Bisnis.com, BOGOR — Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) Bogor - Ciawi - Sukabumi (Bocimi) yakni PT Trans Jabar Tol (PT TJT) memproyeksi volume lalu lintas harian bakal meningkat hingga 20% selama periode Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.
General Manager Operasi PT Trans Jabar Tol, Said Sudiarto menjelaskan bahwa pihaknya memproyeksi total kendaraan melintas pada periode Nataru akan mencapai 40.000 kendaraan per harinya.
"Trafik untuk masa-masa liburan itu ya peningkatannya 20%. Trafik itu kita perkirakan kisaran sampai dari 35.000 sampai 40.000 kendaraan," ujarnya saat ditemui di kantor PT TJT, Kamis (11/12/2025).
Sejalan dengan hal itu, dia mengaku pihaknya telah menyiapkan sejumlah rencana umum dan strategi penanganan lalu lintas. Di antaranya menempatkan petugas pada lokasi titik rawan kepadatan.
Kemudian, menyiapkan posko Nataru Tahun 2025/2026 berlokasi di GT Parungkuda. Melakukan pengaturan lalu lintas di akses GT Cigombong 1 dan akses GT Parungkuda, serta melakukan pengaturan lalu lintas dengan rekayasa lalu lintas apabila ada kepadatan atas diskresi PJR dan Polres Sukabumi.
Selanjutnya pengamanan kamtibmas dititikberatkan pada lokasi-lokasi rawan gangguan, memastikan kendaraan pelayanan lalu lintas dalam kondisi yang layak operasi, dan melakukan percepatan distribusi informasi (VMS & CCTV).
"Apabila terjadi kepadatan di Akses Parungkuda maka lalin akan dialihkan melalui GT Cigombong 1 atas diskresi PJR dan Polres Sukabumi," pungkasnya.
Pada saat yang sama, Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) memastikan kesiapan infrastruktur dan layanan operasional pada ruas Tol Bocimi.
Kepala BPJT Wilan Oktavian menyampaikan bahwa mekanisme rekayasa di Tol Ciawi–Sukabumi akan disesuaikan dengan kondisi di lapangan. Rekayasa lalu lintas disiapkan mengikuti diskresi PJR dan Polres Sukabumi.
"Selama periode Nataru, kami menyiapkan berbagai opsi manajemen lalu lintas, namun khusus Jalan Tol Ciawi–Sukabumi tidak diberlakukan skenario contra-flow. Sebagai gantinya, akan diterapkan manajemen traffic antara GT Parungkuda yang dikombinasikan dengan GT Cigombong untuk menjaga kelancaran arus," jelasnya.
Dia menjelaskan bahwa keputusan tidak menerapkan contra-flow dipengaruhi oleh pekerjaan infrastruktur yang belum sepenuhnya selesai. Di mana, saat ini terdapat pekerjaan penambahan lajur Jalur B Km 43–46 yang belum bisa dimanfaatkan untuk periode Nataru 2025.