singkat yang bisa direkam. Sampel suara tersebut kemudian dianalisis oleh sistem AI, yang dalam hitungan detik mampu mempelajari karakteristik suara, seperti nada, kecepatan bicara, dan emosi.
Selanjutnya, data suara ini digunakan untuk melatih model deep learning agar mampu meniru suara target secara akurat.
Setelah proses pelatihan selesai, AI dapat menghasilkan suara baru berdasarkan teks yang dimasukkan dengan meniru pola suara yang telah dipelajari.
Lalu, apa yang harus dilakukan ketika Anda sudah masuk dalam perangkap peretas?
Jika Anda menjadi korban, langkah pertama adalah tetap tenang dan segera mengumpulkan seluruh bukti terkait penipuan, seperti rekaman, tangkapan layar pesan, atau riwayat panggilan.
Setelah itu, buat laporan resmi ke kantor kepolisian terdekat atau unit siber dengan membawa seluruh bukti yang ada.
Selain itu, segera beri tahu keluarga, kerabat, rekan kerja, serta orang-orang terdekat agar mereka waspada dan tidak menjadi korban penyalahgunaan suara Anda.
Untuk mencegah hal ini terjadi Anda bisa mengikuti langkah-langkah di bawah ini.
Pertama, terapkan mekanisme verifikasi tambahan, seperti penggunaan kode sandi atau kata kunci rahasia yang hanya diketahui oleh keluarga atau lingkungan internal.
Kedua, kurangi kebiasaan mengunggah rekaman suara atau pesan suara di media sosial maupun platform digital lainnya.
Ketiga, tingkatkan edukasi dan kesadaran publik mengenai modus penipuan kloning suara serta tanda-tanda peringatannya, seperti permintaan yang bersifat mendesak dan kualitas audio yang terdengar janggal.
Terakhir, langkah paling sederhana namun efektif adalah menghindari mengangkat panggilan dari nomor yang tidak dikenal. (Nur Amalina)